Kembali
Motivasi Menulis

Menulis Dengan Ketajaman Emosi

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Want to make your readers feel? Write honestly about an emotion you’ve felt” – The Magic Violinist

.

Salah satu hal penting dalam menulis adalah kehadiran sisi emosi. Ini bukan soal menulis dengan marah-marah atau emosi, namun memasukkan ketajaman emosi melalui kata-kata dan kalimat.

Hasil tulisan akan sangat berbeda dirasakan oleh pembaca, tatkala kita mampu memasukkan sisi ketajaman emosi ke dalam kata-kata. Ini bukan soal pemilihan kosa kata semata-mata, sebab sepandai apapun Anda memainkan kosa kata, tak akan memberikan kedalaman rasa jika tak disertai kehadiran emosi.

Persoalannya adalah, bagaimana cara memasukkan unsur emosi ke dalam tulisan kita? Nah berikut saya nukilkan dari The Write Practice, 7 unsur yang bisa memasukkan ketajaman emosi ke dalam tulsan kita.

  1. Write about what scares you

Tulis sesuatu yang menakutkan Anda. Jika Anda pernah mengalami suasana takut yang mencekam, maka Anda telah memiliki suasana emosi yang bisa memasuki kata-kata. Anda bisa menceritakan dengan detail hal yang membuat takut tersebut, secara jujur dari dalam hati.

Takut tidak selalu terkait dengan hal-hal supranatral, seperti hant, pocong, suster ngesot dan lain-lain. Pengalaman menakutkan bisa muncul dari kehidupan sehari-hari, terlebih di masa pandemi sekarang ini. Kematian yang begitu mendadak dari orang-orang di sekitar kita, ketidakpastian kondisi pandemi, kelangkaan obat dan oksigen, antrean pasien di rumah sakit, adalah hal-hal yang bisa memberi pengalaman menakutkan.

Mari saya ajak Anda mengembangkan perspektif ini. Suasana takut, telah memberikan modalitas emosi yang kuat. Maka, di saat seperti itu Anda tidak harus menuliskan pengalaman ketakutan itu sendiri. Terlebih untuk pengalaman yang Anda tidak ingin mengenangnya, tentu Anda juga tidak mau menuliskannya.

Anda bisa membawa suasana jiwa yang “scares” tersebut untuk menulis. Baik fiksi maupun nonfiksi, tulisan yang dijiwai oleh pengalaman spiritual berupa takut, bisa sangat kuat muatan emosinya.

Sebagai contoh, suasana menakutkan tersebut Anda ubah secara positif untuk menulis tentang dimensi ketuhanan. Semula pengalaman takut tersebut berdimensi kemanusiaan biasa, sebagai pengalaman kehidupan yang wajar. Namun bisa Anda olah menjadi suasana takut yang mencekam dalam dimensi ketuhanan.

Anda bisa menulis tentang urgensi takut kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari. Menulis tema takut kepada Allah, bisa dilakukan dengan ‘datar-datar saja’, yaitu menulis teori tentang takut kepada Allah. Apa itu khauf (takut), bagaimana memunculkan rasa takut yang benar, faktor apa yang mendorong manusia untuk takut kepada Allah, dan aspek-aspek pembahasan lainnya.

Hasil akhir dari tulisan tersebut adalah ‘narasi’, yaitu sejumlah konsep tentang rasa takut kepada Allah. Pembaca akan menikmatinya sebagai sajian ilmu pengetahuan, atau sajian akademik.

Namun, menulis tentang takut kepada Allah bisa Anda lakukan dengan segenap ketajaman emosi. Memanfaatkan momentum ‘scares’ yang Anda alami, suasana takut bisa Anda konversi dalam penghayatan yang totalitas atas takut kepada Allah. Anda tidak sedang bercerita tentang teori, namun Anda sedang menyajikan sebuah pengalaman spiritual.

Hasil akhirnya bukan berupa teori, namun berupa sentuhan emosi. Pembaca bisa merasakan takut, merasa tercancam, dan pada akhirnya mendorong untuk melakukan pendekatan kepada Allah. Bukan sekedar mengetahui tentang teori takut, namun mampu menghayati rasa takut itu dan menjadikanya energi untuk berbuat baik.

Kalkulasi Dampak

Pikirkan dampak tulisan Anda. Jika Anda mampu menakut-nakuti pembaca, atau menciptakan kengerian pada pembaca, namun membuat mereka tidak berani ke toilet sendirian, berarti dampaknya negatif.

Anda bercerita dengan dramatik tentang hantu penjaga toilet. Anda berhasil membuat pembaca ketakutan. Bulu kuduk mereka berdiri setiap kali membaca sampai adegan tentang toilet. Namun dampaknya membuat pembaca takut setiap kali hendak ke toilet, terutama di malam hari.

Ini adalah dampak yang tidak positif. Dampak yang tak diinginkan. Karena menebar teror dan ketakutan yang merugikan banyak orang. Membuat orangtua harus mengantar anaknya setiap kali mereka hendak ke toliet.

Jadi, tidak sekedar menakutnakuti. Tetap harus berhitung tentang dampak. Maka yang diperlukan adalah membawa ‘suasana jiwa’ akibat scares tersebut menuju kondisi yang positif. Rasa takut yang dikemas untuk mendorong pembaca berbuat baik.

Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

The Magic Violinist, How to Write With Emotion and Make Your Readers Feel, https://thewritepractice.com

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.