.
Rutin Menulis Setiap Hari (Rumesha) – 19
Oleh : Cahyadi Takariawan
Sejarah itu cenderung terasa berat. Bercerita tentang kronologi, kejadian, tokoh, waktu, karakter, konflik, kepentingan, bahkan kadang darah dan air mata. Terlebih lagi menyangkut ‘versi’ sejarah. Di sisi ini terasa benar nilai ‘berat’ dari sejarah.
Belanda adalah penjajah. Westerling adalah pembantai pribumi Indonesia. Itu versi pelajaran sejarah di Indonesia. Maka nenek moyang kita adalah pahlawan dan pejuang, yang berperang melawan penjajah.
Tetapi, apakah para tentara Belanda yang dikirim ke Indonesia juga disebut sebagai penjajah dalam pelajaran sejarah versi negara Belanda? Tentu saja tidak. Mereka adalah pahlawan bangsa yang mendapat penghormatan dan penghargaan. Mereka tengah berjuang untuk kepentingan negara Belanda, maka mereka adalah pahlawan.
Inilah versi sejarah. Sering tidak jelas mana pahlawan mana penjajah. Karena setiap kelompok kepentingan, memiliki versi tersendiri atas peristiwa sejarah yang telah terjadi di masa lalu. Terasa benar, sejarah itu berat.
Namun kita bisa ‘mengubah’ peristiwa sejarah yang berat tersebut, menjadi ‘camilan ringan’. Caranya? Bukan dengan menulis ulang sejarah, namun dengan mengambil nilai atau spirit dari kejadiannya.
Perhatikan coretan saya berikut ini.
******
Menyusuri Selat Bosphorus yang sangat menawan, memberikan kepada kita sangat banyak makna. Kita tidak saja sedang berwisata, kita tidak saja sedang berekreasi di Turki. Namun kita mendapatkan sangat banyak inspirasi, spirit dan energi di sini.
Paling tidak, ada dua spirit penting yang kita dapatkan selama satu jam melintasi Selat Bosphorus pagi ini. Pertama, bahwa akan selalu ada rantai-rantai besi yang menghalangi. Kedua, bahwa akan selalu ada solusi untuk menghadapi rantai-rantai besi itu.
Pertama, Selalu Ada Rantai-rantai Besi
Menyusuri Selat Bosphorus mengingatkan kita, bahwa di selat ini dulu pernah dipasang rantai-rantai besi untuk menghalangi Muhammad Al Fatih dan pasukannya, agar tidak bisa melintasi. Hal ini menjadi pengingat, bahwa selalu ada rantai-rantai besi, selalu ada penghalang, selalu ada yang merintangi jalan menuju kesuksesan.
Ada pihak yang memasang rantai-rantai besi di jalan yang akan kita lalui untuk menuju sukses, untuk menuju keberhasilan, untuk menuju surga. Ada pihak yang tidak senang melihat keberhasilan kita, ada pihak yang tidak suka dengan kemajuan kita, ada pihak yang tidak suka dengan bisnis kita, ada pihak yang tidak suka dengan langkah kebaikan kita. Maka mereka memasang penghalang.
Ingatlah, jangan takut halangan, jangan takut rintangan, karena hal itu akan selalu ada di sepanjang hidup kita. Oleh karena itu, hadapi saja, nikmati saja, sembari mencari solusi terbaik atas setiap halangan dan gangguan yang pasti datang. Selalu minta kekuatan dan petunjuk kepada Allah, agar dimudahkan dan diberkahi langkah kebaikan yang kita lakukan.
Kedua, Yakin Selalu Ada Solusi
Menyusuri Selat Bosphorus mengingatkan kita, bahwa kendati ada rantai-rantai besi untuk menghalangi, namun juga selalu ada solusi. Muhammad Al Fatih memerintahkan pasukan untuk membawa kapal-kapal perang itu melewati daratan, guna menghindari jeratan rantai besi. Strategi ini berhasil, pasukan Islam bisa menaklukkan benteng tebal Konstantinopel.
Hal ini menjadi pelajaran penting bagi kita, sekuat dan sehebat apapun rantai-rantai besi menghalangi, namun akan selalu ada solusi. Muhammad Al Fatih telah memberikan inspirasi, spirit dan energi yang luar biasa kepada kita semua, bahwa kita tidak boleh berputus asa.
Kita tidak boleh takut menghadapi tantangan dan rintangan dalam menggapai tujuan dan cita-cita. Yang harus kita lakukan adalah terus berusaha melakukan yang terbaik sekuat tenaga.
Tatkala Allah memberikan ujian kepada kita, di saat yang sama Allah berikan kemampuan kepada kita untuk menghadapinya. Maka doa kita kepada Allah adalah, agar diberikan kekuatan, diberikan kemudahan, diberikan jalan keluar terbaik dari setiap permasalahan, gangguan, rintangan, halangan yang membentang di hadapan.
Spirit dan energi Bosphorus membuat kita selalu bersemangat menjalani kehidupan, bersemangat melakukan kebaikan, tidak pernah putus asa menghadapi rintangan. Kita tidak bisa mencegah pihak-pihak yang ingin memasang rantai besi di jalan yang akan kita lalui. Namun kita bisa berupaya menemukan strategi agar bisa melewati, dan bisa membawa kita menuju mimpi.
*******
Tulisan di atas, saya buat saat naik perahu menyusuri selat Bosphorus, tahun 2019 lalu. Sambil wisata dan menikmati keindahan alam Turki, kita bisa menggali sejarah dan mengambil spiritnya.
Saya tidak menulis sejarah penaklukan Konstantinopel. Yang saya gali adalah spirit dari kejadian sejarah tersebut. Tanpa harus mengulas panjang lebar soal penaklukan Konstantinopel, kita bisa mengajak khalayak untuk mengambil sari semangatnya.
Ini yang menjadi ringan seperti camilan. Meski berat, namun kita tidak memasuki wilayah keberatannya. Kita hanya menyajikan spirit dan pelajaran pentingnya.
Anda bisa menuliskan spirit dari sebuah peristiwa sejarah. Mungkin saja ada banyak versi dari sebuah kejadian sejarah, dan itu sah saja. Namun kita lebih menggali spirit dari peristiwa sejarah. Membuat sejarah serasa camilan ringan.
Foto : http://www.peraair.com/