MENCAPAI KEMENANGAN CINTA DALAM KEHIDUPAN PERNIKAHAN

MENCAPAI KEMENANGAN CINTA DALAM KEHIDUPAN PERNIKAHAN

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Di antara faktor yang menghadirkan kebahagiaan dalam kehidupan pernikahan adalah kondisi jiwa suami dan istri, sebagai pembentuk utama sebuah keluarga. Sebagaimana ditemukan oleh John Defrain dalam studinya tentang Strong Family (1999), hubungan yang kuat antara suami dan istri adalah hal sentral dalam banyak keluarga. Jika kondisi jiwa suami dan istri baik, akan menghasilkan kualitas hubungan yang juga baik.

Saya ingin mengajak berbincang tentang ruang-ruang dalam jiwa manusia. Saya melihat bahwa banyak masalah dan konflik dalam pernikahan, disebabkan oleh tidak lengkapnya ruang dalam jiwa suami maupun istri. Mereka hanya memiliki ekspektasi, namun tidak mau beradaptasi dan berkompromi. Dampaknya, hidup berumah tangga diwarnai oleh tegangan tinggi. Konflik meledak setiap hari. Saling menyalahkan, saling menyerang, saling melukai, saling menyakiti.

Seperti apa kondisi jiwa suami dan istri yang akan menghadirkan kebahagiaan dalam pernikahan? Jika jiwa manusia berbentuk kotak, maka dalam kotak tersebut hendaknya terdapat enam ruang sekaligus, dengan fungsi yang berbeda-beda.

Pertama, Ruang Ekspektasi

Setiap laki-laki dan perempuan yang hendak menikah, pasti memiliki sejumlah ekpektasi terhadap pasangan, maupun terhadap kehidupan rumah tangganya kelak. Mereka juga memiliki cita-cita, harapan, dan keinginan akan kehidupannya di masa yang akan datang. Mereka sama-sama menghendaki calon pendamping yang bersedia menemani proses menuju tercapainya cita-cita masing-masing.

Ruang ekspektasi ini yang membikin hidup lebih hidup. Orang memiliki impian, harapan, keinginan, cita-cita, membuat kehidupan dan pernikahan lebih bergairah.

Kedua, Ruang Dialog

Setelah menikah, suami dan istri harus bersedia melakukan dialog atas segala sesuatu yang menjadi ekspektasi dan impian pribadi masing-masing. Sediakan ruang untuk berdialog, bahkan mendialogkan hal-hal yang sudah menjadi mimpi yang dibangun selama ini.

Pada saat masih lajang, tentu tidak masalah menetapkan ekspektasi setinggi langit. Namun setelah menikah, semua ekspektasi harus melewati proses dialog dengan pasangan, sebab seorang suami atau istri tidak akan bisa sukses sendirian.

Ruang dialog ini yang membuat ekspektasi menjadi terukur. Menyesuaikan dengan realitas yang ada dalam diri pasangan, juga kondisi yang dimiliki keluarga. Dialogkan berbagai hal yang mengganjal dan membuat tidak nyaman. Upayakan untuk saling mengerti dan saling memahami, dengan jalan dialog dari hati ke hati. Semua dalam rangka untuk menjaga keharmonisan dan kebahagiaan hidup berumah tangga.

Ketiga, Ruang Adaptasi

Setelah menikah, suami dan istri harus saling beradaptasi. Tak bisa lagi seorang lelaki memaksakan kehendak demi tercapainya keinginan dan ambisi pribadi. Tak bisa lagi seorang perempuan memaksakan kehendak demi tercapainya keinginan dan ambisi pribadi. Karena mereka telah menikah, maka harus bersedia untuk beradaptasi.

Dalam adaptasi ini ada proses menerima pengaruh pasangan, dan di saat yang sama ada proses menjadi diri seperti harapan pasangan. Hal ini harus diberlakukan secara timbal balik, karena proses adaptasi memang harus terjadi pada kedua belah pihak. Semua berproses, semua berubah, semua beradaptasi, demi mencapai titik keseimbangan yang tepat bagi kebahagiaan dan keutuhan keluarga.

Keempat, Ruang Kompromi

Terkadang suami harus merelakan bagian-bagian dari cita-cita dan keinginannya tidak tercapai sepenuhnya. Demikian pula terkadang istri harus merelakan bagian-bagian dari cita-cita dan keinginannya tidak tercapai sepenuhnya. Hal ini setelah melalui serangkaian dialog, dan melakukan proses adaptasi bersama pasangan. Pada titik ini, kadang terasa menyakitkan, apabila tidak disertai dengan kesadaran dan penerimaan yang utuh atas makna pernikahan.

Jika suami dan istri bersikukuh mempertahankan ego dirinya, tidak mau berubah, tidak mau kompromi, maka mereka akan berada dalam suasana yang saling tidak nyaman. Jika adaptasi sudah dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan harapan pasangan dan menerima pengaruh pasangan, maka kompromi dilakukan untuk menemukan titik temu atas berbagai perbedaan di antara mereka.

Banyak orang menyatakan, cinta sejati diuji setelah menikah. Sesungguhnyalah semua dari kita akan diuji, dalam sepanjang kehidupan pernikahan. Dan hal yang membuat kita mudah melewati ujian itu adalah, apabila menyediakan ruang kompromi yang sangat luas. Demi keutuhan keluarga. Demi kebahagiaan bersama.

Kelima, Ruang Toleransi

Kendati sudah berusaha untuk berdialog, beradaptasi dan berkompromi, bisa jadi ada hal-hal pada diri suami dan istri yang tetap tidak bisa berubah. Ada sifat, karakter atau ciri tertentu yang sudah menjadi “bawaan sejak lahir”, yang bisa jadi tidak akan berubah sampai akhir hayatnya. Cara berbicara, nada bicara, logat bicara yang terpengaruh oleh kultur dimana mereka dibesarkan, bisa jadi tidak mudah berubah, bahkan pada beberapa contoh kasus menjadi tidak bisa berubah sampai akhir hayat seseorang.

Untuk hal-hal yang tidak bisa berubah seperti ini, hendaknya bisa menyediakan ruang toleransi, untuk diterima secara apa adanya. Karena memang tidak bisa berubah, maka jika mengharap perubahan akan membuat putus asa.

Yang tidak boleh ditoleransi adalah hal-hal yang terkait dengan pelanggaran syar’i. Misalnya, suami atau istri yang suka maksiat, maka harus ada upaya untuk dialog dan merubah menuju kondisi yang lebih baik.

Keenam, Ruang Kemenangan Cinta

Keseluruhan ruang tersebut, ujungnya adalah untuk proses memenangkan cinta. Yang harus mereka perjuangkan adalah memenangkan cinta yang sudah mereka rajut sejak prosesi akad nikah. Cinta yang bermuara kepada Allah. Cinta yang bertanggung jawab. Cinta yang bermartabat.

Apa makna pernikahan, jika keduanya selalu ingin memenangkan egonya sendiri, selalu ingin meraih mimpi dengan cara dan langkahnya sendiri. Apa makna kesuksesan karier, jika pasangan terlukai. Apa makna kehebatan posisi, jika pasangan tersakiti.

Maka, selalu sediakan ruang kemenangan cinta dalam kehidupan berumah tangga, agar bahagia hidup anda selamanya.

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan