Kembali
Positive Writing

Menjaga Spirit Menulis – 3

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Stay focused on learning and improving the craft. Don’t give up and, eventually, things will fall into place” –Chuck Barrett.

.

Chuck Barret, penulis Publishing Unchained: An Off-Beat Guide to Independent Publishing (2013) dan puluhan bukulainnya menyatakan, “Menulis fiksi bukan untuk orang yang lemah hati. Diperlukan dorongan dan tekad. Dibutuhkan kekuatan untuk berurusan dengan kekecewaan dan penolakan”.

Tentu saja ini tidak hanya terkait dengan rumpun fiksi, namun terkait dengan tulis menulis pada umumnya. Saat aktivitas menulis sudah memasuki wilayah publikasi, maka diperlukan jiwa yang kuat, diperlukan dorongan yang kuat dan tekad yang bulat. Tulisan yang sudah dipublikasikan, bisa mendapatkan penilaian dari pembaca maupun kritik dari para kritikus. Ini yang dimaksud Barret sebagai “not for the faint of heart”.

Dalam istilah yang lain, penulis tidak boleh baper. Penulis harus memiliki kekuatan mental untuk kuat menghadapi berbagai kondisi yang tak sesuai harapan. Misalnya, saat memosting tulisan di media sosial, dan tidak ada yang memberikan likes ataupun comments dan shares; tidak boleh kecewa. Jika kecewa gara-gara efek LCS (likes, comments, shares) tersebut, artinya ia penulis yang baper alias lemah mental.

“Fiction writing is not for the faint of heart. It takes drive and determination. It takes dealing with disappointment and rejection. Stay focused on learning and improving the craft. Don’t give up and, eventually, things will fall into place” –Chuck Barrett

Dalam aktivitas menulis, ungkap Chuck Barret, diperlukan kekuatan untuk berhadapan dengan kekecewaan dan penolakan (disappointment and rejection). Penulis tidak boleh menyerah hanya karena hasil karya yang dilakukan dengan serius, mendapat penolakan dari koran, majalah, ataupun penerbit mayor. “Tetap fokus untuk belajar dan meningkatkan keahlian. Jangan menyerah dan, pada akhirnya, semuanya akan jatuh pada tempatnya,” ujar Chuck Barrett.

Siap Menghadapi Penolakan

“Rejection is my biggest pitfall as a writer. Am I good enough?” –Jennifer Froelich.

Pengalaman mendapatkan penolakan terkadang menimbulkan ketidakpercayaan diri penulis. Terutama pada penulis pemula, ditolak oleh sebuah koran lokal, bisa menurunkan rasa percaya dirinya. Tak jarang membuat dirinya takut untuk menulis dan mengirimkan naskahnya lagi. Mengalami trauma penolakan, adalah salah satu ‘kecelakaan’ dalam dunia tulis menulis.

Jennifer Froelich, penulis buku A Place Between Breaths menceritakan pengalamannya. “Penolakan adalah perangkap terbesar saya sebagai penulis. Apakah saya cukup baik?” ujar Froelich. “Mark Twain mengatakan dia bisa hidup dua minggu dengan pujian. Saya juga orang yang seperti itu”, lanjutnya.

Rupa-rupanya, banyak penulis mengalami ketakutan mengalami penolakan. Tak jarang mereka mempertanyakan diri sendiri, apakah tulisanku layak, apakah tulisanku bermutu, apakah tulisanku berguna, dan seterusnya. Banyak penulis yang berharap banyak pujian dan membenci kritikan. Maka penolakan adalah momentum yang bisa menghasilkan letupan kekecewaan berlebihan.

“Mark Twain said he could live two weeks on a compliment. I’m that kind of person too. I crave good reviews, but—happily—I don’t become undone by bad ones. If Jane Austen has her critics, then who am I to complain if someone doesn’t care for my novel?” –Jennifer Froelich.

Boleh dan saja berharap pujian, namun jangan sampai menjadi kalah dan lemah oleh kritik dan celaan. Ditolak oleh koran, majalah dan penerbit, jangan sampai menyebabkan Anda terjerembab terlalu dalam pada kubangan kekecewaan. “Saya mendambakan ulasan yang bagus, namun untungnya saya tidak dikalahkan oleh ulasan yang buruk”, lanjut Froelich.

“Jika karya Jane Austen saja dikritik, lalu kepada siapa saya harus mengeluh jika seseorang tidak peduli dengan novel saya?” ujar Jennifer Froelich. Ini adalah sebuah pertanyaan yang bagus untuk menguatkan tekad dan menjaga spirit menulis. Jangankan kita yang penulis pemula, sedangkan sekaliber Jane Austen saja tetap dikritik karyanya. Maka jangan terlalu berharap pujian, dan jangan terlalu alergi celaan.

Belajar dari Penolakan

“I’ve gotten a lot of rejections, so that’s always hard. However, I think failure can be a great teacher” –Celeste McMaster.

Celeste McMaster menceritakan pengalaman mendapat penolakan. “Saya mendapat banyak penolakan, jadi itu selalu sulit. Namun, saya pikir kegagalan bisa menjadi guru yang hebat”, ujar McMaster. Pengalaman ditolak tidak membuatnya  menjadi lemah semangat apalagi berputus asa. Baginya, kegagalan harus bisa menjadi guru yang hebat.

Wajar saja jika pertama kali mengirim tulisan ke koran belum berhasil dimuat. Wajar saja jika pertama kali mengirim naskah ke majalah, belum berhasil diterima. Juga wajar jika mendapat penolakan dari penerbit mayor, karena naskah bukunyang dikirim belum memenuhi standar penilaian tim editor. Sangat banyak penulis yang memiliki pengalaman ditolak oleh koran, majalah atau penerbit mayor.

Menariknya, Celeste McMaster menjadikan penolakan sebagai pelajaran untuk bersikap bijak. “If we succeed too much, we risk becoming arrogant and thinking there’s nothing more to learn. Jika terlalu berhasil, kita berisiko menjadi sombong dan berpikir tidak ada lagi yang bisa dipelajari” ujarnya. Mendapat penolakan adalah pertanda bahwa kita harus banyak belajar, maka jangan sombong dan besar kepalaatas karya yang sudah Anda hasilkan.

“Seperti yang dikatakan oleh salah satu mahasiswa saya baru-baru ini dengan bijak, ‘Kegagalan adalah hadiah.’ Terutama ketika kegagalan itu membantu kita untuk menjadi penulis, pembaca dan pemikir yang lebih baik,” sambung Celeste McMaster.

“As one of my recent students wisely said, ‘Failure is somewhat of a gift,’ especially when it helps us become better writers, readers, thinkers” –Celeste McMaster.

Jadi, santuy saja, jika naskah Anda ditolak koran, majalah atau penerbit mayor. Penolakan itu akan mendewasakan Anda dan membuat Anda belajar lebih banyak untuk karya tulis berikutnya. Anda akan semakin matang.

Bahan Bacaan

Colleen M. Story, 30 Quotes to Boost a Writer’s Spirit, https://writingandwellness.com, 26 Desember 2016

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.