Menulis Kisah Petualangan Kehidupan

Menulis Kisah Petualangan Kehidupan

Oleh : Sri Rohmatiah, penulis buku “Kalau Berbeda, Lalu Kenapa?”

 

Kumpulan kisah yang ditulis dalam sebuah buku oleh tokoh sendiri, itu sangat menarik. Sang tokoh berusaha mengingat cerita masa kelahirannya dari seorang nenek. Suatu kelebihan seorang penulis dapat  mengisahkan diri sendiri yang telah dilaluinya. Jejak-jejak petualangannya masih terekam dengan rapih, dan dituangakan ke dalam tulisan, sungguh luar biasa.

Kisah hidup diri sendiri tentu banyak yang bisa diambil dan dijadikan pelajaran. Dari kisah-kisah sendiri akan dibaca dan hanyati pembaca. Pengalaman pribadi yang ditulis dalam buku akan memberikan masukan yang sangat berharga bagi pembaca.

Cahyadi Takariawan mengatakan dalam artikel Ruang Menulis, ada tiga cara menuliskan kisah hidup sendiri yang pertama adalah fokus pada kronologi, yang kedua fokus pada peristiwa. Ketiga fokus pada pelajaran.

Pertama, fokus pada Kronologi, maksudnya adalah menulis focus pada kehidupan dengan memperhatiakn urutan kejadian mulai dari lahir, sekolah, menikah dan seterusnya.

Kedua, fokus pada satu peristiwa atau kejadian, Anda menulis kisah hidup tanpa memperhatikan urutan kejadian. Cara ini adalah cara yang paling mudah karena tanpa harus mengingat kapan kisah ini terjadi.

Ketiga, fokus pada pelajaran, Anda menulis pelajaran yang bisa diambil dari beberapa penggal kisah hidup. Cara ini Anda tidak perlu memperhatikan kronologis, urutan kejadian. Namun, dari setiap peristiwa ada pelajaran yang dapat diambil hikmahnya, untuk membuat hidup Anda dan pembaca lebih baik.

Buku Jejak Petualangan, karya Warlinah, adalah salah satu contoh kisah yang penuh makna, dan kenangan. Kita akan diajak bertualang ke dalam masa lalu yang masih natural, alami yakni sungai. Sungai adalah aliran air yang terbentang panjang dari hulu hingga ke hilir muara laut.

Dulu semua serba natural, disediakan oleh alam untuk dimanfaatkan oleh manusia, temasuk sungai. Orang zaman dulu memenuhi kehidupannya dari sungai, mencari penghidupan dari sungai.

Sekarang, sungai telah berubah fungsi sebagai tempat pembuangan sampah, limbah industri,  untuk berenang, sekarang digunakan sungai buatan berupa kolam renang dengan ukuran terbatas, yang didesain semenarik mungkin agar dapat menarik minat seluruh kalangan. Kita tidak akan bisa menemukan sungai seperti yang diceriakan dalam buku “Jejak Petualang.”

Kehidupan masa anak-anak kita dahulu, mungkin bisa saja dianggap biasa, tetapi masa itu jika diingat akan menjadi kenangan tersendiri, dan menjadi luar biasa. Anak-anak milineal tidak akan merasakan cara belajar kita, bermain.

Charlotte Mason pernah mengatakan, mothers owe a ‘thinking love’ to their children. Semua orang tua tahu bagaimana kelahiran seorang anak bisa mengubah seluruh kontelasi kehidupan. Sofia Coppola mengungkapkan, setelah mereka  datang, hidup kita tak pernah sama lagi!” Prioritas hidup berubah, visi masa depan berubah, sifat dan perilaku juga berubah.

Itulah yang dirasakan Warlinah dalam bukunya. Bagaimana tokoh berjuang melawan maut ketika melahirkan putra putrinya. Mendidik empat orang anak yang selisih 2 hingga 3 tahun, tanpa didampingi orang tua atau sanak family. Sementara suaminya bekerja.

Seorang ibu muda dalam mendidik anak tidak hanya memerlukan cinta yang dalam. A thinking love – cinta yang berpikir. Kenapa harus ada berpikir untuk melengkapi cinta? Charlote Mason menjelaskan, membesarkan putra putri harus memiliki pengetahuan. Idelanya orang tua wajib menguasai dasar-dasar fisiologi dan psikologi sebagai bekal mengasuh anak.

Dalam buku Jejak Petualang, Warlinah mengingatkan kita semua untuk menyelaraskan antara kesibukan sebagai wanita pekerja dan pengasuhan anak di rumah tanpa bantuan orang tua atau mertua. Masalah-masalah yang dihadapi akan menjadi berkah. Karena sesungguhnya kata edukasionalis Naomi Aldort, mendidik anak pada hakikatnya mendidik diri sendiri; Raising children, raising ourselves.

 

Bahan Bacaan

Ruang Menulis Pak Cah, 2020

Warlinah, Jejak Petualang Tak Pernah Hilang, Madani Kreatif, Yogyakarta, 2020

Ellen Kristi, Cinta yang Berpikir, 2016

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan