.
“Something changes in me when I write. Once I set my intention to do it, and the words start flowing, there is a shift that takes place” –Jordan Brown, 2018.
.
Ramadan telah berlalu. Shalat Idul Fitri telah dijalankan. Bagi yang beragama Islam, saatnya hidup pada bulan peningkatan kualitas, yaitu Syawal. Pada bulan Syawal, telah meningkat kondisi spiritualitas kita.
Pada kondisi spiritualitas yang bagus, segala sesuatu bisa menjadi momentum spiritual. Ada kesadaran transenden dalam semua aktivitas kehidupan, termasuk pada kegiatan menulis. Syawal harus dijadikan momentum untuk lebih men”spiritualitas”kan tulisan.
Kita bisa menjadikan aktivitas menulis menjadi sebuah pengalaman spiritual yang mengasyikkan. Bagaimana caranya?
Menulis Sebagai Pengalaman Spiritual
“It’s imperceptible at first, but as I continue to write, it’s a small light that grows and grows until it emanates in the words that appear before me” –Jordan Brown, 2018.
Jordan Brown, penulis Ghost Writer Detective dan puluhan buku lainnya, menceritakan pengalaman spiritual dalam menulis. “Sesuatu berubah dalam diri saya ketika saya menulis. Begitu saya menetapkan niat untuk menulis, dan kata-kata mulai mengalir, ada perubahan yang terjadi”, ujarnya.
Uniknya, pengalaman spiritual dalam menulis tidak selalu muncul sejak awal proses. “Ini tidak terlihat pada awalnya”, ujar Brown, “tetapi ketika saya terus menulis, serupa cahaya kecil yang tumbuh dan terus bertambah sampai terpancar dalam kata-kata”.
Ia menemukan bahwa setiap kata-kata yang dituliskan, beresonansi dengan dirinya. Artinya, jika seseorang menulis kebaikan, akan memberikan resonansi kebaikan pula dalam dirinya. Jika menulis keburukan, akan memberikan resonansi keburukan pula bagi dirinya.
Selanjutnya, kata-kata yang dirangkai menjadi tulisan, akan beresonansi pula terhadap orang lain. Memberikan pengaruh bagi para pembaca. Bisa pengaruh kebaikan, bisa pula pengaruh keburukan, tergantung konten yang ditulis.
”If my words resonate –deeply, truly resonate, with me, I can intuitively sense that they will resonate with others as well” –Jordan Brown, 2018.
“Jika kata-kata saya beresonansi”, ujar Brown, “dan benar-benar beresonansi– dengan saya, secara intuitif saya dapat merasakan bahwa kata-kata itu akan beresonansi dengan orang lain juga”. Ini merupakan pengalaman spiritual dalam menulis yang membuat takjub Brown.
Empat Pengalaman Spiritual dalam Menulis
“When you make your writing a spiritual experience, the benefit is not something that can be explained” –Jordan Brown, 2018.
Pertanyaannya, mengapa Jordan Brown menjadikan tulisan sebagai pengalaman spiritual? Ia memberikan empat kondisi yang menjadi alasan, bahwa menulis adalah peristiwa spiritual. Setiap kali menulis, Brown merasa mendapatkan empat hal berikut ini.
- Perspektif dalam tulisan yang dihasilkan
Setiap kali menulis, kita selalu menentukan perspektif, di posisi mana kita berada. Ini tentu sebuah pilihan. Ada perspektif yang sangat khas pada tulisan setiap orang, yang menunjukkan jati dirinya.
Sekedar contoh, jika Anda diminta menulis tentang urgensi vaksin dalam menghadapi pandemi Covid-19, pasti Anda akan memilih sebuah perspektif. Apakah Anda termasuk yang setuju dan menganjurkan vaksi, ragu-ragu, atau menentang pemberian vaksi.
- Kebebasan, berupa fleksibilitas pemikiran dan pengalaman
Saat menulis, kita memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi pemikiran dan pengalaman. Berbagai pengalaman hidup yang pernah kita lalui, akan memberikan warna dalam proses menulis.
Masih pada contoh tulisan tentang vaksin untuk Covid-19, jika Anda pernah terinfeksi virus varian delta, dan membuat tulisan tentangnya, pasti pengalaman terinfeksi akan mewarnai tulisan Anda. Sebaliknya pula, jika Anda belum pernah terinfeksi –dan tidak pernah merasakan penderitaan mereka yang terinfeksi, akan menjadi warna pula dalam tulisan Anda.
- Kesadaran yang lebih besar, baik secara mental maupun emosional
Bagi Anda yang beragama Islam, jika anda menulis sesuatu tentang puasa Ramadan, akan membawa dampak kesiapan diri dan kesadaran yang lebih besar untuk menjalani Ramadan. Semua yang Anda tuliskan, akan membuat Anda memiliki kesadaran yang lebih besar terhadap hal tersebut.
Secara pribadi, saya sangat merasakan hal ini. Setiap saya menulis tentang sesuatu tema –terutama untuk tema-tema yang baru bagi saya, selalu menghadirkan kesadaran diri yang lebih besar baik secara mental maupun emosional.
- Kemampuan untuk melihat dunia, melampaui batasan yang dibuatnya sendiri
Menulis membuat Anda melihat sesuatu secara lebih jauh dan lebih luas dibandingkan dengan tema-tema yang tidak pernah Anda tuliskan. Misalnya, saat saya banyak menulis tentang keluarga, membuat cara saya melihat keluarga menjadi lebih luas dan lebih jauh. DIbanding dengan hal-hal lain yang takpernah saya tuliskan.
Ini memang menjadi pengalaman spiritual yang mengasyikkan. Bahwa dengan menulis kita bisa mendapatkan jangkauan penglihatan atas berbagai hal secara lebih jauh, melampaui ekspektasi yang kita miliki.
“You have to put the words down so that you can then move past the words to find deeper meaning” –Jordan Brown, 2018.
Menurut Brown, ketika Anda menjadikan tulisan sebagai pengalaman spiritual, manfaatnya bukanlah sesuatu yang bisa dijelaskan secara langsung.”Detail pengalaman Anda akan berbeda, tetapi yang akan terjadi adalah Anda akhirnya akan menyentuh kebenaran yang dapat diakses oleh siapa saja”, ujar Brown.
Tulisan mampu mengeksplorasi siapa sebenarnya jati diri kita. Brown memiliki pengalaman yang disebut sebagai paradoks. “Anda akan merasa lebih membumi ketika bebas mengeksplorasi jati diri Anda, dan apa yang dapat Anda ajarkan kepada orang lain”, ujarnya.
Menulis sebagai pengalaman spiritual berarti, Anda tidak sekedar menyusun kata-kata. Anda harus melampaui batas kata-kata agar mampu menemukan makna terdalam dari setiap pelajaran yang Anda tuliskan. ”Anda harus meletakkan kata-kata sehingga dapat melewati kata-kata itu untuk menemukan makna yang lebih dalam,” ujar Brown.
Bagaimana dengan Anda? Selamat menikmati pengalaman spiritual dalam menulis.
Bahan Bacaan
Jordan Brown, How to Make Your Writing a Spiritual Experience, https://writingcooperative.com, 8 Januari 2018