Kembali
Ruang Tamu

Makna Waktu Bagi Seorang Penulis

.

Oleh : Slamat Raharjo (Alumni KMO Alineaku Tahun 2021)

“Usaha yang dapat kita tempuh adalah bangun, akhiri mimpi dan menulislah” –Slamat Raharjo, 2022.

.

“Berapa jam waktu yang dimiliki oleh seorang penulis dalam sehari?” Pertanyaan tersebut tentu terasa naif untuk mendapat sebuah jawaban. Tentu mereka memiliki waktu yang sama, 24 jam, 1,440 menit,  86.400 detik dalam sehari. Pas, tidak lebih dan tidak kurang.

Tentu sebanyak itu pula waktu yang Tuhan berikan kepada saya. Kalau dengan waktu yang sama seorang Bamidele mampu menghasilkan 4 hingga 5, bahkan 7 atau malah 10 artikel dalam sehari mengapa saya harus berminggu-minggu menghabiskan waktu untuk menulis sebuah artikel dengan kualitas yang tentu belum dapat dikatakan baik.

Merefleksikan pengalaman pribadi dan belajar dari orang lain, dengan kekayaan pengalaman mereka tentu akan menjadi langkah bijak dalam mengembangkan keterampilan dan produktivitas kita dalam menulis. Tulisan ini akan menjadi sharing pergumulan pribadi dalam memaknai waktu terutama dalam mengasah keterampilan menulis.

Mulailah Menulis

“Betapa sering saya beralasan tidak punya waktu, sibuk ini dan itu, untuk tidak menyelesaikan sebuah tulisan” –Slamat Raharjo, 2022.

“Berhenti bermimpi menjadi penulis, dan mulailah menulis.”  Menjadi penulis tak jarang menjadi impian orang. Tentu menjadi sebuah kebanggaan ketika tulisan kita mengisi halaman-halaman surat kabar, majalah, atau laman website yang dikunjungi banyak pembaca.

Namun semua itu tak pernah akan menjadi kenyataan kalau tetap tinggal menjadi sebuah impian. Maka usaha realistis yang dapat kita tempuh adalah bangun, akhiri mimpi itu dan menulis. Komitmen, kedisiplinan dan konsistensi akan menjadi kunci dalam mewujudkan gagasan menjadi sebuah tulisan.

Ada begitu banyak peristiwa, pengalaman, gagasan, ide yang hanya kita biarkan singgah di benak pikiran, namun tidak segera dituangkan dalam tulisan. Maka tak jarang semua peristiwa, pengalaman, gagasan, ide itu pun akan berakhir seperti mimpi setelah kita terbangun dari tidur. Yang tersisa adalah kegelisahan, di saat kita berusaha mengais-ngais kembali makna untuk kita wujudkan.

Maka jika ingin menjadi penulis, harus mampu menempatkan menulis sebagai prioritas dalam segala aktivitas hidup kita. Betapa sering saya beralasan tidak punya waktu, sibuk ini dan itu untuk tidak menyelesaikan sebuah tulisan.

Victoria Lynn Schmidt, Ph.D. seorang akademisi dan penulis yang sangat produktif mengungkapkan, “ Ketika anda mengatakan anda tidak memiliki waktu (untuk menulis), sesungguhnya yang anda katakan adalah sesuatu yang lain itu lebih penting dari pada menulis.” Maka ketiadaan waktu sebagai alasan untuk tidak menulis dapat diatasi dengan menempatkan menulis sebagai sebuah prioritas dalam hidup.

Membangun Kesadaran Menulis

“Memaknai waktu dalam perspektif seorang penulis adalah menghidupi inspirasi untuk semakin peka menangkap berbagai ide dan gagasan melalui pengalaman dan menuangkannya dalam sebuah tulisan” –Slamat Raharjo, 2022.

Menempatkan kegiatan menulis sebagai prioritas akan dapat terbangun jika kita memiliki hasrat yang kuat untuk menulis. Guna membangun hasrat yang kuat dalam menulis setidaknya ada tiga hal yang perlu dibangun dalam kesadaran kita.

Pertama, temukan makna terdalam (meaning) dari menulis. Jhon F. Kennedy Presiden Amerika Serikat ke-35 pernah menulis, “ Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya.” Selain memperkuat hasrat penulis, makna juga dapat menjadi roh yang menghidupi sebuah tulisan.

Kedua, rumuskan tujuan kita menulis secara jelas. Semakin mampu kita mendefinisikan tujuan kita menulis makan akan semakin kuat pula hasrat kita untuk (menyelesaikan) menulis. Dan aspek ketiga untuk membangun hasrat menulis adalah kebermanfaatan (benefit) menulis baik bagi diri sendiri maupun orang lain yang membaca tulisan tersebut.

Merumuskan target secara eksplisit dan berusaha disiplin memenuhinya akan menjadikan kita semakin produktif. Target tersebut dapat dirumuskan misalnya seberapa lama kita akan mengkhususkan waktu untuk menulis setiap hari. Atau kita dapat merumuskan berapa banyak kata atau halaman tulisan yang harus kita selesaikan sebagai target harian.

Joanna Penn, penulis buku Stone of Fire dan lebih dari 30 buku lainnya selalu bangun pukul 5 pagi dan menulis selama satu jam sebelum ia melanjutkan pekerjaan lainnya. Sedangkan Haruki Murakami, seorang novelis dari Jepang membiasakan diri menulis sebanyak 10 halaman setiap hari untuk membangun habit menulis.

Saya ingat sebuah tantangan 30 hari menulis yang ditawarkan oleh Grup Sahabat Menulis Alineaku di laman Facebook. Saya membayangkan kalau dalam tantangan tersebut setiap hari saya bisa menulis sebuah cerita pendek, maka dalam satu bulan saya bisa menerbitkan sebuah antologi cerpen.

Namun kenyataanya tidak banyak yang mampu menyelesaikan tantangan tersebut. Kegagalan yang saya alami dalam tantangan tersebut terutama adalah kegagalan untuk membangun kedisiplinan. Kegagalan memanfaatkan waktu yang telah Tuhan berikan.

Waktu adalah Inspirasi

“Kegagalan yang saya alami dalam tantangan tersebut terutama adalah kegagalan untuk membangun kedisiplinan. Kegagalan memanfaatkan waktu yang telah Tuhan berikan” –Slamat Raharjo, 2022.

Sebagai penutup tulisan ini saya ingat sebuah pameo yang sering terlontar di antara kami saat masih duduk di bangku SMA tahun 1980-an. Sekolah kami memiliki beberapa jurusan di antaranya ekonomi (A3) dan Sastra dan Budaya (A4). 

Pada waktu itu sering timbul selorohan di antara kami dalam memaknai waktu. Bagi teman-teman jurusan ekonomi waktu adalah kalkulasi, karena mereka harus belajar berbagai penghitungan akutansi keuangan.

Sedangkan bagi kami jurusan sastra dan budaya, waktu adalah inspirasi. Mengapa demikian? Karena kami harus mempelajari berbagai ide, gagasan, bahasa dan berbagai bentuk karya sastra yang akan menjadi citarasa budaya sebuah bangsa. 

Memaknai waktu dalam perspektif seorang penulis adalah menghidupi inspirasi untuk semakin peka menangkap berbagai ide dan gagasan melalui pengalaman dan menuangkannya dalam sebuah tulisan. Originalitas gagasan dan kejelasan pesan yang ingin disampaikan dengan bahasa penuh keadaban akan menjadi buah kedisiplinan dalam membangun pembiasaan (habit) penulisan. ****

.

Slamat Raharjo, lahir di Tunggul Jawa Timur, 24 Juli 1971. Mengabdi sebagai guru Pendidikan Agama Katolik Sekolah Dasar di Samigaluh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Nomor HP / WA     085801310800. Email :      slamatraharja7@gmail.com

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.