Kembali
Positive Writing

Menulis Sebagai Pengalaman Spiritual – 2 

 .

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Spiritual writing typically takes time to form; you aren’t going to sit down and suddenly become a glowing beacon of wisdom” –Jordan Brown, 2018.

.

Masing-masing kita memiliki pengalaman yang berbeda dalam menulis. Sebagai insan beragama dan religius, sesungguhnya kita bisa menciptakan pengalaman religius lewat menulis. Proses perenungan, pencarian ide, menuangkannya menjadi kata-kata dan kalimat, adalah aktivitas yang sangat dekat dengan spiritualitas.

Untuk menjadi manusia salih, bisa kita wujudkan dari menulis kebaikan-kebaikan. Sebab tulisan akan beresonansi dengan diri kita sendiri, memengaruhi dan membentuk jiwa kita. Selanjutnya, juga akan beresonansi dengan orang lain yang membaca tulisan kita.

Menulis sebagai sebuah pengalaman spiritual, akan bisa menjadi sarana penguatan nilai-nilai kebaikan yang sudah kita upayakan pada bulan Ramadan. Maka mumpung tengah di bulan Syawal, Anda bisa memanfaatkan momentum ini untuk menghadirkan pengalaman spiritual dalam menulis.

Menciptakan Pengalaman Spiritual Melalui Menulis

“Everything that’s created comes out of silence. All creativity requires some stillness” –Wayne Dyer

Menciptakan pengalaman spiritual, bisa dilakukan dengan banyak kegiatan. Salah satunya adalah melalui aktivitas menulis. Jordan Brown (2018) merekomendasikan beberapa langkah untuk menghadirkan pengalaman spiritual melalui aktivitas menulis.

Langkah Satu: Alokasikan Waktu dan Perhatian

Saya memberikan catatan tersendiri dalam langkah ini. Bagi Anda yang beragama Islam, seluruh tindakan Anda hendaklah menjadi ibadah. Tiada waktu yang Anda lalui, melainkan semuanya bagian dari ibadah. Ini kesadaran awal yang harus dibangun untuk menciptakan pengalaman spiritual dari menulis.

Waktu kita semua adalah sama, 24 jam sehari semalam. Tak ada yang memiliki waktu lebih, tak ada yang memiliki waktu kurang dari itu. Yang membedakan adalah bagaimana kita mengelola dan melewatinya. Jika kita memiliki kesadaran ibadah dalam setiap aktivitas dan tindakan, maka 24 jam sehari semalam bernilai full ibadah.

Jordan Brown menyampaikan, Anda harus berkomitmen pada jumlah waktu tertentuuntuk menulis. Ia menyarankan untuk mengalokasikan waktu 30 menit atau lebih untuk menulis dengan pendekatan spiritual ini. Pepatah mengatakan ‘good things take time’, semua yang bagus memerlukan waktu.

Setelah menyisihkan waktu tersebut, fokuskan pikiran Anda untuk proses menulis. Singkirkan semua distraksi yang akan mengalihkan perhatian, seperti gadget. Mengelola pikiran dan menyiapkan ruang menulis yang kondusif, akan mengondisikan proses menulis sebagai pengalaman spiritual bagi Anda.

Pilih waktu dan suasana yang paling memungkinkan bagi Anda untuk menghadirkan suasana kontemplasi. Setiap kita bisa berbeda. Seperti usaha beberapa kalangan umat muslim untuk khusyuk dalam shalat, sebagian dari mereka memilih melakukannya di tempat yang gelap dengan mematikan lampu. Sebagian lainnya tetap bisa khusyuk shalat meski lampu terang benderang.

“Menulis sebagai pengalaman spiritual membutuhkan waktu; Anda tidak akan duduk dan tiba-tiba menjadi mentor kebijaksanaan yang bercahaya”, ujar Brown. “Seperti pada semua tulisan, selalu ada proses pemanasan sebelum makna muncul dari keheningan”, lanjutnya. Brown mengutip ungkapan Wayne Dyer, “Segala sesuatu yang diciptakan keluar dari keheningan. Semua kreativitas membutuhkan ketenangan”.

Menghadirkan “Keheningan”

“Decluttering your mind and space will set the stage for writing as a spiritual experience” –Jordan Brown, 2018.

Jangan membayangkan keheningan sebagai kondisi sepi tanpa suara apa-apa. Keheningan, artinya tidak ada gangguan. Masing-masing kita memiliki bentuk ketergangguan yang berbeda-beda.

Ada orang yang tersiksa dalam suasana ruang gelap nan sepi, tak ada kebijaksanaan bisa hadir dalam kondisi itu. Ada orang yang tersiksa di tengah gemerlap cahaya dan keramaian lalu lalang manusia. Tak ada konsentrasi dalam suasana seperti itu. Ada orang yang tersiksa dalam suasana ruang tertutup, sebagaimana ada orang yang tersiksa dalam suasana ruang terbuka.

Jadi, apa distraksi Anda? Benar-benar Anda harus menjauhi hal yang bisa mengganggu konsentrasi. Tanpa berkonsentrasi, sulit bagi Anda untukmenghadirkan suasana kontemplasi. Sesuatu yang sangat penting dalam upaya mewujudkan pengalaman spiritual melalui menulis.

Maka carilah waktu dan suasana yang mendukung untuk hadirnya pengalaman spiritual dalam menulis. Bagi Anda yang beragama Islam, mungkin Anda akan terbantu konsentrasi dan kontemplasi apabila menulis sambil mendengarkan lantunan ayat-ayat suci. Anda menjadi tenang, hening, jauh dari distraksi. Anda menulis dalam suasana penuh penghayatan.

Anda duduk di kursi yang nyaman, atau berdiri, menghadap meja dengan ketinggian yang tepat bagi Anda. Laptop atau alat menulis telah siap di meja, dan Anda menggunakan headset untuk menikmati alunan murattal. Sebuah upaya berkonsentrasi dalam kurun waktu tertentu, dan menghadirkan suasana kontemplatif.

Kata demi kata mengalir, dalam suasana yang nyaman bagi Anda. Tigapuluh menit berlalu, dan Anda asyik mengalirkan suasana jiwa melalui tulisan. Menulis hadir secara nyata sebagai pengalaman spiritual yang menguatkan kebaikan diri.

Bahan Bacaan

Jordan Brown, How to Make Your Writing a Spiritual Experience, https://writingcooperative.com, 8 Januari 2018

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.