Lockdown 640 M

Lockdown 640 M

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Suatu ketika, Khalifah Umar bin Khattab hendak berkunjung ke Syam. Sesampai di Saragh, pimpinan pasukan datang menyambutnya. Mereka mengabarkan kepada Khalifah bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam.

Khalifah melakukan musyawarah dengan berbagai pihak secara bergantian. Dalam beberapa kali sesi musyawarah, selalu terdapat perbedaan pendapat dalam menyikapi situasi wabah tersebut.

Hingga akhirnya Khalifah memerintahkan, “Panggil ke sini pemimpin-pemimpin Quraisy yang hijrah sebelum penaklukan Makkah”.

Setelah yang dimaksud hadir dan diajak musyawarah, ternyata mereka memiliki pendapat yang sama, tidak ada perbedaan. “Kami berpendapat, sebaiknya Anda pulang kembali bersama rombongan, dan jangan menghadapkan mereka kepada wabah ini”.

Khalifah segera menyerukan kepada rombongan, “Besok pagi-pagi aku akan kembali pulang. Karena itu bersiap-siaplah kalian”.

Abu ‘Ubaidah bin Jarrah bertanya, “Apakah kita hendak lari dari takdir Allah?”

“Ya, kita lari dari takdir Allah (yang satu) untuk menuju kepada takdir Allah (lainnya). Bagaimana pendapatmu, seandainya engkau mempunyai seekor unta, lalu engkau turun ke lembah yang mempunyai dua sisi. Yang satu subur dan yang lain tandus. Bukanlah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, engkau menggembala dengan takdir Allah juga, dan jika engkau menggembala di tempat tandus engkau menggembala dengan takdir Allah?”

Di tengah perbincangan Umar dengan Abu Ubaidah, datanglah Abdurrahman bin ‘Auf. Ia berkata, “Aku mengerti masalah ini. Aku mendengar Rasulullah bersabda: Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.” (HR. Muslim no. 4114).

Peristiwa itu terjadi pada tahun ke 18 H atau sekitar 640 M. Saat itu sudah dikenal kebijakan lockdown, mungkin peristiwa pertama yang dialami para sahabat besar seperti Umar bin Khathab. Wajar jika pada awalnya terdapat banyak perbedaan pendapat dalam menyikapi situasi wabah. Namun setelah keputusan diambil, semua taat kepada Khalifah. Keputusan tersebut ternyata benar, sesuai arahan Nabi saw sebagaimana disampaikan oleh sahabat Abdurrahman bin ‘Auf.

Mereka adalah para sahabat Nabi yang utama, yang sangat yakin dengan firman Allah Ta’ala,

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚوَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.” (QS. At-Taubah : 51)

Mereka adalah para sahabat Nabi yang mulia, yang sangat kuat rasa tawakkal mereka kepada Allah Ta’ala. Mereka adalah para sahabat Nabi yang pemberani, namun sekaligus sangat kuat rasa takut mereka terhadap Allah Ta’ala. Mereka adalah para sahabat Nabi yang perkasa, dan sangat kuat keimanan serta ketaqwaan mereka kepada Allah Ta’ala.

Khalifah tidak mengatakan, “Kita tidak takut kepada wabah. Kita hanya takut kepada Allah”. Namun Khalifah mengatakan, “Kita lari dari takdir Allah (yang satu) untuk menuju kepada takdir Allah (yang lainnya)”.

Khalifah tidak mengatakan, “Kita masuki Syam. Wabah pasti takut terhadap pasukan Islam. Wabah akan hancur jika kita datang”. Namun Khalifah mengatakan, “Besok pagi-pagi aku akan kembali pulang. Karena itu bersiap-siaplah kalian”.

Keputusan Khalifah terbukti benar, sesuai arahan Nabi saw. Lockdown.

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan