Menjadi Orang Tua yang Asyik bag.2

Menjadi Orang Tua yang Asyik bag.2

Menjadi Orang Tua yang Asyik bag.2

 

By Ummu Rochimah

 

Dalam bagian pertama sudah disebut kriteria orang tua yag asyik menurut anak sekolah dasar yaitu orang tua yang smart, pintar, berwawasan luas, bisa menjawab saat ditanyakan tentang pelajaran sekolah, bisa membantu mengerjakan PR, mikirnya GPL alias ngga pake lama dan sudah dijelaskan pula cara untuk menjadi orang tua yag smart.

Kriteria kedua orang tua asyik di mata anak-anak yaitu, orang tua yang bersemangat.

Ada tiga tipe orang tua, yang pertama yaitu, orang tua karena ‘terpaksa menjadi orang tua’ Memang ada gitu? Ada! Yaitu mereka yang menjadi orang tua karena ‘terlanjur’ mempunyai anak. Mau tidak mau, suka tidak suka mereka harus menyandang gelar sebagai orang tua. Keadaan yang memaksa mereka menjadi orang tua, mereka harus mulai mengurus anak. Ini yang disebut sebagai orang tua biologis.

Tipe kedua, orang tua yang ‘menjadi orang tua’ yang mengalir seperti aliran air, mengikuti naluri jiwa. Menjalani perannya sebagaimana orang tua pada umumnya. Mereka berkaca pada keluarga besar mereka, pengalam yang mereka terima saat menjadi seorang anak, kerabat, tetangga atau masyarakat pada umumnya. Mereka tidak memiliki visi dalam proses pengasuhan anak, tidak memiliki nilai yang hendak diterrapkan pasa anak, bahkan mereka tidak mengerti apa yang harus mereka lakukan terhadap anak-amak mereka.

Yang ketiga, ‘menjadi orang tua’ karena kesadaran dan rasa tanggung jawab. Seorang laki-laki dan perempuan yang menikah kemudian memiliki anak, mereka menyadari sepenuhnya akan peran besarnya di muka bumi, bahwa melalui merekalah Allah titipkan seorang manusia yang akan mengemban misi kekhalifahan dan misi ibadah. Dengan demikian, orang tua tipe ini akan selalu berusaha untuk melakukan proses pembelajaran secara terus menerus. Karena menjadi orang tua tidak ada sekolahnya, berbeda dengan profesi lainnya, misal profesidokter jelas ada sekolah kedokteran, menjadi arsitek maka ia harus sekolah arsitektur, dan lain sebagainya. Tidak ada sekolah menjadi orang tua.

Menjadi orang tua yang memilikk kesadaran dan rasa tanggung jawab terhadap perannya sebagai perantara seorang makhluk, dalam hal ini adalah anaknya dengan penciptaNya, maka mereka akan terus menerus menempa diri menjadi pribadi berkualitas. Maka mereka akan mengerti bagaimana memperlakukan anaknya, bagaimana membimbing, mengarahkan, mencintai dan membersamai tumbuh kemang anak-anaknya. Orang tua tipe inilah yang masuk dalam kriteria oran tua yang bersemangat.

Oleh karena itu, untuk bisa mencapai orang tua yang bersemangat maka orang tua itu harus menjadi orang tua yang ulet, memilki tekad yang kuat dan tidak mudah menyerah. Orang tua yang bersemnagat di mata anak-anak adalah orang tua yang tetap bisa membantu pelajaran anaknya dengan sepenuh hati, tidak memperlihatkan keletihannya, tetap optimis, humoris, santuy, menyenangkan, bisa diajak bercanda, tidak tegang, orang tua yang asyiklah pokoknya.

Memang tidak mudah, karena orang tua juga manusia biasa, ada batas-batasnya. Aktifitas harian dalam mencari nafakah, mengurus rumah tangga jelas akan menguras energi yang cukup besar. Ketika harus ditambah lagi dengan menemani anak mengerjakan PR rasanya ingin teriak, “hayati lelah baangg…!” Namun, kita harus ingat anak- anak itu adalah titipan Allah kepada kita. Maka, berletih-letih dalam mendidik dan membersamai anak tidak akan berbalas kecuali pahala dari Allah. Lakukan saja tugas kita sebagai orang tua dengan niat beribadah dan mencari keridhoan Allah. Jangan kita melakukan kewajiban dalam mendidik anak dengan pamrih kelak anak akan membalasnya di masa dewasa. Mendidik anak adalah kewajiban orang tua, melaksanakannya akan berbuah pahala bagi orang tua. Anak yang berbakti pada orang tuanya di kemudian hari adalah bonus bagi orang tua yang sudah menjalankan kewajibannya dengan baik.

Seringkali kita mengajarkan kepada anak sebuah doa untuk orang tua yang lazim diucapkan, “Robbighfirli wali walidayya war hamhuma kamaa robbani shoghiro” Artinya, ‘Ya Allah, ampuni dosaku dan dosa kedua orangntuaku, kasihi dan sayangilah mereka sebagaimana mereka mengasihi dan menyayangiku saat aku kecil.’ Redaksi doa ini menyebutkan anak meminta agar Allah mengasihi dan menyayangi orang tuanya sebagaimana orangnya memperlakukannya saat mereka kecil. Maka sebagai orang tua kita harus berhati-hati dengan konsekuensi dengan doa ini. Karena apa yang kita lakukan kepada anak saat mereka kecil bisa berbalik menjadi perlakuan anak kepada orang tuanya saat mereka dewasa. Maka, jadilah orang tua yang selalu bersemangat memberikan yang terbaik bagi anak-anak.

Ketika ada seorang ayah atau ibun yang bekerja membanting tulang siang dan malam, saat ditanyakan untuk apa semua itu dilakukan? Mayoritas akan menjawab untuk anak dan keluarga. Lalu, benarkah implementasinya?

Saat seorang anak menghampiri ayah atau bundanya untuk bertanya sesuatu, sudahkah kedua orang tuanya merespon dan menanggapi pertanyaan anak? Atau mereka justru hanya akan mendapat jawaban, “Nantilah ayah capek baru pulang kerja.” Atau “Duuh… bunda lagi repot jangan tanya-tanya dululah.” Kira-kira bagaimana perasaan anak?

Bagi seorang anak-anak, orang tua adalah pusat kehidupam mereka. Anak-anak berharap orang tua hadir bagi mereka di saat mereka membutuhkan. Maka, tidak memperlihatkan beban dan keletihan karena aktifitas harian orang tua di hadapan anak-anak, sejatinya kita sedang memberikan satu contoh teladan yang baik mengenai arti tanggung jawab dan perjuangan. Insyaallah, anak-anak akan bangga karena mempunyai orang tua yang tegar, tidak mudah menyerah dan selalu bersemangat untuk dirinya. Hal ni akan membawa dampak positif bagi tumbuh kembang anak, mereka akan belajar arti tanggung jawab, belajar untuk berterima kasih kepada orang tuanya sehingga di masa dewasanya kelak mereka akan berbakti kepada orang tuanya.

Wallahu’alam

22 Ramadhan 1441

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan