Kembali
Ruang Tamu

Mengasah dan Menggugah Jiwa dengan Menulis

.

Oleh : Sukma Rona (Alumni KMO Basic Batch 49)

“Jika penulis banyak membaca buku-buku berkualitas dan konstruktif, yang akan lahir darinya adalah karya tulis yang mampu mengubah paradigma hidup pembaca” –Sukma Rona, 2022.

.

Setiap informasi yang hadir di sekeliling kita sudah pasti akan memengaruhi sikap dan penilaian kita. Dengan panca indera yang kita miliki, informasi itu akan masuk lalu memengaruhi tindakan sebagai respon.

Dari sedemikian banyak sumber informasi, membaca adalah salah satu sarana penghantarnya. Maka sangat wajar jika seseorang menulis, akan dipengaruhi oleh serapan informasi yang dibaca selama ini.

Tiga Hal yang Memengaruhi Sebuah Tulisan

“Menulis merupakan seni, menulis itu sarana berbagi, menulis adalah pesan dan nasehat” –Sukma Rona, 2022.

Pada dasarnya, tulisan setiap orang sangat dipengaruhi oleh tiga hal berikut ini. Pertama buku apa yang ia baca. Buku bacaan adalah sumber utama sebagai modal menulis. Wawasan dan juga ketajaman bahasa serta teknik secara psikologis sudah pasti sangat memengaruhi pembaca. Beragam bacaan perlu untuk diulas dalam pikiran seorang penulis.

Jika penulis banyak membaca buku-buku berkualitas dan konstruktif, yang akan lahir darinya adalah karya tulis yang mampu mengubah paradigma hidup pembaca. Begitu pula jika banyak membaca  buku dalam perspektif negatif, juga sangat memberikan stimulus negatif kepada pembaca tulisan itu. Jadi, setiap kita memiliki kesempatan untuk memberikan pengaruh terhadap tulisan kita dan itu tergantung pada bacaan yang menjadi konsumsi.

Kedua, dengan siapa dia bergaul. Suatu pepatah mengatakan “seseorang itu tergantung dari agama temannya” adalah benar. Sebagaimana juga kita mengenal bahwa seseorang yang bertemankan penjual minyak wangi maka akan terdampak, minimal dapat menghirup wanginya.

Pak Cahyadi Takariawan pernah mengatakan  bahwa seorang penulis harus banyak bergaul, sebab dengan begitu ia dapat mengetahui secara langsung akan situasi, psikologi, maupun kondisi objek tulisan. Artinya jika kita ingin suatu hal sebagai bahan tulisan maka semestinya mengetahui juga menguasai akan apa yang ingin ditulis.

Dengan perkembangan zaman di era ini seakan tiada batas lagi untuk berbagi informasi. Pun demikian informasi dapat juga tergali dari keadaan seseorang secara online. Bergaul dengan banyak orang akan memberikan nuansa tertentu dari tulisan.

Ketiga, kematangan jiwa dan intuisi. Menulis merupakan seni, menulis itu sarana berbagi, menulis adalah pesan dan nasehat.

“Bagaimana mau mengisi gelas yang kosong sedangkan kendi tak ada isi” mungkin ini adalah kalimat yang tepat untuk dipikirkan sesama. Tujuan paripurna dari penulis yang sesungguhnya adalah membawa pembaca kepada kematangan berpikir. Sebab itulah dalam perspektif ini jiwa dan tujuan seorang penulis haruslah juga berisi.

Memang seseorang boleh saja menuliskan apa yang ia kehendaki. Namun semestinya, menulis dilakukan dengan jiwa yang tenang dan matang sehingga mampu membawa pencerahan bagi pembaca. Jika kita tarik ke dalam pendekatan religius akan kita temukan bahwa dengan jiwa yang selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, akan memberikan goresan tulisan yang membangun.

Menjiwai Tulisan Kita

“Dengan jiwa yang selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, akan memberikan goresan tulisan yang membangun” –Sukma Rona, 2022.

Aspek menjiwai sebuah tulisan berasal dari bagaimana seseorang selalu memperhatikan jiwanya. Seorang penulis harus memiliki suatu keyakinan bahwa “menulis adalah bercerita”. Maka cerita menjadi menarik atau sedih dan bahagia, tergantung bagaimana cara ia berkisah.

Saya pernah mendapatkan komentar yang memberikan energi untuk menulis. Buku pertama saya yang berjudul “Sekeping Hati Menuju Pulang” sudah diterbitkan. Beragam kisah tercurah, mulai dari motivasi hingga duka menyayat hati yang luka.

Beberapa komentar saya terima dari pembaca. “Pak, saya sudah baca buku itu. Sangat tersentuh bahkan menangis tersedu dengan kisah kisah itu,” kata seorang murid sang pembaca buku solo saya.

Bukanlah kebanggaan tentang telah terbitnya buku juga bukan gelar menjadi seorang penulis. Akan tetapi bagiku ada rasa puas secara kejiwaan. Dengan tulisan itu aku mampu mengajak pembaca untuk tersenyum, tertawa, tergugah bahkan menangis. Dan itu artinya aku menemukan suatu kemampuan dalam kepenulisan yang harus terus diasah.

.

Sukma Rona, lahir di Banyuasin, pada 23 Agustus 1984. Alumni Pondok Pesantren Khairul Ummah, di Batu Gajah. Menikah dengan Nur Asiah dan dikaruniai empat orang anak. Guru di Madrasah Tsanawiyah Khairul Ummah.

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.