Membentuk Karakter Anak Lewat Berkisah

Membentuk Karakter Anak Lewat Berkisah

Membentuk Karakter Anak Lewat Berkisah

 

@ Ummu Rochimah

 

Hampir sepertiga kandungan Al Quran berbicara mengenai kisah. Kisah tentang para rasul, kisah orang-orang saleh, kisah kaum-kaum terdahulu. Bukan tanpa sebab Allah memberikan kisah-kisah dalam Al Quran.

Allah swt berfirman, “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.” (QS. Hud : 120)

 

Berkisah pun menjadi salah satu metode efektif dalam proses pendidikan anak terutama dalam pembentukan karakternya. Memperkenalkan berbagai bentuk emosi dan ekspresi kepada anak dapat dilakukan dengan cara bercerita atau berkisah. Anak bisa mengetahui bagaimana ekspresi saat sedang senang atau gembira, sedang sedih atau marah.

 

Pengetahuan anak tentang ekspresi itu akan memperkaya pengalaman emosi yang akan mempengaruhi pembentukan dan perkembangan kecerdasan emosional yang menjadi dasar karakter seorang anak. Banyak manfaat yang bisa diambil dari metode berkisah. Seperti dikutip dari laman resmi Sahabat Keluarga Kemendikbud menyebutkan setidaknya ada tiga manfaat yang diperoleh seorang anak melalui kegiatan berkisah.

 

Pertama, membuat anak mengerti alur cerita. Melalui berkisah, anak akan terbiasa mendengarkan dan mengingat kosa kata baru sehingga akan menambah perbendaharaan kata-katanya.

 

Selain itu, anak akan memahami struktur kalimat dan belajar menyusun kalimat dengan benar. Hal ini akan merangsang perkembangan bahasa dan kemampuan berbicara pada anak.

 

Kedua, menanamkan nilai moral dan agama. Orang tua dapat berkisah kepada anak mengenai seorang tokoh yang berperilaku baik sehingga mendorong anak untuk meniru sikap baik tersebut.

 

Sebagai contoh, “Anak-anak, nabi Ismail adalah nabi yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Ia selalu menuruti perintah orang tuanya dan selalu membantu ketika orang tuanya membutuhkan bantuan.”

 

Dengan ini, secara tidak langsung, anak akan menyerap nilai-nilai moral tentang bagaimana anak harus berbakti kepada orang tuanya. Nilai-nilai kebaikan dan keburukan dapat disampaikan kepada anak melalui cara berkisah.

 

Ketiga, menjalin kasih sayang antara orang tua dan anak. Berkisah atau bercerita sebagai pengantar tidur dapat berguna untuk menjalin kasih sayang orang tua dan anak. Tutur kata yang diucapkan orang tua dalam berkisah saat anak menjelang tidur akan memenuhi memori jangka panjang anak. Ia akan melekat dalam waktu yang lama. Anak akan bisa merasakan dan  mengungkapkan secara mendetil situasi saat ia berada dalam dekapan orang tua yang sedang berkisah. Pun, saat mereka sudah dewasa nanti.

 

Dengan berkisah, ikatan antara orang tua dengan anak akan terjalin erat, sehingga orang tua dapat berkomunikasi akrab dengan anaknya sehingga anak akan merasa aman dan nyaman berada dekat dengan orang tuanya.

 

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam berkisah antara lain:

  1. Jangan paksa anak untuk mendengarkkan kisah yang tidak mereka sukai atau di waktu-waktu yang tidak disukai. Pilihan waktu yang paling tepat untuk berkisah biasanya saat menjelang tidur. Pilihlah kisah-kisah yang mengantarkan anak pada nilai-nilai kebaikan.
  2. Libatkan anak saat bercerita. Hal ini bisa dilakukan dengan cara bertanya pendapat mereka terhadap kisah yang diceritakan.
  3. Selalu fokus pada setiap bagian dari kisah pelajaran-pelajaran yang bisa diambil faedah dan hikmah dari setiap kejadian di dalamnya dan pastikan bahwa anak menguasainya.
  4. pastikan bahwa anak berkonsentrasi mendengarkan kisah dan jangan biarkan mereka, terutama anak yang masih kecil pergi, berlari-larian atau meninggalkan tempat saat orang tua bercerita.
  5. Berkisah bisa dilakukan dengan sambil bermain peran dari tokoh-tokoh dalam cerita. Ayah bunda bahkan anak-anak bisa memilih peran yang disukai dalam kisah tersebut.
  6. Tanyakan kepada mereka hikmah yang bisa diambil setelah akhir kisah.

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan