.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Realize that missing a milestone, making a seemingly disastrous error, or taking a significantly wrong turn are all the experiences of successful writers” –Laura Tong.
.
Ada sangat banyak penulis hebat yang mengawali perjalanan karier menulis dari cerita kegagalan. Apapun bentuk dan jenis kegagalan itu. Sebagian dari mereka terdorong oleh kegagalan hubungan asmara yang menyakitkan. Ada yang merasakan kegagalan dalam membangun rumah tangga. Ada pula yang dilatarbelakangi kegagalan usaha; dan lain sebagainya.
Diana Athill adalah salah satu contohnya. Penulis buku “Don’t Look at Me Like That” dan puluhan lainnya ini pernah mengalami keterpurukan yang parah dalam kehidupannya. “Sejak usia 22 sampai sekitar 39, saya tahu diri bahwa saya gagal”, ujarnya.
“Selama bertahun-tahun itu saya tidak benar-benar menderita, karena saya masih tetap melakukan pekerjaan yang saya senangi, menyukai teman-teman dan sering kali bersenang-senang,” lanjutnya. “Tetapi jika saya menengok ke belakang untuk melihat hidup saya dan menilainya, saya melihat bahwa itu memang kegagalan. Tidak berlebihan saya sebut itu”.
“Masih teringat dengan jelas saat-saat saya melakukan hal itu. Itu adalah masa yang suram,” ungkap Athill. “Masa kecil dan masa remaja saya sangat bahagia. Jadi saya adalah seorang wanita muda yang mengharapkan jawaban ‘Ya’. Dan kemudian, dengan kelambatan yang menyiksa, ternyata saya mendapat jawaban ‘Tidak’,”kenangnya.
Dalam situasi keterpurukan dalam hidupnya yang membuat Athill hampir menyerah dan berputus asa. Namun ia menemukan sesuatu. “Saya menemukan bahwa saya dapat menulis”, ujarnya. Semua kisah keterpurukan, rupanya menjadi pendorong untuk menumpahkan melalui tulisan.
Ketika mulai menulis, ia merasa mampu keluar dari kubangan kegagalan. Athill menuliskan berbagai ‘kehancuran’ yang pernah dirasakannya. “Itu adalah tulisan yang benar-benar mengakhiri kegagalan”, ujarnya. Dengan menulis, ia telah melakukan katarsis.
“Pada awal 1960-an, sembilan cerita ‘terjadi’ pada diri saya. Saya mengatakan ‘terjadi’ karena saya tidak memutuskan untuk menulisnya, tetapi tiba-tiba merasakan semacam gatal yang aneh, yang membuat saya bisa menuliskannya”, sambung Athill. Itulah dorongan yang muncul di saat merasakan kegagalan.
“Bahkan salah satu tulisan saya mendapatkan penghargaan cerita pendek”, ujar Athill. “Berita itu mencengangkan. Yang lebih mencengangkan lagi ketika diberi tahu bahwa dari dua ribu cerita pendek yang masuk, ternyata ceritaku dinilai sebagai yang terbaik!” Jelas ini tidakpernah dibayangkan oleh Athill. Karena ia hanya ingin melakukan katarsis.
Anda Tidak Sendirian
“Stop feeling like a failure as a writer, and start feeling like a success because by failing you’re in the best company to succeed” –Laura Tong.
Jika peristiwa kegagalan dalam kehidupan bisa mendorong Diana Athill menjadi penulis sukses, maka semua dari kita pun bisa melakukannya. Tentu saja tidak perlu berharap memiliki cerita kegagalan dan keterpurukan agar bisa bangkit serta sukses. Namun jika dalam proses belajar menulis Anda menemukan sangat banyak kendala, dan akhirnya merasakan gagal, nikmati saja sebagai paket utuh pembelajaran.
Saat menemukan kegagalan, ketahuilah Anda tidak sendirian di muka bumi ini. “Berhentilah berpikir bahwa Anda sendirian”, ujar Laura Tong. “Sadarilah bahwa melewatkan tonggak sejarah, membuat kesalahan yang tampaknya membawa malapetaka, atau mengambil belokan yang salah secara signifikan adalah pengalaman semua penulis sukses”, lanjutnya.
Untuk menjadi penulis produktif, terkadang Anda harus melawati berbagai rintangan dan kesulitan. Jalan yang Anda lalui bukanlah jalan tol lurus dan halus mulus. Wajar jika kadang terjatuh, gagal, dan tertolak oleh media penerbitan. Kisah-kisah kegagalan menulis dan penolakan di penerbit adalah klise dan sudah sangat banyak yang mengalami. Anda jelas tidak sendiri.
“Remember, you are far from alone when you fail. You are standing right where all the successful writers stood before you. You’re walking in their shoes and taking their path” –Laura Tong.
“Seperti Anda, mereka menemukan bahwa jalan menuju sukses dapat mengalami beberapa penyimpangan tak terduga yang kadang membuat Anda merasa tersesat, bingung, dan sendirian”, ungkapTong. “Bahkan novel pertama yang sukses dapat diikuti oleh kegagalan dalam projek berikutnya”, sambungnya.
Tak ada jaminan bahwa setelah sukses dengan sebuah penerbitan, untuk edisi berikutnya akan selalu sukses. Sebagaimana tak ada keharusan bahwa setelah gagal menjual sebuah buku, untuk edisi berikutnya akan selalu gagal total. Tak ada rumus seperti itu.
Para penulis sukses juga biasa saja mengalami kegagalan. “Mereka menemukan tekad untuk merencanakan kembali rute mereka ketika sempat terlempar keluar jalur, Anda juga bisa melakukannya”, ungkap Tong. Yang dilakukan penulis sukses adalah menolak merasa gagal. Mereka cepat bangkit dari keterpurukan dengan memproduksi karya baru.
Berbagai peristiwa kegagalan justru menjadi pemicu sukses. Penulis sukses adalah mereka yang terus menulis di saat menemukan kegagalan. “Ingat, Anda tidak sendirian ketika gagal. Anda berdiri tepat di tempat semua penulis sukses berdiri di hadapan Anda. Anda berjalan di sepatu mereka dan mengambil jalan mereka”, sambung Tong.
Maka jangan merasa gagal. Segera teruskan berlatih menulis. “Berhentilah merasa gagal sebagai penulis, dan mulailah merasa sukses karena dengan gagal Anda berada di posisi terbaik untuk sukses”, ujar Tong.
Sudah siap?
Bahan Bacaan
Laura Tong, 10 Ways To Stop Feeling Like A Failure As A Writer, https://writetodone.com, diakses 19 Mei 2022
The Guardian, Falling Short: Seven Writers Reflect on Failure, https://www.theguardian.com, 22 Juni 2013