Kembali
Ruang Tamu

Melatih Kebiasaan Menulis

.

Oleh : Deden Hidayat (alumni Kelas Buku Single Alineaku)

“Saya ikut bergabung program Alineku Challenge, bukan karena sertifikat yang akan didapatkan. Bukan pula hadiah voucher yang saya kejar. Saya ingin memiliiki kebiasaan menulis, titik” –Deden Hidayat, 2022.

.

Berawal dari keinginan untuk menulis buku. Terus mencari lembaga pelatihan menulis, tapi tidak kunjung menemukannya. Iseng-iseng searching di google, banyak komunitas menulis yang menyediakan jasa pelatihan.

Cuman sayang, semua komunitas itu hanya menyediakan pelatihan online tidak ada yang offline. Mungkin karena suasana sedang masa pandemi. Saya mencoba memaklumi.

“Belajar menulis offline belum tentu bisa, apalagi yang online,” benak dan hati saya berbicara.

Bertemu Komunitas Alineaku

“Setelah bergabung ternyata asyik juga belajar menulis online. Bukan hanya itu, sayapun ketagihan dan bergabung di kelas karya dengan produk buku antologi kemudian lanjut ke kelas buku single” –Deden Hidayat, 2022.

Semakin lama keinginan menulis ini semakin kuat, belum tersalurkan dan tidak tahu bagaimana cara menyalurkannya. Lagi-lagi saya iseng-iseng, bertanya ke salah satu akun medsos Alineaku. Ternyata responnya sangat cepat. Admin akun tersebut menjelaskan dengan detail tentang program pelatihan menulis.

Dengan penjelasan yang sangat bagus. Tapi sayang hal itu tidak lantas menjadikan diri ini percaya begitu saja dan bergabung dengan komunitas menulis Alineaku, saya masih belum yakin. Ahh paling sekedar iming-iming dan janji-janji agar ikut menjadi peserta, agar mereka segera dapat penghasilan dari biaya pelatihan para pesertanya.

Beberapa hari kemudian dan sering sekali tim Alineaku memberikan informasi pelatihan dan pastinya mereka memberikan tawaran untuk ikut bergabung. Saking seringnya sampai saya merasa bosan dan sedikit jengkel.

Tapi, dalam hati kecil muncul rasa penasaran dan tanya. Jangan-jangan memang ini komunitas menulis yang dapat membantu saya menjadi penulis. Apa mungkin akan mampu menulis hanya dengan belajar online tanpa tatap muka?

Akhirnya saya memutuskan bergabung di KMO (Komunitas Menulis Online) kelas basic setelah sebelumnya mencari testimoni peserta pelatihan di akun-akun alineaku. Setelah bergabung ternyata asyik juga belajar menulis online. Bukan hanya itu, sayapun ketagihan dan bergabung di kelas karya dengan luaran buku antologi kemudian lanjut ke kelas buku single.

Sabtu, 29 Januari 2022 jam 06:00 saya membaca tulisan seorang sahabat dari Bali I Made Suardika. Tulisan itu dikirim oleh Pak Cahyadi Takariawan, untuk memotivasi para alumni agar terus menulis.

Menurut saya, beliau adalah mentor hebat. Mengapa? Karena sudah ratusan bahkan ribuan penulis yang muncul dari hasil didikan beliau. Termasuk saya yang masih pemula dan masih belajar. Sudah banyak pelatihan menulis yang diikuti, tapi tidak kunjung menulis. Saya baru bisa menulis, setelah ikut komunitas menulis yang dimentori oleh beliau.

Kelebihan Pak Cah, beliau menjadikan semua menteenya laksana sahabat. Tidak menekankan untuk menulis. Tidak mewajibkan untuk selesai naskah. Beliau bersama tim Alineku hanya memberikan motivasi, mengingatkan sahabat-sahabat KMO dan alumninya untuk menulis setiap hari.

Yang paling menarik dalam memacu peserta didiknya adalah program “Alineku Challenge”. Program rutin menulis setiap hari. Tidak dibatasi oleh judul dan tema, tidak dibatasi jumlah karakter penulisan. Sekedar tantangan 30 hari menulis.

Sayapun ikut bergabung program “Alineku Challenge”, bukan karena sertifikat yang akan didapatkan. Bukan pula hadiah voucher yang saya kejar. Saya ingin memiliiki kebiasaan menulis, titik.

Mulai Ikut Challenge Menulis

“Saya sudah yakin termasuk peserta yang gagal dalam mengikuti alineaku challenge. Namun, sesuatu yang mengejutkan muncul saat pengumuman pemenang. Ternyata nama saya masuk dalam daftar pemenang” –Deden Hidayat, 2022.

Hari pertama, Jum’at kalau tidak salah, saya baru ingat bahwa itu adalah hari pertama menulis. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 20:30, sementara deadline setoran tulisan jam 21:00. Sayapun menulis. Tulisan itu baru bisa dikirim jam 21:30.

“Yang penting menulis,” demikian pikirku.

Sempat ragu, apakah naskah akan diizinkan muncul di group FB Alineaku challenge ataukah tidak? Yang penting menulis. Apakah nanti akan dikategorikan yang tidak masuk nominasi berhasil dan mendapat hadiah voucher?

“Masa bodoh” dalam benak saya menjawab pertanyaan sendiri yang hilir mudik. Yang penting menulis, menulis dan setorkan.

Bukan hanya sekali kejadian seperti ini, bahkan dua sampai tiga kali telat mengirimkan naskah. Saya sudah yakin termasuk peserta yang gagal dalam mengikuti alineaku challenge. Namun, sesuatu yang mengejutkan muncul saat pengumuman pemenang. Ternyata nama saya masuk dalam daftar pemenang. Jelas ini sangat memotivasi lagi.

Sejak itu, saya memiliki satu motto “Tiada hari tanpa menulis”. Sekitar sepuluh hari dari selesainya program elineku challange, buku solo selesai ditulis. Meski belum selesai editing dan masih bingung mau konsultasi dengan siapa agar tulisan ini layak terbit.

‘Ala kulli hal (yang penting) saya mengucapkan banyak terima kasih kepada mentor hebat Bapak Cahyadi Takariyawan, Ibu Ida Nurlaila, Mbak Mufid, Mbak Icha Wulandari, Mbak Lina dan seluruh tim alineaku. Semoga segala usaha yang dilakukan untuk mendidik para calon penulis berbuah manis dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir meski raga sudah tiada.

Melalui tulisan ini saya memberi saran, agar sesering mungkin membuat program Alineaku challenge kepada para alumninya. Terutama para alumni kelas basic, yang sedang semangat-semangatnya menulis. Atau bisa juga setiap selesai kelas, baik kelas antologi dan kelas buku single. Atau diadakan challenge buku single, sangat menarik.

Saran lainnya, mungkin para alumni dikumpulkan sesuai dengan profesi dan bidang keilmuan yang digeluti. Kemudian membuat buku antologi. Sehingga menghasilkan buku antologi tentang keluarga, tentang pendidikan, tentang ekonomi syariah, tentang hukum dan lain-lain.

Seru sepertinya. Sekali lagi terima kasih kepada semuanya. Salam hangat dari saya Deden Hidayat.

.

Deden Hidayat, tinggal di komplek Ponpes Alkayyis, Lebak, Banten. Alumni Kelas Basic Batch 9, Kelas Antologi Batch 10 dan Kelas Buku Single (KBS) Batch 1.

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.