Kembali
Motivasi Menulis

Membongkar Mental Block ‘Satu Jawaban Benar’

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“One of the worst aspects of formal education is the focus on the correct answer to a particular question or problem” — Brian Clark, 2020

.

Menulis adalah sebuah proses kreatif menuangkan ide, gagasan, perasaan, pengalaman ke dalam tulisan. Proses kreatif ini bisa terjadi dengan lancar –yang sering kita sebut sebagai ‘flow’, mengalir. Ada kalanya, penuh dengan hambatan dan kendala.

Hambatan dalam proses kreatif ini, sering kita sebut sebagai ‘mental block’ atau writer’s block. Brian Clark (2020) menyatakan, Anda akan mampu berpikir kreatif selama mampu menghilangkan mental block yang membelenggu cara Anda berpikir.

Salah satu mental block itu –menurut Brian Clark, adalah proses memilih “jawaban yang benar”. Sebuah tradisi akademik yang diajarkan sejak di bangku sekolah. Saat kita menghadapi ujian di sekolah hingga kuliah, selalu ada soal untuk ‘pilihlah jawaban yang benar’, atau ‘jawablah dengan benar’.

Di soal ujian sekolah, yang benar hanya satu. Jika yang benar opsi a, maka saat kita memilih opsi b,c,d atau e, maka itu pasti salah. Sebagai murid atau mahasiswa, kita dibiasakan dengan satu pilihan. Satu opsi. Pola pikir seperti ini, memengaruhi Anda dalam melahirkan proses kreatif.

Takut salah. Ini dampaknya.

The Corect Answer Syndrome

Anda akan kesulitan menulis dengan lancar, mengalir, atau semudah bernapas, jika Anda selalu berpikir ‘memilih jawaban yang benar’. Setiap kali menulis, Anda terbebani dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyulitkan diri sendiri. Anda takut salah, karena meyakini ‘hanya ada satu yang benar’.

Inilah sindrom satu jawaban benar. Membuat Anda selalu memikirkan hal-hal berikut:

  1. Apakah pilihan kata yang saya pakai ini sudah sesuai dengan kaidah dalam KBBI?
  2. Apakah kalimat yang saya tulis ini sudah sesuai pedoman dalam PUEBI?
  3. Apakah artikel saya ini termasuk jenis narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, atau persuasi?
  4. Apakah paragraf yang saya bikin ini sudah sesuai ketentuan deduktif dan induktif?
  5. Apakah majas yang saya gunakan ini termasuk personifikasi, metafora, asosiasi, hiperbola, eufimisme, simile, metonimia, alegori, simbolik, atau jenis lainnya?

Lagi-lagi, hal seperti ini membuat takut salah. Jangan-jangan, tulisanku tidak sesuai kaidah kebahasaan. Jangan-jangan, tulisanku tidak sesuai kaidah kepenulisan. Inilah mental bock yang yang membelenggu proses kreatif Anda.

Baru menulis satu kata atau satu kalimat, Anda sudah berhenti lama untuk berpikir. “Mana yang benar ya? Fikir atau pikir, pondasi atau fondasi, faham atau paham, nafas atau napas, antre atau antri, hutang atau utang?” Mengapa berpikir demikian? Karena sudah terbiasa berada dalam block “memilih yang benar”.

Seakan selalu hanya ada satu pilihan yang benar. Tak ada opsi lain yang bisa diterima. Ini ‘block akademik’ yang tercetak sejak kita belajar di bangku sekolah.

Apakah Pembaca Mengerti?

Agar keluar dari ‘mental block’ seperti ini, Anda harus memahami bahwa dalam menulis populer, Anda memiliki kebebasan yang sangat luas. Sangat banyak tulisan saya salah secara KBBI maupun PUEBI –tapi pembaca mengerti maksud saya. Pembaca cenderung tidak mempersoalkan kesalahan-kesalah  tersebut, karena telah memahami maksudnya.

Ketika saya menyatakan “menulis semudah bernafas”, ini jelas tidak sesuai KBBI. Yang sesuai KBBI adalah “menulis semudah bernapas”. Tapi pembaca mengerti maksud saya, bukan? Apakah bernafas dan bernapas itu dua hal yang ditangkap maknanya secara berbeda oleh pembaca?

Saat saya menulis bernafas ataupun bernapas, pembaca memahami aktivitas yang sama. Guru Bahasa Indonesia akan cepat menyatakan, “Tulisan Pak Cah tidak sesuai KBBI”. Nafas adalah kata tidak baku. Kata baku menurut KBBI adalah napas.

Ketika saya menulis, sangat terbiasa menggunakan kata “hutang, hisap, himbau” –jelas itu tidak baku menurut KBBI. Yang baku adalah utang, isap dan imbau. Jika saya menulis “Saya berhutang budi”, ataupun “Saya berutang budi”, apakah perbedaan berhutang dan berutang itu membangun makna yang berbeda pada pembaca?

Apakah pembaca bingung ketika saya mengatakan, “Saya menghimbau”? Apakah pembaca bingung ketika saya menulis “bahaya menghisap ganja?” Mereka pasti akan mengerti makna tulisan tersebut. Sama mengertinya dengan ketika saya menulis, “Saya mengimbau”, dan “bahaya mengisap ganja”.

Ketika saya menulis “mempengaruhi”, apakah pembaca mengerti maksudnya? Jika saya menulis “memengaruhi”, apakah pembaca bingung dibuatnya? Ketika saya menulis mempengaruhi atau memengaruhi, mempesona atau memesona, memposting atau memosting, mempublikasikan atau memublikasikan, memosisikan atau memposisikan, pembaca tetap mengerti maksudnya.

Jika saya mengajar satu ‘pilihan yang benar’, akan selalu membuat Anda takut ‘salah’. Jika saya menuntut Anda selalu sesuai KBBI dan PUEBI, Anda tak akan menulis. Jika saya menjejali dengan teori-teori tata bahasa, Anda tak jadi membuat karya tulis. Anda akan selalu bingung dengan banyaknya istilah, dan bingung bagaimana menerapkannya.

“Pak Cah, tulisan Pak Cah ini menggunakan paragraf deduktif atau induktif?”

Jawaban saya, “Anda mengerti maksud tulisan saya atau tidak?” Jika Anda mengerti maksud tulisan saya, maka misi tulisan saya sudah berhasil. Menulis adalah menyampaikan pesan. Jika pesan sudah dipahami, saya telah berhasil mengirim pesan.

Saya tidak wajib tahu perbedaan deduktif dan induktif. Saya juga tidak harus memilih –apakah paragraf deduktif atau induktif. Yang paling penting bagi saya adalah menulis pesan yang mudah dipahami oleh pembaca.

Apakah tulisan saya ini membingungkan Anda? Jika Anda bingung, berarti saya gagal menyampaikan pesan.

Bahan Bacaan

Brian Clark, Do You Recognize These 10 Mental Blocks to Creative Thinking? www.copyblogger.com, 10 Agustus 2020

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.