Mengapa ‘Akal Sehat’ Begitu Langka di Zaman Kita?

Mengapa ‘Akal Sehat’ Begitu Langka di Zaman Kita?

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Belakangan ini, Rocky Gerung tengah naik daun. Tiba-tiba lelaki kelahiran Manado ini menjadi ‘selebritis’ papan atas Indonesia, karena  kepiawaiannya dalam berdebat di berbagai forum publik dan akademik. Ada sangat banyak hasanah, sejak dari bingkai logika dan nalar yang sering ia sebut sebagai ‘akal sehat’, hingga ketidakmampuan menggunakan akal sehat yang ia sebut sebagai ‘dungu’. Penampilan Rocky selalu ditunggu-tunggu publik –baik oleh yang pro maupun kontra— dan telah ikut mencerahkan bangsa Indonesia yang tengah menghadapi persoalan ‘kedunguan’ saat ini.

Saya tidak akan bicara soal Rocky Gerung. Saya hanya ingin meminjam salah satu istilah yang sering ia gunakan, yaitu ‘akal sehat’, dengan perspektif saya sendiri. Saya sangat enjoy dengan istilah yang satu ini, karena relevan digunakan dalam semua bidang kehidupan. Dalam agama Islam, akal adalah perangkat yang sangat penting untuk menjalani kehidupan. Misalnya, kewajiban beragama mulai diberikan kepada manusia yang telah berakal (aqil) dan telah dewasa (baligh). Apabila manusia tidak berakal, walaupun telah baligh, maka tidak mendapatkan kewajiban beragama dengan segala konsekuensinya.

Akal dan Keselamatan Hidup Manusia

Akal berkali-kali disebutkan dalam Al Qur’an, untuk mengingatkan manusia bahwa  mereka adalah makhluk yang dikaruniai kelebihan dibanding makhluk lainnya. Ibnu Katsîr rahimahullah ketika menafsirkan ayat 76 dari surat An Nahl, beliau menyatakan, “Allah Azza wa Jalla memberikan manusia telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, dan hati —yakni akal yang tempatnya di hati— untuk membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang mudharat. Dan Allah Azza wa Jalla memberikan umat manusia kenikmatan-kenikmatan ini, agar mereka dapat beribadah kepada Tuhannya”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa menyatakan, “Akal merupakan syarat dalam mempelajari semua ilmu. Ia juga syarat untuk menjadikan semua amalan itu baik dan sempurna, dan dengannya ilmu dan amal menjadi lengkap. Namun (untuk mencapai itu semua), akal bukanlah sesuatu yang dapat berdiri sendiri. Akal merupakan kemampuan dan kekuatan dalam diri seseorang, sebagaimana kemampuan melihat yang ada pada mata. Maka apabila akal itu terhubung dengan cahaya iman dan Al Qur’an, maka itu ibarat cahaya mata yang terhubung dengan cahaya matahari atau api”.

Dr. Yusuf Al-Qardhawi menjelaskan bahwa kata akal (al ‘aqlu), disebutkan sebanyak 49 kali dalam Al Qur’an. Seluruhnya berbentuk fi’il (kata kerja), tidak satupun berbentuk isim (kata benda). Bahkan, semuanya berbentuk fi’il mudhari’ (48 kali), hanya satu kali saja yang berbentuk fi’il madhi. Kosa kata “akal” dalam Al-Qur’an, meliputi berbagai sisi, pertama  alam semesta, baik yang di atas maupun yang di bawah. Kedua, manusia, baik masa lalu atau pun masa kini. Ketiga, ayat-ayat Allah, baik yang terbentang di alam semesta, maupun yang diwahyukan.

Selanjutnya, Qardhawi menyatakan, “Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mempergunakan akalnya pada semua sisi ini, pantas baginya jika tidak menemukan jalan menuju kebenaran, sehingga ia berjalan di barisan orang-orang yang tersesat dan menyesatkan. Dan pada akhirnya, di hari kiamat, ia akan berkata seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang sengsara di dalam neraka, “Dan mereka berkata: Sekiranya kami mendengarkan dalam rangka memahami, atau mempergunakan akal kami, niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. Mereka telah mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Al-Mulk: 10 – 11).

Demikian pentingnya menggunakan akal yang terbimbing oleh iman, atau akal sehat, sehingga Al Qur’an memiliki perhatian yang besar –sampai 49 kali— untuk memberikan peringatan kepada manusia. Ternyata manusia hanya akan bisa menjadi baik dan benar, hanya apabila dirinya menggunakan akal sehat. Jika ia tidak menggunakan akal sehat, manusia akan tersesat dan berujung kerugian hingga ke akhirat kelak.

Hal-hal yang Merusak Akal Sehat

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengaruniakan akal yang sempurna kepada manusia, sebagai kelebihan yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Namun sayangnya, akal tersebut tidak dijaga dengan baik. Akal tidak diterangi dengan cahaya iman, sehingga berada dalam kegelapan. Dampaknya, akal menjadi rusak dan tidak lagi sehat. Ada banyak faktor yang merusak akal sehat manusia, di antaranya adalah:

  1. Kesombongan : Ana Khairun Minhu

Kesombongan merusak akal sehat. Walaupun dirinya adalah orang yang memang cerdas dan memiliki banyak kelebihan dibandingkan manusia pada umumya, akan tetapi jika bersikap sombong, justru akan merusak akal sehatnya. Kesombongan telah mematikan kemampuan akal, dan membuat manusia kehilangan nalar. Nabi Saw telah mengingatkan dengan sangat keras:

مَنْ كاَنَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ ٬ كَبَّهُ اﷲُ لِوَجْهِهِ فِي النَّارِ

“Barangsiapa yang di dalam hatinya terdapat sedikit saja kesombongan, Allah akan menelungkupkan wajahnya dalam neraka.” Hadits Riwayat Imam Ahmad.

Sombong adalah sifat iblis, yang dengan kesombongan itu iblis diusir dari taman surga. Kesombongan Iblis telah diabadikan oleh Allah Swt dalam Al Quran:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ  قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu menyombongkan diri di dalamnya. Maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina” (QS. Al A’raf : 12-13).

  1. Ambisi Kekuasaan dan Jabatan : Ana Rabbukum Al A’la

Ketika seseorang memiliki ambisi berkuasa yang sangat kuat, maka ambisi ini akan mematikan akal sehatnya. Lihat saja, orang-orang seperti ini rela melakukan segala macam cara demi mendapatkan kekuasaan. Demikian pula orang-orang yang sangat berambisi terhadap jabatan, mereka akan melakukan segala macam cara demi mempertahankan jabatan yang sudah dimilikinya.

Al Quran telah mengabadikan kisah seorang Fir’aun yang sangat ambisius terhadap jabatan dan kekuasaan. Kisah Fir’aun berakhir dengan kehancuran justru pada saat dirinya merasa hebat dan sangat berkuasa, bahkan mengklaim dirinya —Ana Rabbukumul a’la— akulah Tuhanmu yang paling tinggi. Di antaranya, kisah Fir’aun telah diabadikan dalam QS. An Nazi’at ayat 24 dan QS. Yunus ayat 90 – 91.

Sufyan Ats-Tsauri berpesan kepada saudaranya, “Waspadalah, janganlah engkau  mencintai kedudukan, karena zuhud pada kedudukan itu lebih sulit dari pada zuhud pada dunia” (Hilyatul Aulia, 6/387).

  1. Rakus Harta

Ketika manusia sudah memiliki sifat rakus terhadap harta, mereka sanggup melakukan segala tindakan demi harta. Menipu, merampas, mencuri, dan berbagai tindakan jahat lainnya, akan dilakukan demi mendapatkan harta yang diinginkan. Akal sehat sudah hilang, karena pengaruh rakus terhadap harta. Al Quran mengabadikan kisah Qarun, seorang milyarder serakah, dengan harta kekayaan yang sangat banyak dan perbendaharaan yang melimpah ruah. Kecintaan Qarun terhadap harta membuatnya merasa, semua dari hasil jerih payah dia sendiri.

Qarun menjadi ingkar kepada Allah karena rakus akan harta kekayaan, hingga akhirnya dia hancur lebur beserta apa yang dimilikinya. Seluruh kekayaan yang dikumpulkan dan dibanggakan selama ini, akhirnya lenyap ditelan bumi. Kisahnya diabadikan dalam QS. Al Qashash ayat 76 – 84. Ibnu Asyur dalam tafsirnya al-Tahrir wa al-Tanwir menjelaskan bahwa kisah ini adalah akibat orang yang terlena akan gemerlapan harta yang terus bertambah. Kekayaan yang dimiliki tidak terhitung banyaknya, sampai kunci gudang untuk menyimpan kekayaannya saja tak mampu dibawa oleh satu orang, melainkan oleh puluhan orang yang kekar badannya.

Namun, Qarun yang paham isi kitab Taurat, menjadi terlena sampai lupa diri bahkan  tak mau mensyukuri nikmat yang telah diberikan kepadanya. Ia justru meremehkan dan mengingkari ajaran Nabi Musa, bahkan tak segan memfitnah dengan membuat skenario untuk menjatuhkan harga diri Nabi Musa di depan umum. Inilah kisah nyata, bahwa rakus terhadap harta membuat seseorang kehilangan akal sehat.

  1. Gila Pujian dan Popularitas

Orang-orang yang gila terhadap pujian dan popularitas, akan cenderung menghalalkan segala cara agar bisa populer dan dipuji-puji serta dielu-elukan massa. Gila pujian dan popularitas bisa merusak keikhlasan, sebagaimana dinasehatkan oleh Ibrahim bin Adham, “Tidaklah tulus kepada Allah, orang yang mencintai ketenaran” (Dikutip dari kitab Hilyatul Aulia).

Pujian dan popularitas memang sangat menyenangkan manusia. Ada orang yang suka dirinya terkenal, sangat senang saat dirinya dikenal orang banyak. Bahkan ada orang yang suka dirinya dikenal orang sebagai orang yang “tidak suka terkenal”. Oleh karenanya Jabir Ar-Rahbi rahimahullah menasehati kita semua:

لا تحب ان تعرف ولا تحب ان يعرف انك ممن لا يحب ان لا يعرف

“Janganlah kalian suka untuk dikenal (populer) dan janganlah kalian senang dikenal sebagai orang yang tidak suka dikenal”.

Bisyr bin Harits berkata, “Orang yang gila popularitas tidak akan merasakan manisnya akhirat”.

لا يجد حلاوةَ الآخرة رجلٌ يحِبّ أن يعرفه الناسَ

Dinukil dari Kitab at-Tawadhu wal Khumul karya Ibnu Abi Dunya.

Ini semua harus menjadi peringatan kepada kita semua, agar tidak mudah terlena oleh pujian dan popularitas. Tidak sedikit manusia kehilangan akal sehat karena ingin selalu dipuji, ingin selalu terkenal, dan membuat mereka melakukan apa saja demi mencapai level popularitas tertinggi.

  1. Nafsu Syahwat

Ketika manusia sudah dikuasai nafsu syahwat, akal sehat sudah tidak akan berfungsi. Mereka senang melakukan tindak kemaksiatan untuk memuaskan nafsu syahwatnya. Maka banyak manusia kehilangan akal sehat karena pengaruh narkoba, sex bebas, minuman keras, khamr, kecanduan pornografi, dan tindak kemaksiatan lainnya. Berbagai tindakan maksiat —apalagi jika manusia sudah ‘kecanduan’ berbuat maksiat— maka akan melumpuhkan akal sehat.

Khamr benar-benar merusakkan akal sehat, oleh karena itu syariat melarang secara mutlak. Sedikit ataupun banyak, tetap saja dilarang. Ketika Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menjauhi khamr, sekaligus menjelaskan keburukan-keburukan yang ditimbulkannya. Firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”.

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu di dalam (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allâh dan shalat; maka tidakkah kamu berhenti (dari mengerjakan perbuatan itu)?” (QS. Al Maidah : 90-91).

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah  menjelaskan, “Allâh Azza wa Jalla mencela perkara-perkara yang buruk ini, dan memberitakan bahwa semua itu adalah perbuatan syaitan dan kotor atau najis. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Karena sesungguhnya keberuntungan tidak akan sempurna kecuali dengan meninggalkan apa yang Allâh haramkan, khususnya perkara-perkara keji yang disebutkan (di dalam ayat ini).

Khamr juga dinyatakan oleh Nabi Saw sebagai induk atau kunci berbagai macam keburukan. Dari Abu ad-Darda’, dia berkata, “Kekasihku (Nabi Muhammad) Saw, telah berwasiat kepadaku, “Jangan engkau minum khamr, karena ia adalah kunci semua keburukan.” Hadits Riwayat Ibnu Majah, no. 3371, dishahihkan oleh syaikh Al Albani.

Demikianlah sifat dari hawa nafsu yang diperturutkan, akan cenderung merusak akal sehat. Kesenangan-kesenangan sesaat yang didapatkan melalui khamr, judi, narkoba, sex bebas, dan lain sebagainya, justru akan menimbulkan kerusakan sistemik dalam jangka waktu yang panjang. Maka Islam hadir untuk memberikan aturan kepada manusia, agar hidup mereka terbimbing oleh kebenaran dan kebaikan, disebabkan manusia menggunakan akal sehatnya.

Maka jika kita lihat dalam kehidupan zaman modern sudah semakin langka dijumpai akal sehat, itu karena manusia tidak menjaga karunia akal yang telah Allah berikan kepada mereka. Manusia terjerumus ke dalam berbagai faktor yang merusak akal sehat mereka, dan membawa mereka kepada kerusakan serta kehancuran, dunia dan akhirat. Na’udzu billahi min dzalik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan