.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Seorang peserta Kelas Menulis Online (KMO) Basic bertanya kepada saya, “Bagus manakah tulisan fiksi atau nonfiksi?”
Sebagai pembelajar, ia ingin memilih jalur, apakah akan menekuni rumpun fiksi atau nonfiksi. Ia juga akan memastikan apakah langkahnya belajar menulis sudah berada di rumpun yang tepat.
Saya juga sering mendapat pertanyaan menggelikan dari para peserta KMO. Sambil menjawab pertanyaan, saya sering tertawa sendirian. Misalnya seperti ini:
“Apakah buku nonfiksi itu laku dijual?”
“Apakah buku nonfiksi itu ada pembacanya?”
“Buku fiksi itu yang kayak apa sih?”
“Apakah ada manfaat membaca buku fiksi?”
Bahkan ada yang mengajukan tulisan sambil bertanya, “Tulisan saya ini masuk kategori fiksi atau nonfiksi?” Nah, yang ini semacam menjawab teka-teki silang, atau pertanyaan dalam acara Cerdas Cermat di TVRI tahun 1980an.
Pertanyaan di atas, sesungguhnya bermula dari ketidaktahuan perbedaan antara fiksi dan nonfiksi. Oleh karena itu, pertama kali silakan simak kembali tulisan saya, untuk memahami perbedaan keduanya. Silakan simak kembali di sini.
Menilai Kualitas Tulisan
Untuk menilai kualitas tulisan, tentu saja tidak bisa membandingkan secara vis a vis, “bagus mana antara tulisan fiksi dan nonfiksi?” Sebab, sudah pasti ada tulisan fiksi yang bagus, ada pula yang tidak bagus. Sebagaimana ada tulisan nonfiksi yang bagus, ada pula yang tidak bagus.
Tidak ada jawaban tunggal untuk pertanyaan tersebut. Sangat banyak faktor yang menentukan kebagusan sebuah tulisan. Mari saya ajak memahami sisi-sisi dalam menilai kualitas sebuah tulisan, baik fiksi maupun nonfiksi.
Pertama, sisi motivasi dan tujuan menulis
Coba telisik lagi, untuk apa Anda menulis, dengan tujuan apa Anda menulis? Ini adalah hal yang sangat mendasar dalam dunia tulis menulis. Sebab, hal ini akan menentukan kualitas pribadi Anda sebagai penulis.
Anda akan mencapai derajat “greatness” dalam dunia kepenulisan –tidak semata karena kehebatan dalam menyusun kata-kata. Tidak semata karena kepiawaian dalam membuat kalimat mantera. Namun karena ketulusan hati Anda, karena kemuliaan tujuan Anda. Inilah yang membangun kualitas pribadi Anda sebagai penulis.
Hendaknya, aktivitas menulis Anda niatkan untuk ibadah, untuk meraih ridha-Nya. Tidak masalah Anda menulis fiksi ataupun nonfiksi. Keduanya bisa menjadi lahan ibadah dan menanam amal jariyah.
Jika dari awal Anda menetapkan tujuan menulis untuk menebarkan kebaikan dan kebermanfaatan, maka tulisan Anda sudah memiliki nilai plus. Bahwa Anda menjadi pribadi positif, yang peduli dengan sesama, ingin berkontribusi dalam melakukan perbaikan, melalui tulisan.
Kedua, sisi kepiawaian dalam mengolah tulisan
Semakin pandai Anda mengolah tulisan, jika fiksi –akan menjadi sebuah kisah yang indah. Jika nonfiksi –akan menjadi artikel yang menawan. Untuk bisa memiliki kepiawaian, tidak ada jalan lain, kecuali Anda terus menerus berlatih.
Semakin rajin Anda berlatih, maka akan semakin piawai dalam memilih diksi, mengolah pesan, mengolah rasa bahasa, dan menghasilkan tulisan yang menghadirkan nyawa di dalamnya. Kepiawaian bukan lahir dari mimpi atau wangsit, namun dari proses berlatih setiap hari.
Jangan pernah bermimpi memiliki tulisan berkualitas bagus, jika Anda hanya sebulan sekali menulis, atau tiga bulan sekali menulis. Anda harus berlatih setiap hari. Ini akan mengasah ketrampilan dan kepiawaian Anda. Perlahan tapi pasti.
Mungkin hanya satu atau dua orang saja di muka bumi ini, yang begitu menulis, langsung bagus hasilnya. Sebagian besar manusia di muka bumi ini akan berproses. Kita memerlukan latihan rutin untuk membentuk otot tubuh, sebagaimana kita memerlukan latihan rutin untuk mendapatkan kejernihan rohani.
Begitu pula kita memerlukan latihan rutin untuk mendapatkan kepiawaian dalam mengolahn kata dan rasa bahasa.
Ketiga, kesesuaian dengan passion Anda
Ketika Anda lebih memiliki kecenderungan fiksi, akan lebih mudah menghasilkan tulisan yang berkualitas dalam rumpun fiksi. Dibandingkan ketika Anda menulis nonfiksi, akan lebih lancar dan mudah bagi Anda menuliskan fiksi. Mengapa demikian? Karena sesuai passion Anda.
Begitu pula sebaliknya. Jika Anda lebih memiliki kecenderungan kepada nonfiksi, maka akan lebih mudah menghasilkan tulisan yang berkualitas dalam rumpun nonfiksi. Semua kesulitan akan Anda selesaikan dengan lebih mudah, karena telah menjadi passion Anda.
Saat Anda merasa blank, atau mandeg, atau buntu saat menulis, mungkin karena Anda berada pada rumpun yang bukan passion Anda. Maka cermati lagi, dimana passion Anda berada.