.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Teenagers don’t speak like adults, because they don’t live an adult life” –Niamh (2017)
.
Tulisan untuk segmen remaja, banyak ditulis oleh mereka yang sudah tidak lagi remaja. Maka sering muncul ‘lag’ atau jarak antara penulis dengan segmen yang ingin disapanya. Penulis yang sudah bukan remaja, tak lagi mengerti suasana masa remaja.
Muncullah tokoh-tokoh remaja dalam tulisan –yaitu ‘remaja yang digambarkan orangtua’. Bukan ‘remaja yang senyatanya remaja’. Remaja yang digambarkan orangtua, sering kali tak bercacat. Salih sempurna. Padahal realitasnya, tak ada remaja sempurna. Sebagaimana tak orangtua sempurna.
Untuk itu, jika Anda ingin menulis untuk segmen remaja –baik tulisan fiksi maupun nonfiksi, harus benar-benar mengerti dunia mereka. Berikut saya cuplikkan beberapa poin teknis yang saya ambil dari tulisan Niamh, yang berjudul Writing for Teens: Things to Consider (2017).
- Remaja tidak berbicara seperti orang dewasa
Jika Anda banyak berinteraksi dengan remaja, akan mudah memahami bahwa pembicaraan remaja sangat khas. Mereka tidak berbicara seperti orang dewasa, karena mereka tidak hidup sebagai orang dewasa.
“Teenagers don’t speak like adults, because they don’t live an adult life”, ujar Niamh. Untuk itu, logika berpikir dan aspek kebahasaan pada remaja menjadi sangat khas. Sementara, kita sebagai orang dewasa berpikir dan berbicara sebagai orang dewasa, sebagaimana kehidupan yang kita jalani setiap hari.
- Remaja merasa seakan sudah dewasa
“Teenagers are in the process of turning into adults, and often feel as though they’re already an adult”, ujar Niamh. Remaja sedang dalam proses bertumbuh menjadi dewasa, namun sering kali mereka merasa seolah-olah sudah dewasa.
Karena merasa sudah dewasa, maka mereka imgin dihargai. Maka Niamh menyarankan, “If you want to keep their attention, talk up to them, not down”. Jika Anda ingin mendapatkan perhatian mereka, hargailah mereka, jangan merendahkannya.
- Tunjukkan penghargaan
Remaja ingin dimengerti dan dihargai, maka mereka senang jika mendapatkan sentuhan penghargaan. “Show your respect through your words, and allow them to engross themselves in your book without being made feel like a student getting a lecture”, unhkap Niamh.
Tunjukkan penghargaan dan hormat melalui tulisan Anda. Mereka akan asyik membaca tulisan Anda, tanpa membuat mereka merasa diperlakukan seperti murid yang mendapatkan pelajaran di sekolah.
- Ingin tokoh protagonis yang benar-benar remaja
Jika Anda menulis cerita fiksi untuk remaja, pastikan tokoh protagonis yang Anda gambarkan benar-benar mewakili sosok remaja yang benar-benar remaja. Bukan remaja dalam persepsi orangtua. Ini artinya memanusiawikan tokoh protagonis –bukan sebagai sosok tanpa cacat.
“Ensure the reader feels like the protagonist truly is a teenager, and not a teenager written by an adult. Go back into your memories and find your teenage voice”, ujar Niamh. Agar mengerti sosok yang benar-benar remaja, Anda perlu mengingat ulang dunia remaja yang pernah Anda alami.
- Kekinian
Jika Anda menulis sesuatu tentang remaja masa kini, Anda harus benar-benar masa kini. Jangan membawa hal-hal jadul, sementara Anda sedang menyampaikan remaja zaman now. Misalnya Anda masih menulis tentang SMS, padahal saat ini tak ada lagi remaja menggunakan SMS.
Untuk itu, Anda perlu melakukan penelitian tentang kondisi remaja saat ini, yaitu saat Anda menulis. “If your story is set in the current day, research current teenagers”, ujar Niamh.
- Cermat membuat kisah
Remaja sedang mengalami masa pencarian jati diri. Jangan Anda racuni dengan kisah yang bisa menyesatkan atau merusak masa depan mereka. Meskipun harus sangat mengerti setting kondisi remaja, namun Anda harus tetap bertanggung jawab atas apapun yang ANda tulis untuk mereka.
“Think about what effect the word has on a teenager before you create their dialogue”, saran Niamh. Pikirkan baik-baik efek kata, kalimat, istilah dan kisah, terhadap remaja sebelum Anda menulis. Saat membuat dialog dalam kisah fiksi, pikirkan dampaknya bagi perkembangan mereka.
Dengan menggunakan bahasa remaja, arahkan secara tepat untuk kebaikan mereka di masa sekarang dan yang akan datang. Ini memerlukan sensitivitas dengan level tinggi.
- Bahasa gaul remaja cepat berganti
Remaja sangat senang menggunakan bahasa gaul dan istilah-istilah ‘slank’. Namun sangat cepat berubah. Bulan ini ada istilah yang ngetren di kalangan remaja, beberapa bulan kemudian sudah berganti lagi.
Maka, penggunaan istilah gaul ini bisa menjadikan tulisan Anda tampak cepat usang. Saat buku Anda terbit, istilah gaul yang ngetren sudah berbeda dibanding saat proses menulis buku.
“Teenagers often use slang, but slang gets old quickly and dates a book, so is not always a good thing to use in your writing”, saran Niamh. Untuk itu pertimbangkan apakah akan menggunakan dan mengadopsi istilah gaul mereka dalam tulisan Anda. khusunya apabila tulisan Anda akan diterbitkan menjadi buku.
- Remaja adalah pembaca yang kritis
Sesuai dengan karakter usianya, remaja adalah pembaca yang kritis. Mereka membaca dan cepat menemukan hal yang janggal atau tidak pada tempatnya dari tulisan Anda. Dengan demikian mereka akan bisa menandai, penulis mana yang mengasyikkan untuk mereka baca tulisannya.
“Teenagers are a tough audience. They are in the process of hyper-analysing the world around them, and thus will spot flaws in your book quickly”, ujar Niamh. Maka Anda harus cermat dan berhati-hati, apakah jalan cerita Anda logis? Apakah tokoh-tokoh yang Anda ciptakan dalam fiksi benar-benar realistis?
- Masukkan sosok orangtua
Sebagian besar waktu anak remaja, adalah bersama orangtua. Oleh karena itu perlu melibatkan peran orangtua dalam cerita fiksi ataupun tulisan nonfiksi Anda. Hal ini akan sekaligus memberikan value kepada mereka tentang urgensi keluarga.
“Parents / guardians are a huge part of a teenager’s life. It’s important to give the parents a role in your story, or else give an explanation as to why the parents don’t have a role”, ujar Niamh. Butuh penjelasan, jika dalam kisah Anda sama sekali tidak melibatkan orangtua.
- Masukkan kisah sekolah
Anak-anak remaja adalah pelajar SMP dan SMA. Mereka berada dalam fase sekolah menengah. Putih biru, atau putih abu-abu. Maka akan lebih menarik bagi mereka, apabila dalam tulisan Anda memasukkan kisah dengan setting sekolah.
Mereka diajak memasuki dunia sehari-hari yang mengasyikkan dan menyenangkan. Ingat lagu-lagu remaja banyak berisi ‘kisah kasih di sekolah’, sesuatu yang menarik bagi remaja. “Most teenagers go to school. This means that unless your story is set in a holiday period, you need to consider how to incorporate school into your story”, uangkap Niamh.
Saran Praktis
Niamh memberikan saran praktis, bagaimana bisa dengan cepat memahami dunia remaja. “Read like a teenager in order to write like one”, ujar Niamh. Bacalah seperti remaja, untuk bisa menulis untuk remaja.
Untuk itu, ia menyarankan agar Anda membaca buku yang laris di kalangan remaja. Ya benar –buku remaja yang laris di kalangan remaja. Bukan buku remaja yang laris di kalangan orangtua. Lihat bagaimana buku itu bisa menarik perhatian remaja. Pelajari dengan seksama.
“I believe the best way to improve your ability to write YA (young adults) comes from reading YA books- find out which ones are the bestsellers among teenagers, not adults. Talk to teenagers, highlight paragraphs in books that you know work or don’t work”, ujar Niamh.
Selamat menulis, selamat menginspirasi.
Bahan Bacaan
Niamh, Writing for Teens: Things to Consider, https://www.writing.ie, 4 Agustus 2017