Menuju Peradaban Kuat dan Bermartabat

Menuju Peradaban Kuat dan Bermartabat

Catatan Perjalanan dari Gothenburg

Oleh: Ir. Siti Syamsiyah, Ph.D.

 

 

Majalah Time edisi pertengahan Juli 2002 memuat sebuah surat yang dikirimkan dari negeri Cina. Diceritakan dalam surat tersebut bagaimana sulitnya pria Cina mencari istri dan makin banyaknya anak-anak yang lahir dalam keadaan cacat mental maupun fisik. Dua hal ini ternyata sangat berkaitan, sebagai akibat diberlakukannya aturan pemerintah yang membatasi jumlah anak dalam sebuah keluarga. Dengan aturan maksimal satu anak dalam keluarga—boleh dua jika yang lahir pertama adalah perempuan—maka sebagian besar keluarga menelantarkan (baca: membunuh pelan-pelan) bayi yang lahir perempuan. Akibatnya, jumlah laki-laki jauh melebihi perempuan, sehingga untuk menikah laki-laki harus mengikuti persaingan yang ketat.

”Harga” perempuan menjadi sangat mahal, dan hanya orang-orang yang sangat mampu yang bisa memenangkan persaingan tersebut. Bagaimana dengan orang-orang biasa apalagi miskin? Mereka ”terpaksa” menikahi perempuan yang masih anggota keluarga dekat. Akhirnya tidak dapat dihindari, perkawinan seperti ini menurunkan anak-anak yang tidak sehat, baik jasmani maupun rohani.

Peristiwa pembunuhan bayi perempuan, ternyata tidak hanya dilakukan pada zaman sebelum kedatangan Islam, meskipun dengan motivasi dan metode yang berbeda. Pada keadaan yang disampaikan di atas, lembaga perkawinan yang mengikat hubungan antara laki-laki dan perempuan masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tersebut. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi di sebagian negara-negara Eropa, di mana lembaga perkawinan bukanlah satu-satunya pengikat hubungan laki-laki dan perempuan, bahkan makin hari menjadi makin tidak populer.

Saya pernah ditanya oleh salah seorang teman saya orang Eropa, “Sudah berapa lama anda menikah?” Saya katakan, “Sudah lima tahun.” Dia terlihat begitu heran mendengar jawaban itu, dan bergumam, ”Sudah lama sekali.” Padahal, menurut ukuran kita umumnya, lima tahun merupakan waktu yang masih sangat singkat dalam sebuah pernikahan. Keheranan seperti ini bukanlah milik teman tersebut saja seorang diri, tetapi menggambarkan keadaan umum. Nikah dan cerai bukanlah sesuatu yang harus dipertanyakan. Data statistik menunjukkan bahwa angka perceraian di negara-negara Uni-Eropa 14% pada tahun 1960, dan 28% pada tahun 1980.

Dengan dilegalkannya hidup bersama tanpa nikah, orang menjadi malas untuk repot-repot nikah, sebab toh akhirnya sebentar lagi cerai. Lebih dari itu, anak yang dilahirkan dari hubungan di luar nikah pun mendapatkan hak dan fasilitas yang sama dari pemerintah. Pada tahun 1980, anak yang lahir dari pasangan tanpa nikah sebesar 9,6%, meningkat menjadi 25,3 % pada tahun 1997. Kalaupun sebuah pasangan akhirnya menikah setelah hidup bersama cukup lama dan beranak cucu, semata-mata menjadi semacam refreshing dari rutinitas sehari-hari.

Perubahan tatanan hidup bersama tidak hanya sampai di situ. Orang tidak lagi merasa risih untuk hidup bersama layaknya suami istri dengan kawan sejenis: perempuan dan perempuan, laki-laki dan laki-laki. Pasangan semacam ini pun diberi hak untuk mempunyai anak dengan cara yang disukai, mengadopsi atau hamil dan melahirkan (bagi yang perempuan) dengan bantuan teknologi yang ada. Kehidupan semacam ini juga diakui legalitasnya oleh negara, seperti yang terjadi di Belanda.

Keadaan di atas sebenarnya merupakan satu rangkaian, di mana satu keadaan merupakan buah atau produk dari keadaan lain. Generasi yang kesepian karena ikatan yang lemah antara anak dan orang tuanya serta kawan pergaulannya, berkembang menjadi generasi yang senantiasa mencari identitas diri berdasarkan norma-norma yang dibuat sendiri, yang pada akhirnya menjadi norma umum. Menjadi teler atau mabuk merupakan salah satu yang dianggap penuntas masalah yang dihadapi.

Banyaknya orang-orang yang meminum minuman beralkohol di negara-negara Barat dianggap suatu hal yang wajar bagi sebagian orang, dengan alasan untuk menghangatkan tubuh karena cuaca yang dingin. Benarkah demikian? Baru-baru saja, harian gratis Metro yang beredar di Gothenburg (Swedia) menampilkan data tentang hubungan antara cuaca (suhu udara) dan angka penjualan minuman beralkohol. Pada musim panas, penjualan bir dan minuman beralkohol lainnya justru mencapai angka yang paling tinggi pada saat suhu udara ada di antara 20-25 derajat celcius.

Harian yang sama bahkan pernah memaparkan bahwa penjualan minuman beralkohol justru mencapai angka maksimal pada saat mid-summer (pertengahan musim panas). Dan secara umum, pada saat hari cerah dan panas, lebih banyak ditemui orang mabuk. Dengan demikian, argumen bahwa mereka minum untuk menghangatkan tubuh menjadi patah. Lalu, apalagi kalau bukan karena ingin lari dari kenyataan dan membunuh rasa kesepian yang melilit?

Demikianlah, sedikit gambaran tentang kehidupan di banyak negara yang mengklaim dirinya sendiri atau diklaim oleh negara lainnya sebagai negara maju dan beradab. Semua itu dilakukan di atas nama kebebasan. Ironisnya, gaya hidup tersebut cukup dan mungkin sangat dikagumi oleh masyarakat kita di Indonesia, dan tidak sedikit yang menjadikannya sebagai idola sekaligus mempraktikkannya dalam kehidupan kesehariannya.

Mereka ingin disebut sebagai orang modern dengan mengikuti gaya hidup orang-orang Barat, baik dari sisi fisik (penampilan, pergaulan, tatanan keluarga) maupun cara berpikir. Padahal pada saat yang sama, mereka, orang Barat sendiri, sebenarnya cukup khawatir dengan kelangsungan eksistensi mereka, terutama dengan generasi penerus (muda) mereka.

Terlepas dari pencapaian kondisi ekonomi yang tinggi dan iptek yang maju, tidak sedikit data yang memaparkan bahwa negara-negara ”maju” mulai gelisah dengan terus menurunnya angka kelahiran, turunnya minat generasi muda untuk menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi atau pada bidang yang memerlukan sedikit lebih daya pikir.

Bukankah sesuatu yang kurang masuk di akal, jika di antara kita bangsa Indonesia justru menjadikan mereka sebagai idola? Sebagian dari masyarakat kita berlindung di balik argumen ”nyatanya mereka maju dengan gaya dan tatanan hidup seperti itu”. Sebagian yang lainnya terkagum-kagum dengan jargon-jargon kesamaan antara perempuan dan laki-laki dan jargon-jargon kebebasan yang kerap didengungkan oleh peradaban ”modern”.

Sebagai bangsa yang religius, sebenarnya kita sudah memiliki pijakan yang kuat dan kokoh, yaitu ajaran agama. Di dalam Islam, misalnya, ada ajaram tentang persamaan antara pria dan wanita serta kebebasan manusia. Namun seperti yang ditulis oleh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al Buthy ketika memberi komentar pada salah satu poin Piagam Madinah, bahwa ada perbedaan antara ”persamaan” kemanusiaan yang ditegakkan oleh Islam dan bentuk-bentuk ”persamaan” yang diteriakkan oleh pengagum peradaban ”modern”.

Persamaan yang ditegakkan Islam adalah persamaan yang didasarkan pada fitrah manusia, yang memberikan dan menjamin kebahagiaan yang kekal dan abadi kepada semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, baik secara individual maupun masyarakat. Sedangkan persamaan yang diserukan oleh para penguasa peradaban ”modern” adalah persamaan yang didorong oleh hawa nafsu, yang hanya memberikan kebahagiaan sesaat pada segelintir orang, namun sekaligus juga memberikan dampak negatif yang luas pada masyarakat bahkan pada eksistensi suatu bangsa.

Sayang sekali, ajaran Islam tersebut pada saat ini sulit dibayangkan dan diterima oleh sebagian masyarakat pemeluknya sendiri. Salah satu penyebab utamanya adalah karena tidak adanya contoh atau teladan yang nyata, yang bisa dilihat dan diikuti. Negara-negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam terbelit dengan berbagai masalah besar: pemimpin yang korup dan tidak berpendirian, masyarakat muslim yang secara umum berada pada kondisi lemah karena kebodohan dan kemiskinan, individu-individu yang tidak mencerminkan kehidupan religius, dan sejumlah masalah lainnya.

Krisis keteladanan ini tampaknya sudah begitu parah. Sebagai salah satu bukti adalah pernyataan dari paling tidak dua muslimah muallaf, orang Swedia, yang saya kenal. Dalam masa pencariannya, mereka berjanji pada diri sendiri kalaupun akan berpindah dari agama yang saat itu dianutnya (Nasrani), ”Definitely it isn’t Islam.” Hal ini mereka sampaikan karena sudah demikian jeleknya citra Islam di mata mereka dan saya kira di mata sebagian orang lainnya. Mengapa hal ini terjadi? Semata-mata karena memang hampir-hampir tidak ada kebaikan yang dapat mereka lihat dari orang yang mengaku pengikut Islam di sekitar mereka, baik dari tataran masyarakat biasa, lebih-lebih dari kalangan para pemimpin….

Di sisi lain, saat ini kita menyaksikan semaraknya dakwah Islam di pelbagai penjuru dunia, termasuk di negara-negara yang mayoritas penduduknya adalah nonmuslim, seperti di negara-negara Eropa dan Amerika, di mana Islam merupakah agama yang paling cepat pertumbuhannya. Bukan hanya dari segi kuantitas, namun juga kualitas. Seperti yang ditulis pada majalah Time (European edition), 24/12/2001: “In fact, unlike that of their Christian neighbours, the religious faith of Europe’s Muslim is getting stronger.”

Di Inggris misalnya, saat ini wanita muslim yang menggunakan jilbab jauh lebih banyak dibandingkan 10 tahun yang lalu. Sebuah survei yang dilakukan oleh harian berbahasa Perancis Le Monde bulan Oktober 2001 menggambarkan bahwa orang-orang dengan latar belakang muslim semakin giat melakukan shalat, semakin sering berkunjung ke masjid dan semakin antusias melakukan puasa Ramadhan, dibandingkan tahun 1994, ketika survei yang sama dilakukan.

Yang menarik dari hasil survei tersebut adalah naiknya semangat  keislaman ini justru terjadi pada orang-orang muslim yang pernah belajar di universitas. Anak-anak muda muslim (usia SMA) di Stockholm dan Gothenburg, dua kota terbesar di Swedia, mengisi liburan musim panas dengan melakukan Islamic Summer Camp di luar kota, tidak ikut-ikutan budaya lokal dengan berjemur di taman-taman atau pantai-pantai dengan pakaian serba terbuka. Pada hari Jum’at malam, ketika sebagian besar anak-anak muda pergi ke bar dan diskotek serta larut dengan minuman beralkohol, mereka justru berkumpul, duduk sambil mendengarkan ceramah keislaman.

Benarlah seperti apa yang pernah diungkapkan oleh K.H. Rahmat Abdullah, ”Justru pada saat umat lain yang memenuhi rumah-rumah ibadah mereka adalah kaum manula, ternyata shaf shalat jamaah terdepan dan mayoritas shaf shalat jamaah di kalangan umat Islam dipenuhi generasi muda berpendidikan.”

Semestinyalah untuk mencapai masyarakat yang dicita-citakan oleh setiap insan yang berpikir logis,  adalah mengikuti jalan kenabian. Sebuah jalan yang seimbang dan moderat; yang menghubungkan manusia dengan Tuhan; yang menggabungkan unsur spiritual dan material; menyeimbangkan antara akal dan hati; menyatukan ilmu dan amal, serta meningkatkan moral seiring dengan peningkatan material. Dan satu-satunya kunci untuk mencapai itu adalah diimbanginya keindahan Islam dengan keteladanan penganutnya; dari sisi komitmen dalam kebaikan.

Semoga kita bisa menuju ke sana.

 

**********

 

Ir. Siti Syamsiyah, Ph.D., lahir di Magetan, 3 Maret 1963, wafat di Yogyakarta tahun 2018. Beliau pernah menempuh pendidikan S-1 Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik UGM, diteruskan mengambil S-3 di Chemical Engineering Department University of Queensland, Australia. Selama di luar negeri, ia aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, di antaranya Persatuan Pelajar Indonesia di Australia, Himpunan Pengajar dan Peneliti Indonesia di Australia, Moslem Student Association of Queensland, Australia, dan Chalmers Moslem Association, Gothenburg, Swedia. Semasa hidup, beliau mengabdikan ilmunya sebagai dosen Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik UGM; Peneliti Tamu di Chalmers University of Technology, Swedia; Ketua Proyek Kerja sama Internasional (Kawasan Asia) University College of Borås, Swedia; serta LEAD (Leadership for Environment and Development) International.

 

ruangkeluarga

Tinggalkan Balasan