Kembali
Ruang Tamu

Menulis Adalah Jeda Rutinitas Kehidupan

.

Oleh : Syukron Al Ghiffari (Alumni Kelas Menulis Alineaku)

“Berlatih menulis adalah berlatih untuk memelihara kehidupan” –Syukron Al Ghiffari, 2022.

.

Dunia literasi sebenarnya bukanlah hal yang pelik. Dia hanyalah lampu bersumbu nalar dengan minyak jiwa bening sebagai bahan bakar. Sebab itu menulis laksana pelita yang dengannya suasana pandangan menjadi terang benderang ataupun tanpa panas yang memancarkan cahaya lalu jadi gelap gulita.

Dengan menyelamatkan dunia kepenulisan, sebenarnya tanpa sadar kita memasuki ruang jeda dari rutinitas. Pemikiran begitu juga aktifitas jasadiah secara beriringan memberi sokongan hingga akhirnya ada ruang letih bahkan jenuh.

Maka dari itu menulis dengan rutin menjadi jeda dari rutinitas, sehingga menulis menjadi pelampiasan membangun bagi seorang penulis. Dengan sadar atau tanpa sadar penulis dapat dikatakan sebagai influence bagi orang lain.

Sebuah kisah dari guru madrasah yang juga seorang penulis. Ia berhasil menghimpun tulisan ke dalam sebuah buku. Pada hari penerbitan buku perdana itu sang guru merasakan kebahagian dan spirit baru yang memacu jiwanya untuk terus berkarya.

Namun bukan hanya sampai di situ, sebab para muridnya banyak yang termotivasi untuk menulis dan berkarya dengan melahirkan buku solo. Seakan tak terbendung dengan kurang lebih dua bulan, belasan muridnya ikut jejak sang guru. Dan guru tersebut adalah saya.

“Menulis bukan bakat semata namun dia adalah keuletan, konsistensi, bahkan bahagian dari kehidupan” –Syukron Al Ghiffari, 2022.

Menulis bukan bakat semata namun dia adalah keuletan, konsistensi, bahkan bahagian dari kehidupan. Sehingga kalimat yang tepat untuk kepenulisan adalah “berlatih menulis adalah berlatih untuk memelihara kehidupan”. Itu menurut saya, kita boleh berbeda kata tapi sama dalam makna.

Keberhasilan membangun paradigma positif yang kemudian dituangkan ke dalam tulisan, adalah sebuah pembelaan dan perjuangan sekaligus perlawanan untuk kemunduran nalar seseorang, masyarakat bahkan suatu bangsa. Mengapa demikian?

Jika Anda hanya berbicara maka suara Anda hanya terdengar beberapa meter. Namun, jika bicara itu dituliskan maka akan jauh tersebar ke berbagai penjuru. Selain itu, menulis adalah upaya mengekalkan kata kata.

Agar Tulisan Lebih Bermakna

Perlunya menyemangati diri agar tetap menulis adalah upaya utama seorang penulis. Adapun  tips agar menulis lebih bermakna sebagai berikut ini :

  • Mengharapkan keridhoan Allah

Tujuan tidak boleh ke lain arah kecuali hanya menuju Allah. Jika ini dilatih terus menerus maka kemanfaatan dari tulisan itu memberikan nuansa khusus. Dengan memiliki orientasi yang benar maka menulis menjadi lebih bermakna.

  • Berkesinambungan

Dengan memaknai menulis adalah jeda dari rutinitas, maka berarti kita membutuhkan jeda yang berkesinambungan agar tulisan kita semakin tajam dan mengedukasi.

  • Menulislah walau hanya engkau yang membacanya

Mengapa demikian? Sebab menulis yang menjadi habit maka ia akan mampu menjadi poros energi yang terbarukan.

Andai tulisan ku mampu menembus langit

Kan kujadikan hamparan kutub adalah bukunya.

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.