Kembali
Motivasi Menulis

Menulis Dengan Ketajaman Emosi – 2

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“When we write about something honest and real, our readers will feel what we’ve felt, so long as we conveyed that emotion in the most truthful way we know how” – The Magic Violinist

.

Suatu ketika Lauren Booth, jurnalis di Press TV, melakukan kunjungan ke Gaza untuk agenda liputan berita. Ia berjalan-jala di Gaza, dan ingin mengetahui kehidupan warga.

Lauren mengetuk pintu salah satu rumah warga. Seorang ibu keluar dengan wajah berseri-seri mempersilahkan ia masuk ke dalam.

Rumah ibu itu sangat sederhana. Hanya tampak dua tikar untuk tidur, shalat serta tempat untuk hidangan makanan. Tak ada peralatan lain.

Setelah masuk, Lauren duduk di tikar yang telah disiapkan. Ibu itu menyodorkan makanan. Beberapa potong roti, bumbu, dan selada. Melihat menu itu, Lauren berulang-ulang menolak makan. Ia khawatir hanya makanan itu yang ibu itu punya.

“Anda adalah tamu kami, makanlah seadanya,” ujar sang ibu. Untuk menghormati, Lauren memakan roti sembari mengajak makan bersama. Tetapi ibu itu menolak. “Saya sedang berpuasa” ujarnya.

Lauren terkejut. Ia bertanya mengapa ibu itu berpuasa padahal kondisinya serba kekurangan.

“Kami berpuasa sebagai rasa syukur kami kepada Allah. Dengan puasa kami bisa merasakan apa yang dialami saudara-saudara kami yang miskin,” jawab ibu.

Speechless, Lauren kehabisan kata-kata. “Ibu ini tak punya apa-apa di dunia. Dia masih bersyukur dan berbagi rasa dengan orang yang lebih miskin darinya,” ungkap Lauren.

Sebuah kisah yang sangat mengagumkan bagi Lauren. Seorang warga Inggris yang terbiasa melihat segala sesuatu dengan ukuran materidan kesejahteraan, dihadapkan pada kenyataan spiritualitas.

*****

Kisah di atas adalah contoh momentum yang menyentuh dan mengugah nurani. Suasana jiwa Lauren Booth waktu itu dipenuhi dengan luapan emosi positif. Semua dari kita, pasti pernah mengalami suasana jiwa yang serupa. Konteks kisah dan kejadian bisa berbeda-beda, namun menghadirkan suasana jiwa penuh ketakjuban dan kekaguman.

Inilah salah satu modalitas jiwa yang bisa diolah menjadi karya. Suasana emosi positif yang bisa menggerakkan jiwa pembaca. Ini yang disebut menulis dengan ketajaman emosi, karena dilakukan pada suasana jiwa yang penuh berisi emosi.

Bagaimana cara memasukkan unsur emosi ke dalam tulisan kita? Berikut saya nukilkan dari The Write Practice, unsur-unsur yang bisa memasukkan ketajaman emosi ke dalam tulsan. Lanjutan dari postingan sebelumnya.

  • Write about what excites you

Salah satu unsur yang bisa menghasilkan sisi ketajaman emosi adalah ketika Anda menuliskan sesuatu yang menggairahkan. Sesuatu momen yang membuat Anda merasa waw. Sesuatu yang membuat Anda menjadi penasaran dan tercerahkan.

Suatu ketika Anda menyaksikan kejadian yang sangat menyentuh perasaan Anda. Hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa kondisi seperti itu akan terjadi. Sebuah gairah muncul dalam diri Anda, bahwa kejadian tersebut merupakan momentum luar biasa untuk diabadikan.

  • Write about what disgusts you

Salah satu unsur yang bisa menghasilkan sisi ketajaman emosi adalah ketika Anda menuliskan sesuatu yang menjijikkan. Ya benar, menjijikkan. Hal-hal yang menurut nalar kemanusiaan, semestinya hal itu tak boleh terjadi.

Saat mendengar berita tentang seorang suami yang membunuh istri sendiri dengan racun, apa yang terbayang oleh benak kita? Bukan saja marah, namun jijik dengan perbuatan tersebut. Suasana emosi yang jijik tersebut bisa disalurkan melalui tulisan, untuk mengambil pelajaran kebaikan.

  • Write about what saddens you

Salah satu unsur yang bisa menghasilkan sisi ketajaman emosi adalah ketika Anda menuliskan sesuatu yang menyedihkan. Suasana kesedihan karena kematian orang tercinta, kesedihan karena kehilangan kasih sayang, kesedihan karena merasa dizalimi atau dilukai, adalah modal emosional yang bisa tersalurkan melalui tulisan.

Sedih adalah suasana jiwa yang membuat seseorang leluasa mengekspresikan melalui berbagai cara dan karya. Bagi penulis, sedih adalah pemantik untuk melahirkan karya tulis yang sarat akan muatan emosi.

  • Write about what fuels you

Salah satu unsur yang bisa menghasilkan sisi ketajaman emosi adalah ketika Anda menuliskan sesuatu yang mendorong atau memotivasi. Sesuatu yang memberikan bahan bakar kepada jiwa Anda untuk merasa bangkit dan berdaya.

Terkdang kita mengalami masa-masa sulit. Namun segera menemukan momentum bangkit karena ada peristiwa atau kejadian yang sangat memotivasi. Saya merasa termotivasi saat melihat rombongan perempuan setengah tua membawa kayu bakar dan rumput untuk ternak di punggung mereka, menuruni tebing di wilayah lereng Merapi.

Suasana terdorong seperti ini membuat kita bersemangat. Suasana emosi dalam diri kita tengah penuh bahan bakar, siap disalurka melalui tulisan.

  • Write about what angers you

Salah satu unsur yang bisa menghasilkan sisi ketajaman emosi adalah ketika Anda menuliskan sesuatu yang membuat Anda marah. Bukan menuliskan sisi kemarahannya, namun menjadikan suasana jiwa yang marah untuk menghasilkan karya bermakna.

Kita bisa marah melihat urusan publik yang ditelantarkan. Kita bisa marah menyaksikan orang-orang merusak alam dengan semena-mena. Suasana kemarahan ini adalah modal emosi yang kuat untuk disalurkan dalam tulisan.

  • Write about what fills you with love

Salah satu unsur yang bisa menghasilkan sisi ketajaman emosi adalah ketika Anda menuliskan sesuatu yang penuh cinta. Merasa dicintai, merasa disayangi, adalah kondisi emosi yang sangat bermakna.

Jiwa para pecinta penuh dengan suasana bahagia. Dalam kebahagiaan itu, mengalirlah kata-kata penuh kedalaman makna. Menyentuh jiwa pembaca dengan halus dan memesona. Jangan sia-siakan momentum penuh cinta yang Anda temukan dalam kehidupan sehari-hari. Ubah menjadi karya bermakna.

Demikianlah beberapa cara untuk memasukkan unsur ketajaman emosi dalam tulisan kita. Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

The Magic Violinist, How to Write With Emotion and Make Your Readers Feel, https://thewritepractice.com

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.