Kembali
Ruang Tamu

Mengatasi Mental Block dalam Menulis

.

Oleh : Syasha Lusiana, Penulis Buku “Cahaya Dunia”

.

Pernahkah Anda berada pada situasi “ingin menulis tetapi merasa tidak percaya diri”.  Bahkan, ketika anda sudah berhasil menulis pun anda masih tidak percaya diri, apakah tulisan anda akan disenangi banyak orang, apakah tulisan anda layak dibaca, apakah tulisan anda memberi manfaat ke banyak orang?  Dan berbagai pertanyaan-pertanyaan negatif lainnya yang bermunculan di kepala.

Kondisi ini tentu saja sangat tidak nyaman, karena di satu sisi anda ingin menghasilkan tulisan yang berkualitas, tapi di sisi lain anda terjebak pada perasaan anda sendiri.   Ya, perasaan anda sendiri, karena ketidak percayaan diri itu muncul disebabkan anda membiarkannya muncul. Sehingga produktivitas menulis anda menjadi terhambat.  Penulis yang berada pada situasi ini dan membiarkannya, maka dikhhawatirkan akan mengarah kepada “Mental Block”.

Mental block biasa dialami banyak orang. Baik mahasiswa, pelajar, pekerja, bahkan penulis senior sekalipun bisa dilanda mental block. Mental block, menurut Tony Robbins, adalah kondisi dimana Anda tidak mampu berkonsentrasi. Ketidakmampuan berpikir jernih juga termasuk dalam mental block.  Mental block juga disebut kelelahan mental

Seorang penulis bisa tiba-tiba merasa buntu dan tidak mampu melanjutkan menulis.  Bahkan mental block dapat dianggap sebagai penghalang kreativitas menulis, motivasi dan produktivitas menulis anda.

Mental block itu sendiri penyebabnya sangat bervariasi. Bisa dikarenakan ada hal yang sangat traumatic dalam kehidupan di masa lalu.  Atau pengalaman buruk yang membekas seperti pengalaman yang sangat menyakitkan, menakutkan, korban bullying secara mental misalnya.  Semua itu mengakar kuat dalam pikiran alam bawah sadar, sehingga mematikan daya kreativitas dan potensi seseorang.

Bila ini menimpa seorang penulis tentu akan menjadi sebuah hambatan yang sangat besar.  Karena penulis bisa kehilangan gairah dan produktivitas menulis.

Mental block  yang kerap terjadi pada penulis antara lain:

  1. Saya tidak berbakat menulis
  2. Saya tidak punya waktu untuk menulis
  3. Saya terlalu sibuk untuk menulis
  4. Cukuplah bagi saya memotivasi oranglain untuk menulis
  5. Tidak mungkin tulisan saya diminati orang
  6. Sejak dulu memang saya tidak bisa menulis
  7. Kalau saya menulis siapa yang mau membeli buku saya
  8. Keluarga saya tidak ada yang jadi penulis
  9. Saya tidak punya komunitas atau jaringan yang bisa membesarkan tulisan saya
  10. Teman-teman selalu menganggap remeh saya jadi mana mungkin mereka mau baca tulisan saya
  11. Lebih banyak orang yang lebih hebat menulisnya dari saya
  12. Takut gagal dalam menulis

Pembenaran-pembenaran ini hanya membuat anda semakin terpuruk dalam ketidak percayaan diri.  Bila sudah demikian, maka pikiran akan dipenuhi aura negative karena memandang segala sesuatunya terlalu buruk. 

Hanya anda yang mampu mengendalikan perasaan-perasaan tersebut. Semakin anda terjebak pada perasaan ini maka semua perasaan tersebut akan mem-block anda, dan akan semakin jauh untuk bisa mengubahnya.

  

Bagaimana Mengatasi Mental Block dalam Menulis?

Setiap penulis harus mampu menembus mental block agar tidak menghambat produktivitasnya. Berikut beberapa langkah untuk mengatasi mental block.

Pertama, luruskan niat menulis

“Innamal a’malu binniat” segala sesuatu tergantung pada niatnya. Niatkan menulis untuk ibadah. Dengan berniat terlebih dahulu ini akan meneguhkan anda untuk mampu mencapai tujuan. 

Niat menjadi energi untuk melakukan aktivitas menulis.  Biarkan niat itu  menjadi sebuah awal untuk memulai, sekalipun mungkin niat pertama anda adalah “ingin menjadi penulis terkenal”.

Kedua, temukan keajaiban dalam menulis

Anda akan terpesona sendiri ketika melihat tulisan anda menjadi sebuah buku.  Anda seolah tak percaya bahwa itu adalah hasil karya anda.  Ada perasaan di sanubari yang sulit dilukiskan  kebahagiaannya bahwa anda sudah berhasil mengukir karya. 

Sama seperti halnya seorang pelukis, ketika dia memandangi lukisannya dia akan takjub sendiri dengan hasil lukisannya.  Demikian juga penulis, dia akan takjub sendiri dengan hasil tulisannya.  Perasaan yang anda miliki itulah yang akan membuat anda terlempar keluar dari mental block yang anda bangun sendiri.

Ketiga, sadari bahwa tanganmu adalah lahan amalmu

Yakinlah bahwa dengan aktivitas menulis sesungguhnya anda sedang mengukir amal jariyah baik saat menjalani hidup ini ataupun setelahnya.  Dalam Qur’an surat Yasin ayat 65, Allah SWT berfirman :

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka: tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. 

Biarkan jemari anda menjadi saksi di hadapan Allah SWT kelak bahwa anda sudah melakukan aktivitas kebaikan melalui tulisan yang memberi peran lebih besar terhadap tangan yang Allah berikan kepada anda.

Keempat, abaikan penilaian negatif atas hasil tulisanmu

Kalau anda hidup terus menerus dalam penilaian orang maka anda akan merasa kelelahan.  Hidup harus selalu sesuai dengan keinginan orang tentu akan membutuhkan energi yang luar biasa. Bukan ketenangan yang didapat, namun keresahan dan kegelisahan karena merasa tidak mampu menyesuaikan. 

Itulah kenapa bagi seorang muslim diberikan tuntunan hidup, agar kita berjalan sesuai dengan tuntunan hidup, bukan dengan tontonan hidup.  Karena hidup kita bukan untuk selalu diwarnai pujian, kalaupun ada orang yang memuji atas hasil karya kita, itu adalah bonus, tapi bukan tujuan. Maka, menulislah dan biarkan tulisan anda mengalir sedemikian rupa menjadi untaian-untaian kata penuh hikmah.

Kelima, berdamai dengan masa lalu

Apapun yang menghantui anda dalam kehidupan masa lalu, abaikan dan biarkan saja karena dia tidak akan pernah kembali. Dalam Al-Qur’an surat 3 ayat 159, Allah memerintahkan untuk “fa’fuanhum” (maafkan)  kemudian “fastaghfirlahum” (mohonkan ampunan kepada Allah) dan selanjutnya “wasyawirhum” (bermusyarah / bertemu muka).  

Jadi, maafkan masa lalu yang membuat kepercayaan diri anda runtuh.  Lalu berdamailah dengan memohonkan ampunan kepada Allah atas apa yang telah terjadi di masa lalu.  Lalu, hadapi dan songsong masa depan menjadi lebih baik lagi dengan membangkitkan emosi diri untuk menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Penulis yang berdedikasi tinggi untuk menjaga kebaikan-kebaikan di muka bumi.

Setelah anda menguraikan mental block yang menguasai diri anda, maka bersiaplah untuk memulai kebiasaan baru dan menanggalkan mental block. Kalau dalam dunia pandemi kita mengenal istilah “New Normal”  memulai kehidupan dengan aktivtas baru yang menyesuaikan dengan protocol kesehatan Covid-19. 

Maka, dalam menulis kita mengenal istilah “New Habit”  memulai kehidupan dengan aktivitas dan rutinitas baru yaitu menjalani hari-hari dengan menambah kegiatan baru, yaitu “menulis”.

Seperti juga aktivitas-aktivitas lain, dalam menulis pasti akan banyak tantangan, kendala dan hambatan yang ditemukan.  Namun, selama kita menikmati aktivitas tersebut, semua hambatan, tantangan dam kendala itu akan terasa mudah menemukan solusinya.  Kenapa? Karena kita tidak membiarkannya untuk menjadi sulit ataupun membelenggu langkah dalam aktivitas menulis.  Jangan biarkan semua itu kembali menjadi mental block anda .

Tidak ada yang sulit selama kita mau mencoba dan berusaha.  Ada ungkapan dari para bijak, “Bila anda merasa tidak bisa, maka cobalah. Bila anda merasa tidak mampu maka usahakanlah. Bila anda merasa tidak mau maka kerjakanlah”.

Cirebon, 26102020

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.