.
Writing for Wellness – 97
Oleh : Cahyadi Takariawan
Writing about traumatic experiences can feel excruciating, and it can also offer the writer a way of coping with life’s tragedies – Angela Matthews, 2019
.
Orang tua merupakan sosok yang paling dekat dan paling dihormati sekaligus dicintai anak- anak. Keharmonisan keluarga membuat jalinan hubungan yang dekat dan hangat antara anak dan orang tua. Dengan suasana dekat dan hangat inilah menyebabkan anak-anak merasa aman, nyaman, dan terlindungi.
Oleh karena itu, ketika anak dihadapkan pada peristiwa kematian orang tua, menjadi sulit untuk diterima. Peristiwa kematian orang tua bisa membuat anak-anak menjadi merasa sangat kehilangan dan sangat terpukul. Terkadang anak-anak mengalami tekanan perasaan dalam waktu yang panjang, akibat tidak siap ditinggal wafat orang tua.
Saat mengalami kehilangan orang yang dicintai, setiap orang memiliki reaksi yang berbeda. Di antara reaksi psikologis yang biasa muncul saat kehilangan orang tua adalah merasa kesepian, putus asa, cemas dan takut. Ikatan emosional yang sudah terbangun sangat kuat, mendadak harus hilang seketika.
Kematian salah satu atau kedua orang tua baik ayah ataupun ibu akan menyisakan luka yang mendalam bagi setiap orang. Seseorang akan mengalami shock dan sangat terpukul rasa sedih, rindu, kehilangan, kesepian, semua tercampur jadi satu. Berbagai permasalahan akan muncul setelah kematian orangtua terutama pada kondisi psikologis (Norma Litasari, 2016).
Seorang anak yang kehilangan ibu, akan memberikan dampak pada kehidupan selanjutnya. Karena ibu merupakan sosok yang berperan penting dalam kehidupan, selalu memberi dukungan dan nasehat. Terlebih bagi anak perempuan, ada rasa kekhawatiran jika sudah menikah nanti ia harus lebih mandiri (Norma Litasari, 2016).
Begitu juga dengan anak yang kehilangan sosok seorang ayah, akan menyisakan luka yang mendalam. Sosok ayah bukan hanya sebagai kepala keluarga yang harus mencukupi kebutuhan ekonomi, melainkan memberikan perlindungan, rasa aman dan nyaman terhadap anak-anak. Apalagi untuk seorang anak perempuan, yang ketika menikah nanti semestinya ayah menjadi wali (Norma Litasari, 2016).
Hal seperti itu juga berlaku bagi orang tua yang kehilangan anak. Terlebih ketika hanya anak satu-satunya. Kesedihan yang luar biasa dan berkepanjangan, bisa dialami oleh orang tua yang kehilangan anak karena kematian. Seperti pengalaman pribadi Angela Matthews.
“When my son died, my heart broke and my brain tried to stop working. I functioned more like a zombie than a scholar, a walking, breathing, dead person incapable of deciding what to cook for dinner much less how to analyze student/faculty interaction in online classrooms” – Angela Matthews, 2019
Menulis Ekspresif untuk Menurunkan Tingkat Kedukaan
Menulis tentang pengalaman traumatis bisa terasa menyiksa, namun sekaligus juga dapat menawarkan cara untuk menghadapi kehidupan pasca tragedi. Hal ini diungkapkan oleh Angela Matthews (2019) dari pengalaman pribadinya kehilangan anak tercinta.
“Ketika anak saya meninggal, hati saya hancur dan otak saya berhenti bekerja. Saya lebih mirip seperti zombie daripada seorang sarjana. Saya menjadi seseorang yang tidak mampu berjalan, bernapas, dan tidak bisa memutuskan apa yang akan dimasak untuk makan malam. Apalagi untuk menganalisa interaksi mahasiswa di ruang kuliah online”, ujar Matthews.
The process of reading my grief journals, remembering what happened and how I felt about it, recording field notes based on them, and then reflecting on and analyzing those experiences helped me process the tremendous pain of my grief – Angela Matthews, 2019
“Salah satu kegiatan semi-intelektual yang saya lakukan adalah menulis catatan kesedihan. Awalnya sangat sulit, namun perlahan berproses dan berkembang menjadi katarsis yang membantu saya memahami apa yang saya rasakan dan mengapa saya merasakan hal tersebut”, lanjut Matthews.
“Proses membaca catatan kesedihan yang telah saya tulis, mampu mengingatkan apa yang telah terjadi dan bagaimana perasaan saya tentang hal itu. Merekam catatan lapangan, dan kemudian merefleksikan serta menganalisa. Ini sangat membantu saya dalam memproses rasa sakit yang luar biasa”, ungkap Matthews.
Writing became therapy, and that therapy helped me better understand my grief, share my experiences with others, and re-connect with the world – Angela Matthews, 2019
“Menulis menjadi terapi, dan itu membantu saya lebih memahami kesedihan, berbagi pengalaman dengan orang lain, dan terhubung kembali dengan dunia luar”, sambung Matthews.
Menulis Ekspresif Meredakan Kesedihan Akibat Kehilangan Orang Tua
Menurut Aribowo (2019), kehilangan adalah kondisi umum yang dapat dirasakan oleh seluruh orang. Usia dewasa awal memiliki kesempatan yang besar untuk mengalami kehilangan tersebut, khususnya kehilangan orang tua. Tidak mudah bagi usia dewasa awal untuk dapat terbuka tentang apa yang mereka rasakan.
Aribowo melakukan penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengaruh menulis ekspresif terhadap tingkat duka seseorang. Menggunakan model penelitian eksperimen dengan pretest-posttest control group design, subjek penelitian berjumlah lima belas pada kelompok menulis ekspresif, dan lima belas pada kelompok menulis non-ekspresif.
Subjek berada pada usia dewasa awal yang mengalami kehilangan orang tua, baik ayah atau ibu, lebih dari 6 bulan. Pengambilan data dilakukan setelah subjek mengisi self report quesionaire sebagai pretest. Selanjutnya subjek diminta mengisi kuesioner yang sama sebagai posttest. Skala yang digunakan adalah Iventory of Complicated Griefing versi Prigerson.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kelompok menulis ekspresif mengalami penurunan tingkat berduka jika dibandingkan dengan kelompok kontrol yang menulis non ekspresif. Subjek yang melakukan penulisan ekspresif sedang berhadapan dengan peristiwa sulit, dan mengalami proses penyingkapan (self-disclosure). Hal inilah yang membuat mereka bisa menjadi lebih terbuka dan berdamai dengan kondisi dirinya sendiri.
Dengan demikian terbukti, menulis ekspresif bisa membantu menurunkan tingkat kedukaan akibat kematian orang tua. Menulis ekspresif menjadi sarana yang efektif untuk melarutkan kedukaan, dan mengubah kedukaan menjadi makna yang positif.
Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan.
Bahan Bacaan
Angela Matthews, Writing Through Grief: Using Autoethnography to Help Process Grief After the Death of a Loved One, Methodological Innovations, September – Desember 2019, DOI: 10.1177/2059799119889569, https://journals.sagepub.com
Norma Litasari, Recovery Dampak Psikologis Akibat Kematian Orang Tua, IAIN Purwokerto, 2016, http://repository.iainpurwokerto.ac.id
Rachael Tiffany A. Aribowo, Pengaruh Menulis Ekspresif pada Dewasa Awal yang Mengalami Duka Berkepanjangan Karena Kehilangan Orang Tua, Universitas Mercu Buana Jakarta, 2019, https://repository.mercubuana.ac.id
.
Ilustrasi : https://www.lastly.com/