Kembali
Positive Writing

Mengubah Curhat Menjadi Tulisan Lezat

– Bagian Kedua

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Jika suatu ketika Anda merasa tersakiti, Anda telah memiliki momentum yang tepat untuk menulis. Awalnya, Anda bisa melakukan ‘morning pages’ seperti yang disarankan Julia Cameron. Bisa dipadukan dengan ‘gratitue journal’ yang disarankan oleh Barton Goldsmith. Simak kembali keterangannya di sini.

Menuliskan Bahan

Agar Anda memiliki bahan untuk dipublikasikan, tulis saja semua kemarahan Anda. Tulis saja semua kekecewaan, rasa sakit, luka dan kepedihan Anda. Bebas, menggunakan bahasa apa saja. Keluarkan semua penderitaan yang Anda rasakan. Sampai Anda merasa puas dan tuntas. Ini akan menjadi bahan yang bisa dipublikasikan.

Semua luka sudah Anda tuliskan. Semua marah sudah Anda ekspresikan. Semua kecewa sudah Anda tuntaskan. Ini menjadi proses healing atau penyembuhan bagi semua luka-luka Anda. Setelah semua ditulis, akan terasa ringan dan nyaman.

Tidak hanya perasaan tersakiti. Jika suatu ketika Anda mendapatkan kebahagiaan, itupun momentum yang tepat untuk menulis. Anda bisa membuat ‘gratitue jornal’ untuk mengabadikan kebahagiaan tersebut. Juga untuk semakin menguatkan perasaan syukur dan membiasakannya.

Diamkan, Endapkan

Proses healing dengan menuliskan semua kesedihan, mungkin akan memakan waktu beberapa hari, beberapa pekan, sampai beberapa bulan. Tergantung sedalam apa lukanya, separah apa sakitnya, sekuat apa kekecewaan dan kemarahannya. Semakin dalam luka, semakin lama menuliskannya.

Setelah Anda menulis semua kesedihan, diamkan dan endapkan terlebih dahulu. Kumpulkan semua tulisan itu di laptop atau komputer. Jika perlu, beri password agar tidak mudah dibuka orang lain.

Diamkan dulu beberapa saat. Jangan tergesa-gesa mengolah menjadi tulisan untuk dipublikasikan. Berapa lama mengendapkannya? Ini juga tergantung kepada banyak faktor. Saran saya, mengendapkan sampai Anda merasa lebih tenang.

Mungkin perlu waktu satu pekan atau satu bulan, tergantung kondisi emosi Anda. Jika Anda masih merasakan tekanan luka yang sangat menyakitkan, sepertinya masih harus terus menulis. Lanjutkan dulu menulis, sampai Anda merasakan suasana yang lebih damai.

Tidak bagus jika Anda memproses publikasi tulisan dalam situasa napas masih terengah-engah karena kemarahan dan kekecewaan. Tarik napas dalam-dalam menggunakan hidung, tahan beberapa saat, lalu lepaskan sepenuhnya melalui mulut. Lakukan berkali-kali sampai Anda merasa tenang dan damai.

Memilih Bentuk Tulisan

Sebuah curhat tentang kondisi diri, bisa diolah menjadi tulisan fiksi maupun nonfiksi yang menyentuh hati. Karena ditulis dengan ketajaman emosi, serta sepenuh (luka) hati. Sudah sangat banyak novel dan buku ditulis dari penderitaan. Pembaca tidak tahu bahwa kisah itu sebenarnya adalah curhat pribadi.

Setelah suasana jiwa Anda terasa damai dan nyaman, Anda bisa mulai membaca kembali semua ‘morning pages’ dan ‘gratitue journal’ yang telah Anda tulis selama ini. Baca ulang dengan teliti dan cermat. Kalau perlu, baca ulang berkali-kali. Semua tulisan healing itu adalah bahan yang bisa Anda kembangkan.

Cermati, dan pilih bagian-bagian yang terlalu pribadi dan sensitif, lalu berikan tanda khusus. Misalnya diberi warna merah pada tulisan yang sensitif tersebut untuk menandai. Tidak harus dibuang atau dihapus. Biarkan saja menjadi kenangan yang tidak dipublikasikan.

Setelah itu Anda bisa memilih bentuk tulisan yang Anda inginkan. Berikut beberapa bentuk tulisan yang bisa Anda pilih untuk mengekspresikan perasaan jiwa.

Pertama, Jenis Fiksi

Anda bisa menuliskan semua curhat tersebut dalam bentuk fiksi. Kelebihan jika ditulis menjadi fiksi, adalah leluasa untuk mengekspresikan. Cenderung tidak ada kendala kekhawatiran bahwa akan membuka aib pribadi atau orang lain. Karena telah diolah dengan imajinasi yang luas.

Pembaca tahu bahwa fiksi adalah khayalan atau imajinasi. Maka semua isi tulisan dipahami dalam kerangka imajinasi, bukan sesuatu yang nyata terjadi. “Aku” dalam cerpen atau novel, bukanlah “aku” dalam dunia nyata. Maka tak ada yang akan memahami bahwa kisah itu tentang diri kita yang sesungguhnya.

Mungkin saja ada bagian-bagian kisah yang mirip atau sesuai kenyataan. Namun nilai keseluruhan tulisan itu telah berubah menjadi fiksi. Anda bisa mengolah dengan menambahkan tokoh, tempat, kejadian, konflik yang sebenarnya tidak terjadi. Beginilah fiksi, sangat leluasa mengolah cerita. Semau kita.

Contoh tulisan fiksi adalah puisi, cerpen dan novel. Puisi bercorak abstrak. Sebuah luka, diolah menjadi kata-kata abstrak yang diekspresikan secara leluasa.

Perhatikan puisi pemberontakan Chairil Anwar yang sangat melegenda ini.

Aku ini binatang jalang  

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku  

Aku tetap meradang menerjang

Cerpen dan novel adalah tulisan fiksi berisi kisah yang bisa sangat menggugah. Dibandingkan dengan puisi yang abstrak, corak cerpen dan novel cenderung lebih nyata. Kisah luka bisa diolah menjadi cerita pendek atau novel, baik dengan sudut pandang orang pertama (POV 1) maupun sudut pandang orang ketiga (POV 3).

Karena sudah dikembangkan melalui imajinasi, maka Anda terbebas dari perasaan tidak nyaman. Semua telah berubah wujud. Dari tulisan curhat, menjadi cerpen atau novel yang lezat. Seting cerita, tempat, tokoh, kejadian, konflik, sudah mengalami perubahan. Kemampuan Anda berimajinasi, sangat menentukan kualitas cerpen dan novel yang Anda sajikan.

Setiap satu poin curhat, bisa Anda gubah menjadi satu cerpen. Maka jika Anda memiliki banyak cerpen, bisa Anda terbitkan menjadi buku kumpulan cerpen. Demikian pula jika Anda tulis dalam bentuk novel, Anda bisa menerbitkan menjadi buku.

Kedua, Bentuk Nonfiksi

Anda juga bisa mengolah bahan-bahan yang Anda miliki, menjadi tulisan nonfiksi. Sebagaimana coraknya, nonfiksi berarti tulisan yang nyata atau benar-benar terjadi. Kisah faktual, tanpa bumbu imajinasi.

Kelebihan bentuk tulisan nonfiksi adalah Anda leluasa untuk mengambil pelajaran dari sudut pandang akademik, dan menyampaikan ajakan untuk melakukan kebaikan. Namun Anda harus memastikan, bahwa tidak ada bagian dari tulisan Anda yang berpotensi dituduh mencemarkan nama baik seseorang atau suatu lembaga.

Anda bisa mengubah tulisan curhat menjadi banyak artikel yang nantinya bisa dijadikan buku populer. Seorang cewek yang patah hati karena dikhianati pacar, bisa menulis kumpulan artikel tentang proses move on. Ia bisa meninjau dari sudut pandang agama maupun psikologi

Patah hati yang terjadi dalam kehidupannya, bisa ditulis sebagian saja, sebagai ilustrasi dalam tulisan. Tidak harus menceritakan dengan detail, terutama bagian yang sangat sensitif, yang sudah ditandai dengan warna merah sebelumnya. Ia lebih menekankan kepada pengalaman bangkit dari keterpurukan akibat patah hati. Disertai analisa akademik terkait move on.

Bahkan kejadian yang menimpa dirinya tidak harus ditulis. Kejadian itu cukup menjadi latar belakang yang mendorongnya menulis artikel. Ketika seseorang menulis teori dan praktek “The Power of Forgiveness”, bisa saja berangkat dari pengalaman pribadi. Namun pengalaman pribadi tidak ditulis dalam artikel tersebut.

Anda juga bisa menulis dalam bentuk esai. Tulisan esai masuk kategori nonfiksi, yang lebih menekankan aspek perenungan, mengambil hikmah dari kejadian dengan sudut pandang personal yang khas. Tidak harus melakukan analisa akademik, tidak harus merujuk kepada teori-teori tertentu.

Pada dasarnya, setiap satu poin curhat, bisa Anda kembangkan menjadi satu artikel atau satu esai. Dengan memiliki banyak artikel atau esai, maka Anda bisa menjadikannya sebagai buku yang berisi motivasi kehidupan. Ini telah mengubah sakit hati, luka dan penderitaan, menjadi karya yang bermakna.

Anda telah tampil secara elegan. Sakit hati telah berubah menjadi karya yang memesona. Bukan lagi berupa caci maki dan sumpah serapah, karena telah Anda olah. Dari sampah menjadi berkah.

Bahan Bacaan

Barton Goldsmith, Writing Your Way Through Emotional Pain, https://www.psychologytoday.com, 20 Juli 2015

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.