MATIKAN TV, HIDUPKAN AKAL SEHAT DAN HATI NURANI

MATIKAN TV, HIDUPKAN AKAL SEHAT DAN HATI NURANI

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Hari ini —Ahad 26 Mei 2019— saya tersentak oleh postingan sahabat saya, Vida Robi’ah Al Adawiyah di laman facebooknya, yang mengajak untuk mematikan TV dan menghidupkan akal sehat dan hati nurani. Membaca isi postingan mbak Vida yang tampak geram dengan ‘kekuasaan’ stasiun TV, saya langsung teringat dengan buku yang sempat saya kunyah-kunyah pada saat saya masih muda dulu.

Ya, bukunya Neil Postman, berjudul Amusing Ourselves to Death, yang diterjemahkan dengan judul Menghidur Diri Sampai Mati, terbit di Indonesia tahun 1995. Tentu saya masih muda waktu itu, dan membaca serta melahap buku dengan penuh semangat. Buku yang menguatkan keputusan keluarga saya untuk “TV Turn Off”, dan membuat saya terbelalak membaca analisa Postman —guru besar Ilmu Komunikasi pada NewYork University— tentang televisi yang sedang hits di zaman itu.

Buku itu saya baca entah sudah berapa kali, namun sayang, sekarang sudah hilang entah dibawa siapa. Beruntung saya sempat mencatat beberapa bagian darinya.

Di antara hal yang masih saya ingat dan saya catat dari pernyataan Postman adalah, ketika dia menyebut informasi melalui layar televisi sebagai “pseudo-konteks”, yaitu struktur yang diciptakan untuk membuat informasi yang terpecah belah dan tidak relevan, menjadi kelihatan berguna. Menjadikan sesuatu yang tidak penting menjadi tampak penting, dan sebaliknya.

Postman menyatakan, “Baik sejarahnya maupun segala potensinya menunjukkan bahwa layar televisi tidak dapat duduk berdampingan dengan perenungan maupun pengalaman spiritual. Layar televisi menuntut anda untuk mengingat bahwa pencitraan yang dikandungnya akan selalu siap untuk menyenangkan dan menghibur anda”. Artinya, televisi tak lebih dari sekedar kotak penghibur.

Inilah postulat Postman: bahwa satu-satunya kegunaan televisi adalah untuk menghibur. Tak lebih dari itu.

Hiburan merupakan harapan terakhir dari suatu peradaban yang dikuasai oleh irelevansi, inkoherensi, dan impotensi. Bahkan hiburan telah menjadi supra-ideologi yang menuntun bagaimana setiap informasi harus dikemas. Menurut Postman, melalui televisi, semua orang terjebak dalam dunia hiburan : pejabat, politikus, dosen, peneliti, dan siapapun —bahkan kalangan ruhaniawan. Mereka harus mengolah tampilan dirinya, gaya bicaranya, sampai isi pembicaraannya, untuk menghibur. Mereka yang tidak mampu menghibur, niscaya akan kehilangan fans, sehingga tersingkir dari media televisi.

Budaya televisi, adalah budaya yang merayakan remeh-temeh, di mana kehidupan sekedar dimaknai sebagai arus hiburan tanpa henti. Dan ketika masyarakat menjadi sekelompok pemirsa dan urusan publiknya menjadi sebuah pertunjukan, maka sebuah negara akan tiba di tepi jurang kematian kebudayaan. Karena ketika suatu budaya bergeser dari tradisi lisan ke tulisan dan kemudian televisi, gagasan-gagasan yang dianutnya mengenai konsep kebenaran ikut bergeser.

Inilah salah satu alasan yang membuat Emha Ainun Nadjib menolak untuk mengisi acara di stasiun televisi. Cak Nun melihat, televisi berperan besar dalam menciptakan budaya “ketenaran menjadi kebenaran”. Siapapun yang tampil di televisi, tiba-tiba menjadi kebenaran. Quotes dan ucapan di televisi, menjadi rujukan. Padahal sesungguhnya tayangan televisi tak lebih dari sekedar hiburan, karena sudah melalui proses dan struktur kapitalis. Inilah contoh pergeseran konsep kebenaran tersebut.

Tak heran, dengan sifat medium yang seperti itu, Postman menganggap tayangan televisi adalah pembodohan. “Dalam bingkai surealis siaran berita televisi terpatri suatu diskursus yang mengabaikan logika, akal sehat, keruntutan, dan aturan kontradiksi sehingga dapat dianggap sebagai suatu teori anti-komunikasi”.

Bahkan, dalam kaitan dengan harapan masyarakat agar televisi menyajikan acara yang memperbaharui kehidupan ruhani, Neil Postman mengatakan, “Layar televisi memiliki bias yang condong kepada sekularisme. Layarnya begitu padat dengan ingatan kita akan hal-hal yang najis, begitu dekat dengan dunia komersial dan hiburan sehingga sulit untuk menjadikannya bingkai bagi peristiwa relijius”.

“Di antaranya”, lanjut Postman, “Para pemirsa selalu sadar bahwa hanya dengan menekan tombol ia akan dapat mengubah isi layar untuk menayangkan hal-hal sekuler seperti sebuah permainan hockey, iklan televisi dan film kartun. Bukan hanya itu, tetapi juga program keagamaan di televisi akan diinterupsi oleh iklan, potongan acara berikut, dan segala macam citra dan diskursus sekuler, sehingga pesan utamanya adalah janji hiburan berkesinambungan”.

Televisi bukan hanya mempengaruhi sikap dan perilaku manusia dalam hidup sehari-hari, tetapi bahkan sanggup menghancurkan kebudayaan manusia itu sendiri. Postman menguraikan proses hancurnya sebuah kebudayaan yang menghargai intelektual, rasionalitas dan perbincangan serius yang dibangun lewat tipografi.

“Dalam suatu budaya yang didominasi oleh media cetak”, kata Postman, “diskursus publik cenderung diwarnai oleh susunan fakta dan gagasan yang rapi dan logis. Namun budaya yang dfidominasi oleh televisi telah mengubah diskursus publik tentang segala macam topik yang serius dan rapi tersebut menjadi sekedar hiburan dan bersifat fragmentatif”.

“When a population becomes distracted by trivia, when cultural life redefines as a perpetual round of entertainments, when serious public conversation becomes a form of public talk, when, in short, a people become an audience, and their public business a vaudeville act, then a nation finds itself at risk; culture-death is a clear possibility,” demikian tulis Neil Postman.

Maka masih selalu relevan ajakan seperti yang disampaikan oleh mbak Vida untuk mematikan televisi. Sebab televisi tidak didesain untuk hal-hal yang benar dan serius. Namun didesain untuk merayakan remeh-temeh, membuat sesuatu yang tidak penting menjadi tampak penting, dan membuat sesuatu yang penting menjadi tidak penting. Itulah pseudo-konteks, termasuk tayangan semua stasiun televisi Indonesia, terutama pasca Pemilu dan Pilpres 2019 ini.

Para pemilik stasiun televisi dan para user, sadar sepenuhnya akan irasionalitas ini. Bahwa semua yang ditayangkan televisi adalah kebenaran. Apalagi ketika disiarkan berulang-ulang.

Maka stop menonton siaran TV. Matikan TV mainstream. Hidupkan akal sehat dan hati nurani.

 

 

Bahan Bacaan :

Neil Postman, Menghibur Diri Sampai Mati: Mewaspadai Media Televisi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1995

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan