Kembali
Dunia Penulis

Melacak “Gen Literasi” dalam Keluarga Saya

.

Oleh: Cahyadi Takariawan

“Genetics and inheritance do have some influence on the abilities and talents that our children will inherit. New research has confirmed that inheritance doesn’t only happen through DNA though, but also through epigenetic inheritance. This means that a parent’s experiences can be passed down to their children too” –Fedhealth, 2014.

Arthur Schopenhauer, seorang filsuf asal Jerman meyakini, bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh faktor hereditas. Para penganut aliran nativisme percaya, perkembangan anak telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir atau pembawaan.

Mereka melihat pola anak dan orangtua, yang ditemukan sangat banyak kesamaan fisik maupun psikis. Hereditas dianggap merupakan faktor pertama yang memengaruhi perkembangan individu. Hereditas dipahami sebagai segala potensi, baik fisik maupun psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi sebagai pewarisan dari pihak orangtua melalui gen.

Dalam perspektif ini, perkembangan setiap anak dipengaruhi salah satunya oleh bakat. Setiap anak memiliki berbagai macam bakat yang diwariskan orangtua, seperti bakat musik, seni, berhitung, menulis, dan lain sebagainya. Bakat tidak hanya berasal dari orang tua, tapi juga dari nenek moyang atau garis keturunan ke atas.

Sebuah analisa diunggah dalam web Fedhealth (2014) terkait pewarisan bakat. “Genetika dan warisan memang memiliki pengaruh pada kemampuan dan bakat yang akan diwarisi oleh anak-anak kita. Penelitian telah mengkonfirmasi bahwa pewarisan tidak hanya terjadi melalui DNA, tetapi juga melalui pewarisan epigenetik. Artinya, pengalaman orang tua juga bisa diwariskan kepada anak-anaknya”.

Selanjutnya, bagaimana bakat itu bisa bekerja? “Jika kedua orang tua adalah musisi misalnya, maka kemungkinan besar anak mereka akan mewarisi bakat alami untuk memainkan alat musik atau menyanyi. Namun, jika seni itu tidak diajarkan kepada anak atau sering digunakan dan dipraktikkan, maka itu mungkin juga tidak berguna. Jadi ketika berbicara tentang genetika manusia dan bakat khusus, ini adalah kasus “gunakan atau hilangkan!” demikian laporan dalam web Fedhealth.

Jika menggunakan rujukan di atas, maka kita bisa mengamati bakat dan potensi yang kita miliki, lalu coba dicocokkan dengan jalur ke atas kita. Jika Anda merasa memiliki bakat atau potensi melukis, mungkin saja ada jalur ke atas yang memang memiliki bakat itu.

Saya merasa memiliki potensi menulis. Paling tidak sudah saya buktikan dengan menulis banyak buku dan banyak artikel di berbagai blog. Saya tergelitik untuk mencari “gen literasi” yang saya miliki ini berasal dari siapa.

Ramadan kali ini saya menemukan jawabannya. Saya bertanya kepada kakak-kakak, siapakah di antara jalur ke atas yang memiliki potensi literasi. Ternyata yang sangat menonjol ada pada ayah dan kakek dari jalur ayah.

Melacak Gen Literasi: Ayah

“Genetic factors contribute to a large extent to variation in aptitude and talent across different domains of intellectual, creative, and sports abilities” –Anna Vinkhuyzen, 2009.

Soebandi, ayah kandung saya.

Ayah saya terlahir dengan nama Soebandi. Nama setelah tua adalah Subandi Dwijo Siswanto. Ia seorang pegawai negeri sipil yang bertugas sebagai guru Sekolah Dasar. Sosok yang sangat disiplin, jujur dan pekerja keras.

Dalam karier pekerjaannya, ayah saya pernah dipercaya menjadi Kepala Sekolah SD, hingga Penilik SD. Kariernya berakhir di Dinas Pendidikan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, sampai pensiun.

Ayah saya sangat suka membaca. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya buku di rumah ayah. Ada dua buku yang sangat tebal karya Presiden Soekarno, berjudul Di Bawah Bendera Revolusi. Ayah saya sudah tamat berkali-kali buku ini. Ayah memiliki almari kayu berukuran besar, penuh berisi berbagai macam buku.

Di rumah ayah, juga berlangganan beberapa koran dan majalah. Yang rutin harian, ada koran Suara Merdeka –korannya orang Jawa Tengah; dan koran Suara Karya –koran milik pemerintah Golkar.

Ayah juga berlangganan majalah Panyebar Semangat berbahasa Jawa yang terbit tiap bulan. Ayah juga berlangganan kisah bersambung serial Nagasasra Sabuk Inten serta Api di Bukit Menoreh karya SH. Mintardja.

Untuk ukuran zamannya, ayah  tergolong sangat melek literasi. Membaca koran harian, membaca majalah, membaca buku, adalah salah satu aktivitas hidup ayah. Ia betah duduk berlama-lama dengan koran, majalah atau buku di tangannya.

Pada waktu itu, sangat sedikit warga masyarakat di kampung kami yang membaca koran atau majalah –apalagi berlangganan. Mayoritas warga kampung kami adalah petani, yang kurang melek literasi.

Ayah rajin menulis pelajaran filosofi hidup Jawa dengan tulisan tangan menggunakan huruf Jawa, di buku tulis. Menjelang akhir hayatnya, ayah menulis buku autobiografi dirinya, dan dijilid di tempat fotokopi.

Ayah wariskan buku tersebut kepada semua anak cucu. Ayah bercerita dengan sangat detail kisah perjalanan hidupnya melalui buku.

Rupa-rupanya, “gen literasi” dari ayah ini menempel dengan kuat pada diri saya. Sejak kecil, saya sudah sangat senang membaca.

Saat masih SD, saya suka meminjam kunci ruang perpustakaan kepada ibu –yang posisi beliau adalah kepala sekolah SD. Sepulang sekolah, saya masuk ruang perpustakaan dan membaca. Sendirian.

Perpustakaan SD kampung, hanyalah berupa satu almari kecil berisi beberapa buku. Dalam waktu singkat semua buku di perpustakaan itu sudah saya habiskan. Karena tak ada bacaan lain, maka kebiasaan membaca buku di perpustakaan ini menjadi “murajaah” –mengulang membaca buku yang sudah saya baca. Setiap buku pernah saya baca berkali-kali, saking tidak ada lagi yang bisa dibaca.

Melacak Gen Literasi: Kakek

“If both parents happen to be musicians for example, then the chances are that their child will inherit a natural talent for playing a musical instrument or singing. However, if the art is not taught to the child or used and practised often, then it may as well be useless. So when it comes to human genetics and specific talents, it’s very much a case of “use it or lose it!” –Fedhealth, 2014.

Eyang Prawiro Dikromo

Kakek dari jalur ayah saya, terlahir dengan nama Sariman. Nama setelah tua adalah Prawiro Dikromo. Ia adalah tokoh masyarakat di kampung tempat tinggalnya.

“Simbah kakung” saya ini dipercaya sebagai Carik desa Salam, kecamatan Karangpandan, kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Pada saat dirinya menjadi carik, belum ada ketentuan atau persyaratan akademik tertentu.

Setelah pemerintah memberlakukan persyaratan akademik, simbah Prawiro tidak lagi memenuhi kualifikasi. Ada jenjang pendidikan tertentu untuk menempati posisi Carik Desa. Simbah “turun pangkat” menjadi Jogo Tirto atau Kepala Bagian Pengairan di Desa.

Sejak itulah, simbah saya terkenal dengan sebutan Mbah Jogo. Masyarakat desa sangat menghormati Mbah Jogo, bukan sekedar karena beliau perangkat desa. Lebih dari itu, Mbah Jogo sangat kuat laku spiritualnya, dan sangat kuat narasi serta literasi Jawanya. Ini yang menyebabkan posisi beliau sangat diterima di tengah masyarakat.

Rumah kakek saya sangat luas. Ada bagian pendopo di depan, yang bisa menampung banyak orang. Di tempat inilah, terbiasa menjadi pusat kegiatan masyarakat desa.

Pada waktu itu belum ada televisi. Yang ada hanya radio. Mbah Jogo menjadi salah satu tokoh desa yang memiliki radio. Hampir setiap malam, masyarakat berkumpul di rumah Mbah Jogo. Terkadang mendengarkan siaran radio. Namun sangat sering mereka mendengarkan petuah dari simbah.

Mereka berkumpul di rumah kakek saya bukan karena diundang, bukan karena hajatan. Namun karena kebutuhan akan informasi, edukasi dan hiburan. Belum ada penerangan listrik saat itu. Bisa dibayangkan, berkumpul di tempat yang ada penerangan dengan lampu petromaks menjadi sangat menyenangkan.

Hampir setiap malam, kakek saya memberi petuah kepada warga masyarakat yang berkumpul di pendopo rumahnya. Mbah Jogo membaca kitab-kitab karya para leluhur Jawa, dan memberikan “syarah” atau keterangan.

Misalnya, Serat Kalatidha, Serat Centhini, Serat Jaka Lodhang, Serat Hidayat Jati, Jangka Jayabaya, dan lain sebagainya. Kakek menyempatkan diri untuk mencari dan membeli buku-buku ini ke Solo –pusat kota Kerajaan.

Ini sesuatu yang sangat saya kagumi dari kakek. Manusia zaman dulu, yang rela mengeluarkan uang untuk berburu buku. Setelah buku didapat, ia membaca, menelaah dan menyampaikan kepada masyarakat yang rutin datang ke rumahnya. Mbah Jogo menarasikan isi kitab-kitab tersebut dengan penjelasan yang sesuai dengan kondisi masyarakat.

Dua kakak saya, Bambang Dwi Wahyudi dan Agus Tri Kuncoro, yang sering mengikuti majelisnya simbah. Saat itu keduanya masih sekolah SD. Saya belum lahir.

Duduk beralas tikar yang dianyam dari daun pandan, orang-orang menyimak dengan antusias petuah dari simbah. Saya yakin Mbah Jogo memiliki kemampuan “bayan” (penjelasan) yang bagus, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat desa.

Agar lebih bisa menghayati dan mendalami, Mbah Jogo juga menulis ulang isi buku-buku tersebut dengan tangannya. Tulisan tangan beliau sangat rapi dan bagus. Sayang saya sudah tidak bisa membaca tulisan dengan huruf Jawa.

Benar-benar manusia langka di zamannya. Senang berburu buku, senang membaca dan menelaah buku, menulis ulang isi buku, dan akhirnya menarasikan petuah dari berbagai buku untuk tuntunan kehidupan warga masyarakat.

Diduga, kakek saya hanya tamat Sekolah Rakyat (SR) –setara dengan SD di zaman sekarang. Namun tingkat literasinya melebihi sarjana.

Kakek Saya Ternyata Penulis Produktif

Pertemuan Trah berbarengan dengan Syawalan 1444 H kali ini benar-benar saya menfaatkan untuk berburu karya tulis kakek saya, Mbah Jogo. Hari Sabtu 29 April 2023, Trah Prawiro Dikromo berkumpul di rumah keprabon –rumah induk, di mana Mbah Prawiro Dikromo alias Mbah Jogo dulu tinggal dan berkegiatan. Namanya Desa Gedangan, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Saya bertanya kepada para Paman dan kemenakan yang sempat berinteraksi intens dengan Mbah Jogo. Belum terlalu banyak saya menggali, karena hanya di sela-sela waktu pertemuan Trah yang terbatas.

Dari investigasi kecil yang saya lakukan kepada beberapa paman dan kemenakan, saya sudah menemukan titik terang –di mana saya akan mencari sumber-sumber literasi karya kakek. Rupanya tersimpan di beberapa rumah anak turun Mbah Jogo.

Saya semakin terkejut dengan kesaksian Om Timan dan Bulik Sri –pasangan suami istri yang menempati rumah keprabon. Bulik Sri adalah adik ayah saya, yang menjadi anak ragil (terakhir) Mbah Jogo yang masih hidup. Bulik Sri dan suaminya, Om Timan, menjadi salah satu saksi sejarah bagaimana ketekunan Mbah Jogo menulis.

Beliau berdua menjaga Mbah Jogo sampai akhir hayatnya. Dari beliau berdua saya mengetahui bahwa karya tulis Mbah Jogo sangat banyak. Om Timan menyatakan penyesalannya –bahwa setumpuk buku karya tulis Mbah Jogo habis termakan rayap, sekaligus rak kayu yang mewadahinya.

Semenjak Mbah Jogo meninggal dunia, warisan intelektual berupa tulisan tangan beliau, disimpan di rak kayu. Tidak pernah ada yang menyentuhnya. Disimpan saja di almari.

Betapa terkejut Om Timan dan Bulik Sri, saat memeriksa kondisi buku dan rak, semua sudah hancur termakan rayap. Saya ikut sedih, sangat sedih.

Sebagai penulis, saya merasakan betapa sedih saat tulisan kita hilang. Saya pernah kehilangan ratusan tulisan di blog lama yang sudah terblokir dan tak bisa dibuka lagi. Saya tak punya dokumen untuk naskah yang saya posting di blok tersebut.

Saya pernah kehilangan bahan-bahan tulisan buku di laptop, saat laptop saya rusak parah. Lagi-lagi, saya tak punya dokumen bahan-bahan naskah buku tersebut. Hilang begitu saja.

Berapa banyak buku karya Mbah Jogo? Ini pertanyaan saya kepada Om Timan.

“Segini”, kata Om Timan. Tangannya memberi isyarat tingginya tumpukan buku hasil tulisan tangan Mbah Jogo. Saya perkirakan, setinggi satu meter!

Amazing! Saya semakin kagum dengan kakek saya. Bercampur menyesal, karena saya baru mengetahuinya sekarang.

Ternyata kakek saya penulis produktif di zamannya. Di zaman yang belum mengenal penerbitan, di zaman yang belum mengenal internet dan media sosial.

Saya bayangkan, berapa banyak karya tulis kakek saya, berapa lama waktu yang beliau gunakan untuk menulis. Kami, para anak cucu, tidak mampu menjaga warisan intelektual tersebut. Hilang lenyap termakan rayap.

Jika buku tulis ditumpuk sampai setinggi satu meter, bisakah Anda bayangkan berapa banyak tulisan kakek saya? Ini jelas lebih banyak dari buku yang sudah saya tulis hari ini.

Warisan buku tulisan tangan setinggi satu meter itu, baru yang tersimpan di rumah keprabon saja. Belum yang tersimpan di rumah anak-anak dan cucu Mbah Jogo.

Di rumah ayah, saya menemukan empat buku tulis berukuran kecil. Di rumah keprabon sendiri, tinggal tersisa empat buku saja. Beruntung buku itu diserahkan ke saya untuk saya amankan.

Karya yang ditulis kakek saya di buku tulis, dengan bulpen warna biru atau hitam, tampak sangat rapi. Tulisannya indah, rapi dan tampak sangat teliti dan tekun dalam penulisan aksara Jawa.

Saya minta beberapa paman untuk membacakan buku itu. Ternyata mereka sudah tidak bisa membaca tulisan kakek. Hanya bisa membaca judulnya saja.

“Ini menggunakan aksara Jawa gundul, tanpa sandhangan. Persis seperti tulisan Arab gundul, tanpa harakat”, jelas kakak saya –mengapa sulit dibaca. Rupanya diperlukan ilmu dan keahlian tertentu untuk membacanya.

Masih adakah buku-buku tulisan kakek? Saya bertanya kepada kemenakan, yang biasa kami panggil Pak Polet atau Pak Po, apakah di rumahnya tersimpan buku tulis karya Mbah Jogo?

“Ada banyak, pakde”, jawabnya bersemangat.

“Sayangnya, buku-buku itu lengket. Halaman yang satu lengket dengan halaman lain. Kalau kita paksa membukanya, akan membuat sobek kertasnya. Diperlukan cara khusus dan kesabaran untuk bisa membukanya”, jawab Pak Po.

Semakin menarik temuan ini. Saya bangga menjadi cucu dari Mbah Jogo yang produktif menulis. Sesuatu yang amat sangat langka di zamannya.

Saya segera ingat laporan hasil riset yang dilakukan oleh Anna Vinkhuyzen, Sophie Vander Sluis, Danielle Posthuma dan Dorret Boomsma (2009) yang diberi judul “The Heritability of Aptitude and Exceptional Talent Across Different Domains in Adolescents and Young Adults”.

Dalam riset tersebut ditemukan, faktor genetik berkontribusi besar terhadap variasi bakat (aptitude and talent) dalam berbagai bidang kemampuan intelektual, kreatif, dan olahraga.

Saya menjadi mengerti, mengapa saya sedemikian mudah menulis. Karena saya memiliki “gen literasi” yang sangat kuat dari kakek, yang menurun ke ayah dan beberapa paman, berikutnya menurun ke saya dan beberapa kemenakan.

Gen ini tidak otomatis bekerja pada diri anak keturunan. Diperlukan pemicu berupa latihan dan pembiasaan, sampai gen itu bisa aktif menghasilkan karya.

Dari Kakek Menurun Ke Siapa Saja?

Kakek dan keluarga besarnya.

Setelah mengetahui kakek saya adalah penulis produktif, saya tertarik untuk menelusuri ke mana sajakah gen literasi itu mengalir? Paling tidak saya menemukan beberapa “saluran”.

Pertama, dari kakek mengalir ke ayah saya. Terbukti ayah sangat senang membaca dan senang menulis. Saat ini, saya masih berusaha mengumpulkan tulisan tangan karya ayah saya –Allahyarham. Karena selama ini tidak pernah dibuka dan dibaca, buku tulisan tangan ayah hanya tersimpan di almari.

Namun yang menjadi masalah, di almari siapa sekarang tulisan tangan ayah saya berada? Apakah di rumah induk, atau di rumah salah seorang kakak saya?

Termasuk, berapa jumlah buku yang dihasilkan ayah saat menuangkan karya dengan tangannya? Berisi tentang apa saja? Untuk pertanyaan-pertanyaan ini, saya belum menemukan jawaban.

Saya merasa menyesal, bahwa tidak mengetahui simpanan intelektual ini sejak dulu. Semenjak saya meninggalkan rumah –lulus SMA merantau ke Jogja untuk belajar di UGM, saya sangat jarang pulang.

Kalaupun pulang, hanya sebentar menengok ayah dan ibu. Tidak pernah berlama-lama untuk mengetahui detail-detail peninggalan karya ayah dan kakek.

Berikutnya, gen literasi dari kakek juga mengalir ke paman saya, almarhum Om Sugiyarto Broto Tenoyo. Beliau adalah seorang guru, dan juga senang membaca dan menulis. Ada karya tulisan tangan yang masih tersimpan di rumah kediaman beliau.

Lewat salah seorang menantu Om Sugiyarto, saya menjadi tahu bahwa beliau memiliki karya tulis. Sama seperti kakek dan ayah, Om Sugiyarto menulis dengan tulisan tangan, menggunakan aksara Jawa.

Sepanjang interaksi dengan Om Sugiyarto yang saya ingat, beliau adalah sosok intelek dan sangat cerdas. Cara beliau menjelaskan segala sesuatu, tampak runut, logis dan sistematis. Cara menyampaikannya berkelas orator.

Ayah saya dan Om Sugiyarto adalah contoh anak kandung Mbah Jogo yang intelek dan pandai menyampaikan pidato di hadapan publik. Andai sudah ada media sosial di zaman itu, saya yakin ayah dan Om Sugiyarto memiliki banyak fans dan banyak follower.

Ada pula gen literasi yang mengalir ke paman saya, almarhum Om Sanyoto. Beliau adalah seorang guru, yang senang membaca. Namun, apakah Om Sanyoto suka menulis dan punya karya tulis, belum sempat saya gali dari anak beliau.

Om Sanyoto juga sosok intelek dan pandai mengajar. Beliau berlangganan koran, majalah serta mengoleksi buku –sama seperti ayah saya, dan Om Sugiyarto.

Ternyata, gen literasi dari kakek mengalir ke beberapa anak. Sampai ke tingkat cucu dan cicit, saya pastikan juga ada banyak yang mendapatkan warisan gen literasi ini. Hanya saja, masih perlu waktu panjang untuk melacak dan meneliti.

Bahan Bacaan

Anna Vinkhuyzen dkk, The Heritability of Aptitude and Exceptional Talent Across Different Domains in Adolescents and Young Adults, https://www.ncbi.nlm.nih.gov, 15 Maret 2009

Dinno Baskoro, Bakat, Warisan Genetik yang Diturunkan dari Orangtua ke Anak, www.kompas.com,  22 Februari 2022

Fedhealth, Genetics And Inheritance: How Does It All Work? https://www.fedhealth.co.za,  4 November 2014

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.