Menjadi Orang Tua yang Asyik bag. 3

Menjadi Orang Tua yang Asyik bag. 3

Menjadi Orang Tua yang Asyik bag. 3

By Ummu Rochimah

Pada bagian pertama dan kedua sudah dijelaskan mengenai kriteria orang tua yang asyik menurut anak-anak. Yaitu pertama, orang tua yang asyik itu adalah orang tua yang smart, pintar, berwawasan luas, bisa menjawab semua pertanyaan, bisa membantu mengerjakan PR, ngga lola alias loadingnya lama alias ngga pake lama mikirnya, tidak menunjukkan ketidaktahuannya.

Kriteria kedua, yaitu orang tua yang bersemangat, selalu ada saat anak membutuhkan, selalu berusaha meningkatkan kapasitas diri, bermental baja tidak mudah menyerah, ulet dan tegar.

Sementara kriteria ketiga dari orang tua yang asyik menurut anak pada survey kecil-kecilan ini, yaitu _bijaksana_. Menurut anak-anak, orang tua yang bijaksana itu adalah orang tua yang tidak otoriter, tidak semau gue, tidak memihak, senang berdiskusi, toleran, memberikan kesempatan kepada anak, tidak memaksakan kehendak dan demokratis.

Beraattt…. fergussooo…
Tapi inilah kenyataan yang harus dipahami orang tua

Kriteria ketiga ini sebenarnya suatu jalan yang jika dipilih oleh orang tua dapat mengantarkannya pada cara untuk menumbuhkan potensi kebaikan anak.

Setiap anak itu pada hakikatnya memiliki potensi kebaikan. Pada beberapa tahun yang lalu, mungkin kita terhentak, terharu dan bangga ketika mendengar dan menyaksikan prestasi seorang anak Indonesia berusia 5 tahun yang sudah hafal 29 juz Al Quran, ya! Musa nama anak itu. Mungkin sebelum itu kita hanya mendengar kisah anak yang hafal 30 juz Al Qura diusia belia yaitu, Imam Syafi’i yang kemudian menjadi ulama besar dan imam mazhab, sehingga membuka celah pemaafan, “Yaa terang aja, dia calon ulama besar..” Tapi, kita lupa bahwa beliau hafizh Al Quran itu jauuhh sebelum menjadi seorang ulama. Maka, sebagai orang tua, kita perlu menengok kepada bagaimana pola asuh orang tua-dalam hal ini ibunda imam Syafi’i- membesarkan anaknya. Imam syafi’i sudah ditinggal wafat ayahnya sejak beliau berusia 2 tahun.

Sementara itu di sisi lain ada juga kita dapati berbagai peristiwa dan yang menyesakkan dada, seperti beberapa waktu yang lalu kita mendengar peristiwa seorang siswa menganiaya dan membunuh gurunya, atau anak yang membunuh orang tuanya. Naudzubillah mindzalik.

Semua kondisi yang terjadi pada anak-anak, baik itu suatu yang bernilai positif atau negatif, baik atau buruk, bermula dari pola asuh yang diterapkan dalam rumah masing-masing. Bagaimana orang tua menerapkan pola asuh kepada anak-anaknya. Pola asuh dalam kehidupan rumah tangga akan membentuk karakter dan kepribadian utama bagi anak-anak,

Berbagai Macam Pola Asuh

1. Pola Asuh Demokratis

Saat ini sudah tidak jamannya lagi orang tua menganggap anak-anak itu sosok manusia yang polos, tidak tahu apa-apa, sosok yang dapat dibentuk semau orang tuanya, jadi ini jadi itu, harus begini dan begitu. (Jangan sambil nyanyi lagu doraemon ya?!). Anak itu adalah pribadi yang utuh, memiliki bakat dan potensi untuk dikembangkan, untuk menjadi dirinya sendiri. Sebagai orangtua yang bijaksana sebaiknya kita tidak memaksakan kehendak kita kepada anak. “Ayah pengen kamu jadi dokter, titik!” Yaa kalau anaknya memang berminat jadi dokter, itu bagus. Tapi, kalau anaknya tidak menyukai hal-hal yang berbau anatomis, bisa ambyar nanti hidupnya. Ayo lah ayah bunda, jadilah orang tua yang demokratis.

Seperti apa orang tua dengan pola asuh demokratis itu? Pola suh demokratis itu adalah pola asuh yang memilki ciri adanya hak dan kewajinan, orang tua dan anak adalah sama dalam arti saling melengkapi. Anak dilatih untuk bertanggung jawab dan menentukan perilakunya sendiri. Pola asuh demokratis akan mendorong remaja untuk bebas memilih minat dan bakatnya. Tetapi tetap ada batasan dan pengendalian tindakan-tindakan mereka. Bebas berbatas, bukan bebas tanpa batas.

Pola asuh demokratis akan melahirkan anak-anak dengan karakter yang mandiri, mampu mengontrol diri, mempunyai hubungan yang baik dengan teman-temannya, mampu menghadapi tekanan atau stress, bebas berkreasi dan bereksplorasi, menyenangkan dan percaya diri, serta selalu ceria dan bahagia.

Pola asuh demoktaris juga mengajarkan anak untuk bersikap toleran, yaitu sikap atau perilaku terbuka dan menghargai perbedaan yang ada. Diskusi kecil-kecilan di keluarga yang kemudian menampakkan perbedaan pendapat, saling berarhumen, namun sikap toleran tidak akan membuat anak menjadi baperan.

2. Pola Asuh Otoriter

Pola asuh otoriter adalah pengasuhan yang kaku, garing seperti kanebo kering, memaksakan kehendak orang tua tanpa alasan, “pokoknya…Titikk.!” Seringkali pola asuh seperti ini akan diikuti dengan penerapan hukuman fisik, misalnya, “kalau kamu nakal bunda cubit!” Atau semisalnya.

Orang tua menerapkan aturan standar yang mutlak sesuai kehendaknya, tidak ada ruang untuk bertanya, “mengapa harus begitu?” Tidak ada ruang diskusi, “kalau menurut aku sih….”. Anak harus menurut apa kata orang tua, biasanya disertai dengan ancaman-ancaman. Seringkali pola komunikasi yang terbangun dalam keluarga dengan pola asuh otoriter itu adalah komunikasi satu arah, memerintah, memaksa dan menghukum. Tidak ada celah untuk kompromi.

Pola asuh otoriter hanya akan melahirkan dampak buruk pada anak. Anak akan merasa tertekan, tidak bahagia, ketakutan, pendiam, suka menentang dan melanggar aturan atau norma, berkepribadian lemah, tidak memiliki inisiatif, lebih sering menarik diri dari pergaulan. Anak yang diasuh dengan pola asuh ini tidak emmpunyai keberanian untuk mengatakan tidak, selalu merasa takut salah, tidak punya kemampuan untuk mmilih, tidak bisa mengambil keputusan sendiri dan takut mengungkapkan pemdapat.

3. Pola Asuh Permisif

Pada pola asuh permisif, orang tua memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada anak untuk mengatur dirinya tanpa batasan. Anak dibebaskan begitu saja untuk menjalani kehidupannya. Tidak ada tuntutan tanggung jawab dan tidak ada komtrol dari orang tua. Ketika anak melakukan sebuah kesalahan, orang tua tidak memperingatkan meskipun anak dalam bahaya atau melakukan sesuatu yang sudah di luar batas kewajaran. Sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh orang tua.

Pola asuh permisif ini akan melahirkan anak-anak yang manja, kurang dewasa, tidak teratur, tidak disiplin, tidak patuh, mau menang sendiri dan tidak bisa mengendalikan keinginan. Namun, disisi lain anak akan tumhuh menjadi anak yang percaya diri dan kreatif.

4. Pola Asuh Pengabaian
Dalam pola asuh jenis ini biasanya terjadi penelantaran orang tua terhadap anak. Anak dibiarkan saja tumbuh semaunya. Umumnya hubungan orang tua dengan anak kurang hangat, seolah mereka berada di dunia yang berbeda, orang tua asyik dengan dunianya sendiri sehingga kurang terjadi interaksi dengan anak-anaknya, orang tua lebih mementingkan dirinya sendiri, menenggelamkan diri dalam pekerjaannya, sehingga abai terhadap kedekatan fisik dan psikis.

Pengasuhan jenis ini merupakan pengasuhan yang paling berisiko tinggi Gejala-gejala perilaku negatif akan muncul, seperti anak menjadi pemurung, terhambat dalam beradaprasi, cenderung kurang perhatian dan menjadi lebih agresif. Gejala-gejala ini akan semakin nampak saat anak berusia 8 sampai 12 tahun. Parahnya lagi kecenderungan negatif akibat pola asuh pengabaian ini adalah munculnya perilaku negati orang dewasa, seperti merokok, minum-minuman keras, seks bebas, bahkan terlibat dalam tindakaan kriminal.

Dampak psikologis dari pola asuh pengabaian ini yaitu, anak akan mempunyai harga diri yang rendah, ia tidak merasa menjadi bagian penting dari orang tuanya. “Gue buka siapa-siapa buat orang tua gue…” Anak tidak memiliki kontrol diri yang baik, mudah meledak-ledak, cepat emosi. Memiliki kemampuan sosial yang buruk. Dampak negatif ini akan terbawa hingga anak mencapai usia remaja bahkan hingga ia dewasa.

5. Pola Asuh Islami

Dalam Islam, pola asuh anak memiliki serangkaian tuntutan yang telah dicontohkan oleh nabi dan rasul. Islam mengajarkan pola asuh yang penuh dukungan dan kasih sayang terhadap anak. Ada nilai-nilai tauhid yang ditanamkan sebagai pondasi dasar kebaikan. Menanamkan perasan Ketuhann yang kuat di dalam jiwa anak, sehingga anak tahu bahwa ada Allah yang dibalik semua kejadian dan peristiwa. Mengajarkan sikap dan rasa cinta kepada Allah dan Rasul, memberikan asupan pendidikan yang sesuai dengan kemampuan anak, memberikan aturan yang konsisten, serta melakukan komunikasi timbal baik yang nyaman bagi anak.

Pola asuh islami ini juga menuntut dari orang tua sikap keteladanan dalam kebaikan. Sebelum menuntut anak untuk menjadi baik dan shalih sahalih, maka orng tua harus menjadikan diri mereka sebagai orang yang baik, shalih shalihah terlebih dahulu. Pola asuh islami sangat menekankan KETELADANAN. Jangan berharap mempunyai anak yang shalih, ketika sebagai orang tua kita masih sering meninggalkan sholat. Jangan berharap memiliki anak berakhlak baik, hormat pada orang tua, ketika kita sebagai orang tua kita masih sering menyakiti orang lain, dan sebagainya. Anak millenial bilang itu haluuu…

Pola asuh keteladanan seperti ini akan memunculkan sikap akhlak mulia, hormat kepada orang tua, taat pada nilai agama sebagai landasan mereka menjalani kehidupan pada masanya nanti. Di sisi lain, pola asuh keteladanan melahirkan anak yang selalu ceria dan bahagia karena meeka mendapaykan sentuhan kasih sayang yang tidak hanya bersifat material, namun juga spiritual, emosional, intelektual, moral dan amal.

Wallahu’alam
23 Ramadhan 1441

Sumber bacaaan :
Cahyadi Takariawan, Wonderful Parent Menjadi Orang Tua Keren, Era Adicitra Intermedia, Cetakan Pertama, Juli 2019
Rahmat Affandi, Inspiring Mom & Dad Cara Asyik dalam Mendidik, Gema Insani, Jakarta 2010

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan