Lima Tahap Melewati Krisis dan Duka CIta

Lima Tahap Melewati Krisis dan Duka CIta

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

Setiap manusia ataupun komunitas, selalu berpeluang mengalami kerentanan atau menghadapi krisis dalam kehidupannya. Andai boleh memilih, tentu kita tidak mau mengalami krisis atau kerentanan. Pada umumnya manusia menghendaki kehidupan yang linear, yaitu selalu lebih baik dari waktu ke waktu. Hari ini lebih baik kondisinya daripada hari kemaren, dan besok kondisinya lebih baik daripada hari ini, begitu seterusnya.

Namun seringkali krisis hadir bukan sebagai pilihan. Krisis hadir sebagai realitas keadaan, atau sebagai “paksaan“ yang mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, rela atau tidak rela, harus terjadi dalam kehidupan manusia. Seperti yang tengah dihadapi banyak manusia di dunia akhir-akhir ini, dengan mewabahnya pandemi corona —yang entah akan berlangsung hingga berapa lama. Tak ada satupun manusia sehat jasmani rohani, yang memilih hidup dengan pandemi wabah.

Satu video unggahan netizen, menggambarkan petugas TNI tengah patroli sekaligus melakukan eduksi kepada warga masyarakat agar berhati-hati dan tinggal di rumah selama masa wabah. Petugas mendatangi seorang lelaki yang tengah berjualan makanan malam hari. Ia meminta agar untuk sementara tidak berjualan dulu, sampai kondisi lebih aman. Lelaki ini dengan lugu bertanya kepada petugas, “Biasanya virus corona itu keluar jam berapa?“ Ia bertanya sesungguhnya, karena tidak tahu dan ingin tahu jawabannya.

Silakan simak dahulu cuplikan dialog berikut.

Dialog itu mencerminkan situasi ketidakpastian, yang jika berlangsung dalam waktu lama dan berlarut-larut, bisa menjadi krisis bagi sebagian warga masyarakat. Mereka tidak bisa bertahan hidup jika tidak berjualan setiap hari. Maka wabah corona bisa memunculkan sangat banyak krisis bagi banyak kalangan.

Tahap Melewati Krisis dan Kedukaan

Respon manusia ketika melewati situasi kedukaan atau krisis sangat beragam. Setiap orang bisa berbeda, baik dalam pola, situasi maupun durasi waktu yang diperlukan sampai bisa keluar dari situasi krisis tersebut. Meski demikian, ada pola umum yang biasa terjadi pada kebanyakan manusia, yang oleh Kubler-Ross (1969) dikemas dalam teori “The Five Stages of Grief”.

Setelah mengalami suatu krisis atau kedukaan, respon umumnya manusia dimulai dengan penyangkalan (denial), marah (anger), tawar-menawar (bargaining), depresi (depression) dan penerimaan (acceptance). Sebagai contoh, saya ambil kejadian yang mudah untuk dipahami, seorang perempuan kehilangan suami yang sangat dicintai, karena sang suami meninggal dunia lantara kecelakaan. Perempuan itu mengalami kehilangan, atau kedukaan, atau situasi krisis. Sangat berat kehilangan orang yang begitu dicintai.

Respon umumnya, ia akan melewati lima tahap kedukaan berikut.

  1. Tahap Penyangkalan (Denial)

Pertama kali mendengar berita suaminya meninggal dunia, ia tidak percaya. Perempuan ini menganggap berita itu sebagai mustahil atau hoax. “Tadi pagi saja masih bercanda dengan saya, dan berangkat ke kantor dalam keadaan sehat wal afiat. Tidak mungkin ia mati secepat itu”. Ini yang disebut sebagai denial. Ia menyangkal atau mengingkari realitas yang telah terjadi. Pada saat itu ia tengah mengalami guncangan perasaan yang hebat.

Setelah ia ke rumah sakit dan menyaksikan sendiri jenazah suaminya, ia semakin terpukul. “Tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi”. Pada tahap ini seseorang tidak mampu berpikir jernih tentang apa yang seharusnya ia lakukan. Ia tidak siap menerima kondisi kehilangan yang dihadapinya. Oleh karenanya tahap pengingkaran ini merupakan tahap yang sangat tidak nyaman dan situasi yang sangat menyakitkan.  Bahkan hingga menjelang penguburan jenazah, perempuan ini menangis histeris sambil mengatakan, “Tidak, ia tidak mati”.

Reaksi fisik yang terjadi pada tahap ini bisa beragam. Umumnya seseorang akan merasakan keletihan yang amat sangat, lemah, pucat, mual, diare, sesak napas, detak jantung cepat, menangis, gelisah dan sebagainya. Tahap ini dapat berlangsung hanya dalam hitungan beberapa menit saja, namun bisa pula berlangsung sampai beberapa tahun. Tergantung seberat apa kedukaan atau krisis yang dihadapi, dan sekuat apa pribadi yang mengalami.

  1. Tahap Marah (Anger)

Setelah semakin menyadari bahwa suaminya benar-benar sudah meninggal, bahkan sudah selesai pemakaman, respon berikutnya adalah marah (anger). Kemarahan yang dialami oleh orang yang mengalami kedukaan, bisa terekspresikan dalam berbagai bentuk. Pada contoh perempuan tersebut, mungkin ia segera menyalahkan diri sendiri, atau menyalahkan orang lain yang dianggap bertanggung jawab atas kematian suaminya.

“Ini semua salahku. Andai saja aku tadi tidak membolehkan ia naik motor, mungkin akan selamat,“ ini contoh kemarahan dengan menyalahkan diri sendiri.

“Ini semua gara-gara pihak Rumah Sakit yang sangat lamban memberikan pertolongan. Harusnya pasien kecelakaan seperti itu diutamakan“, ini contoh kemarahan dengan menyalahkan orang lain.

“Saya akan tuntut pihak manajemen Rumah Sakit. Ini jelas-jelas kesalahan“, ini contoh kemarahan disertai tuntutan.

“Saya akan viralkan di medsos, kelalaian Rumah Sakit yang menyebabkan suami saya meninggal dunia“.

Dalam kondisi anger ini, seseorang tidak bisa menerima nasihat. Baginya, nasihat adalah sebentuk pengadilan (judgement) yang membuatnya menjadi lebih tidak nyaman. Misalnya, ketika seorang teman mencoba menasihati, “Sudahlah Bu, yang sabar… Ikhlaskan saja, toh semua sudah terlanjur terjadi“. Nasihat baik seperti dianggap sebagai penghinaan. “Apa kamu kira rela suamimu mati terlantar seperti itu? Enak saja kamu bilang sabar sabar…“

Reaksi fisik yang biasa terjadi pada tahap kedua ini antara lain wajah merah, denyut nadi semakin cepat, gelisah berkepanjangan, susah tidur dan tangan mengepal. Sebagaimana tahap pertama, tahap kedua ini bisa terjadi hanya dalam beberapa menit saja, namun bisa pula berlanjut sampai beberapa tahun. Tergantung seberat apa kedukaan atau krisis yang dihadapi, dan sekuat apa pribadi yang mengalami.

  1. Tahap Tawar Menawar (Bargaining)

Jika perempuan tersebut telah mampu mengekspresikan semua kemarahannya, maka ia segera memasuki tahap ketiga, tawar menawar. Kemarahan sudah mereda, ia mulai bisa berpikir lebih tenang, namun kedukaan belum berakhir. Pada tahap ini seseorang berpikir, andai saja ia dapat menghindari kedukaan itu, atau dapat menunda kedukaan itu, atau dapat kembali kepada keadaan sebelum kedukaan.

“Andai saja ia naik angkutan umum, tentu ia tidak akan kecelakaan”, ini contoh respon menawar kejadian kedukaan.

“Kalaupun suamiku harus mati, kenapa harus sekarang di saat anak-anak masih kecil dan membutuhkan sosok ayah”, ini contoh respon menunda kejadian kedukaan.

“Andai saja Allah selamatkan suamiku, aku akan lebih tekun beribadah”, ini respon menawar terhadap takdir.

Pada dasarnya, bargaining yang dilakukan orang yang mengalami kedukaan, tidak akan mengubah keadaan yang sudah terlanjur terjadi. Namun tahap ini menandakan telah berlalunya penolakan dan kemarahan, disertai menawar “andai saja kedukaan ini tidak terjadi padaku”.

  1. Tahap Depresi (Depression)

Perempuan tersebut semakin menghayati makna kehilangan suami. Ia merasa bergaining yang ia lakukan tidak mengubah keadaan. Maka ia mulai mengalami depresi, yang bisa ditunjukkan dengan sikap menarik diri, tidak mau berbicara, muncul ketakutan, perasaan tidak menentu dan rasa putus asa. Di saat berada pada tahap pertama dan kedua, seseorang banyak mengungkapkan kekecewaan dan kemarahan kepada setiap orang yang dijumpai. Namun di tahap keempat, ia mulai enggan berbicara, dan merasa tidak ada lagi gunanya bicara.

“Rumah Sakit malah menyalahkan aku. Mereka benar-benar tidak mengerti esensi tuntutanku”, ini respon putus asa.

“Semua orang tidak mengerti maksudku. Mereka tidak mau mendengar protesku”, ini contoh respon menarik diri.

“Rasa-rasanya lebih baik aku mati saja. Tak ada lagi gunanya hidup tanpa suami”, ini contoh respon depresi.

Seseorang yang berada pada tahap keempat ini sebenarnya sudah mulai menerima kedukaan yang terjadi sebagai kenyataan yang harus dihadapi. Namun ia tidak sanggup untuk bersikap tegar, karena merasa semua tuntutan, kekecewaan, kemarahan dan bahkan bergaining yang ia lakukan, tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Gejala yang biasa muncul di tahap ini adalah malas makan, susah tidur, kehilangan gairah hidup, cepat letih dan bahkan disorientasi. Ia menjalani hidup tanpa gairah, dan ditunjukkan dengan sikap yang cuek dan apatis. Suasana ini bisa berlangsung dalam hitungan hari, hingga hitungan tahun.

  1. Tahap Penerimaan (Acceptance)

Berada dalam suasana depresi berkepanjangan, membuat seseorang mengalami kelelahan dan kebosanan. Hidup hanya begini begini saja, mengapa tidak mencoba hidup dengan membangun harapan baru? Perempuan tersebut mulai menyadari bahwa hidup harus terus berlanjut, anak-anak membutuhkan bimbingan dan teladan dari dirinya. Maka ia mulai mencari makna baru dari kedukaan yang telah terjadi.

Pikiran yang selalu terpusat pada kedukaan atau suami yang telah meninggal dunia, akan mulai berkurang atau bahkan menghilang. Perempuan itu telah menerima kenyataan bahwa suaminya benar-benar telah menghadap Allah Ta’ala dan ia harus merelakan itu semua. Ia tidak lagi mengungkit tentang kesalahan Rumah Sakit, atau gugatan kepada pihak manajemen, dan berbagai kemarahan yang pernah ada di tahap kedua. Ia merasa, itu semua sudah tidak ada gunanya. Perhatiannya kini mulai diarahkan kepada hal-hal baru yang mengasyikkan bagi dirinya.

“Mau menangis sekuat apa, mau protes sekeras apa, mau berontak sehebat apa, suamiku tidak akan bisa lagi kembali“. Ini menandakan sudah sepenuhnya menerima kenyataan yang terjadi.

“Lebih baik aku fokus mengurus anak dan merintis usaha baru“. Ini contoh penerimaan yang total dan disertai membangun harapan baru.

Ini merupakan antiklimaks dari seluruh respon terhadap kedukaan atau krisis yang menimpa manusia. Seberat apapun kedukaan, sedalam apapun krisis, sebanyak apapun kehilangan, pada akhirnya manusia akan sampai kepada kesimpulan yang paripurna, bahwa kedukaan itu harus ia terima.

Perbedaan Respon Manusia

Meskipun telah ditulis teorinya, namun Kubler-Ross menyatakan bahwa tidak semua individu akan melalui tahap-tahap tersebut, baik dari segi urutan tahap, ada atau tidak adanya tahap tertentu, juga dari segi waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh tahap kedukaan. Ada manusia yang penuh melewati lima tahap tersebut, ada yang hanya tiga atau empat tahap, bahkan ada yang tidak mengalami sama sekali, karena langsung berada dalam tahap penerimaan.

Semestinya umat muslim tidak perlu melewati lima tahap kedukaan tersebut. Ada faktor value yang sangat kuat, yang menuntun umat Islam untuk bersikap ridha, sabar, tawakal dan berserah diri kepada Allah dalam semua kondisi. Tidak perlu berlama-lama apabila menghadapi sitauasi denial, anger, bergaining dan depression. Jika perlu, lompati itu semua, karena ummat muslim selalu meyakini keadilan dan kasih sayang Allah. Tidak perlu membuang waktu untuk bersedih, kecewa, marah dan tidak menerima takdir Allah.

Sebagai manusia beriman, kita ridha dengan segala ketetapan Allah atas makhluk. Kewajiban manusia adalah melakukan usaha terbaik, disertai keikhlasan, ketaatan kepada aturanNya, meninggalkan laranganNya, selalu berdoa kepadaNya, dan akhirnya bersikap tawakal, menyerahkan semua hasil kepada Allah yang Maha Kuasa. Ridha dengan pemberian, ridha dengan karunia, ridha dengan ketetapan Allah. Inilah hakikat acceptance, yang menjadi tahap kelima kedukaan.

Menghadapi Wabah Corona

Pandemi corona saat ini, tidak ada satupun ahli yang bisa memastikan kapan akan berakhir. Sebagaimana situasi ini tidak ada yang memprediksi sebelumnya, maka tidak ada pula yang mampu memprediksi akhirnya. Jika wabah ini terus bertahan dan bahkan semakin menimbulkan semakin banyak korban, maka #StayAtHome, #SocialDistancing, dan berbagai tindakan pencegahan lainnya masih akan berlangsung dalam waktu lama.

Suasana krisis akan semakin nyata. Suasana kedukaan akan semakin mendalam. Memahami lima tahap Kubler-Ross ini membuat kita mengerti bahwa pada dasarnya, semua kedukaan akan berujung pada penerimaan. Dan ujung itu sesungguhnya sudah menjadi sikap hidup orang beriman. Maka mengapa kita harus memelihara denial, anger, bergaining dan depression? Mengapa kita tidak langsung bersikap acceptance saja, disertai membangun harapan kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang.

Semoga pandemi segera berakhir. Semoga kehidupan segera kembali normal. Ya Allah, selamatkan dan lindungi kami semua. Aamiin.

 

Bahan Bacaan :

Christina Gregory, Ph.D., The Five Stages of Grief, An Examination of the Kubler-Ross Model, dalam : https://www.psycom.net/depression.central.grief.html, April 2019

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan