.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“If you wait for inspiration to write you’re not a writer, you’re a waiter” –Dan Poynter.
.
Paul J. Silvia adalah profesor psikologi di University of North Carolina di Greensboro dan penulis buku “How to Write a Lot: A Practical Guide to Productive Academic Writing”. Ia menemukan beberapa fakta, mengapa banyak orang suka menunda menulis.
Menurut Paul J. Silvia, di zaman sekarang, semestinya sangat banyak kemudahan yang bisa dimanfaatkan oleh para ilmuwan untuk menulis. Namun nyatanya tidak demikian. Sangat banyak alasan untuk menunda menulis, hingga akhirnya tidak pernah menulis. Semua penundaan itu, menurut Silvia, berakar dari sifat manusia.
“Penundaan berakar dalam pada sifat manusia itu sendiri —selain kapasitas untuk berpikir reflektif, kemampuan untuk mengolah bahasa, ada pula kegemaran pada cemilan ‘gorengan’ yang lebih menggoda. Ini merupakan masalah yang menjengkelkan bagi penulis akademis”, ujar Paul J. Silvia.
Menurut Silvia, penundaan adalah kekuatan kreatif dalam diri sendiri, dan itu bisa menjadi luhur untuk diamati. Profesor jarang mengatakan “Saya tidak mengerjakan naskah karena merasa putus asa” atau “Saya memilih memeriksa Facebook karena saat membuka Microsoft Word untuk menulis naskah akademik, membuat diri saya layu dan mati.”
“Orang normal menunda-nunda menulis karena asyik nonton TV; profesor menunda-nunda menulis dengan membaca artikel dan menjalankan analisis”, ujar Silvia.
Alasan “Akademik” Menunda Menulis
“Procrastination is deeply rooted in human nature—alongside the capacity for reflective thought, the ability to acquire language, and the love of deep-fried desserts—so it’s a vexing problem for academic writers” –Paul J. Silvia, 2011.
Para penulis pada umumnya, mungkin menunda menulis dengan alasan tidak memiliki mood, atau tidak memiliki ide, atau alasan-alasan sepele lainnya. Saya dan sebagian Anda menunda menulis, mungkin karena tergoda aroma pizza, atau semerbak harum kopi yang membuat kita meninggalkan meja kerja.
Namun bagi para akademisi, alasan menunda menulis ternyata berbeda. Berdasarkan pengalaman mendalam Paul J. Silvia sendiri, ia menyebutkan beberapa alasan utama untuk menunda menulis, terutama pada kalangan akademisi.
- Menulis itu tidak menyenangkan.
“Procrastination is a creative force in its own right, and it can be sublime to observe” –Paul J. Silvia, 2011.
Bagi beberapa kalangan akademisi, menulis itu tidak menyenangkan. Alasan ini muncul karena menulis adalah ‘kewajiban’ akademik, misalnya sebagai persyaratan naik pangkat atau persyaratan jabatan. Pada proses menulis yang bercorak kewajiban akademik atau persyaratan jabatan, maka aktivitas menulis terasa sangat menjadi beban. Tidak bisa dikerjakan dengan ‘semudah bernapas’. Tidak bisa dilakukan dengan model ‘menulis dengan hati’.
- Perasaan ‘kecut’ setelah selesai
“Normal people procrastinate with TV; only professors procrastinate by reading articles and running analyses” –Paul J. Silvia, 2011.
Menurut Silvia, ketika naskah selesai ditulis, mungkin Anda justru akan merasa berkecil hati. Bukan bergembira. “Akhirnya hal yang menyedihkan ini selesai”. Merasa kecut dan kecil hati, karena was-was menunggu hasil penilaian.
- Kewajiban melakukan revisi
“Professors rarely say “I’m not working on that paper because I feel discouraged” or “I’m checking my Facebook because opening Microsoft Word makes a small part of me wither and die” –Paul J. Silvia, 2011.
Hal lain yang menjadi penghambnat menulis di kalangan akademisi adalah kewajiban melakukan revisi setelah penilaian. Ternyata, naskah Anda belum benar-benar selesai. Anda masih harus merevisinya setelah mendapat penilaian.
- Masih banyak tumpukan kewajiban lainnya
“If you have a backlog of writing, finishing one paper means that you must start on one that has been put off for even longer” –Paul J. Silvia, 2011.
Jika Anda memiliki tumpukan (tunggakan) naskah akademik yang harus ditulis, menyelesaikan satu naskah berarti Anda harus segera memulai mengerjakan naskah lain yang telah ditunda lebih lama lagi. Ini membuat Anda merasa semakin berat.
- Penilaian yang tidak menyenangkan
“When you send your paper to a journal, some of the reviewers will dislike it, and a few of them, I have found, will toss it into a deep fryer” –Paul J. Silvia, 2011.
Ketika Anda mengirim naskah ke jurnal akademik, beberapa penilai tidak akan menyukainya, dan beberapa dari mereka bahkan akan membuangnya ke tempat sampah. Ini tentu terasa menyakitkan bagi kerja keras Anda menyelesaikan naskah akademik.
Bahan Bacaan
Paul J. Silvia, Procrastination: On Writing Tomorrow What You Should Have Written Last Year, https://blog.apastyle.org, Mei 2011