Kembali
Positive Writing

Menulis Sebagai Pengalaman Spiritual – 7   

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“When I wrote, I felt beyond harm, centered, soothed” –Jordan E. Rosenfeld.

.

Novelis Jordan E. Rosenfeld, mengungkapkan pengalaman spiritualnya dalam menulis. Ia mengawali cerita dari pertanyaan mengejutkan anaknya saat di tengah berlibur di laut Hawaii. “Mama, apakah aneh jika aku merasakan hubungan spiritual dengan laut?”

“Apa yang kamu maksud hubungan spiritual dengan laut?” tanya Rosenfeld.

“I just feel so at peace there… So right,” jawab anaknya. “Aku merasa sangat damai di sana… Benar-benar damai,” jawaban ini membuat Rosenfeld termenung. Sebagai seseorang yang terlahir tanpa identitas agama, ia merasa tidak memiliki “sesuatu” yang membuatnya bisa memiliki kehidupan spiritualitas.

Namun melalui proses menulis diary yang sudah dijalani lebih dari 35 tahun, akhirnya ia menemukan bahwa proses menulis mampu membuat dirinya memiliki pengalaman spiritualitas. Hidup dalam keluarga broken home membuat dirinya lebih banyak menghabiskan waktu sendiri, tidak bersama orangtua. Namun ia tidak merasa kesepian semenjak memiliki kebiasaan menulis diary.

“Sebagai anak tunggal sampai saya hampir berusia 15 tahun, dengan dua orang tua bekerja dan bercerai, saya menghabiskan banyak waktu sendirian. Namun ketika menulis, saya tidak merasa sendirian”, kenang Rosenfeld. Menulis membuatnya berada dalam kedamaian –sebuah perasaan spiritual yang muncul dari menulis.

Dalam beberapa postingan sebelumnya, Jordan Brown telah berbagi lima langkah untuk menjadikan menulis sebagai pengalaman spiritual. Kali ini giliran Jordan E. Rosenfeld, penulis tiga novel dan enam buku nonfiksi, salah satunya “How to Write a Page Turner: Craft  Story Readers Can’t Put Down”, berbagi tips untuk kita.

Langkah Enam : Mengungkapkan Emosi dan Tekanan Melalui Tulisan

“Sometimes, when writing, I would feel as though “I” disappeared and some larger force took over. I became less a self and more a channel for some information or story that my small self couldn’t access on its own. Everything has gone onto the page, too” –Jordan E. Rosenfeld.

“Di dalam halaman buku diary itu, saya mengungkapkan emosi kompleks yang saya alami dan mencoba memahami berbagi situasi yang tidak saya mengerti”, lanjutnya. Rupa-rupanya, kebiasaan menulis jurnal atau diary, membuatnya menemukan ketenangan dan keamanan. “Ketika menulis, saya merasa berada di luar bahaya (aman), terpusat, dan tenang”, ujarnya.

“Terkadang, saat menulis, saya merasa seolah-olah ‘saya’ menghilang dan kekuatan yang lebih besar telah mengambil alih”, ujar Rosenfeld. Konsentrasi menulis membuatnya berada dalam ketenangan yang menghanyutkan. Ia seperti ditarik oleh kekuatan yang hebat dan membuatnya serasa mengalami peristiwa ekstase. Seperti kaum sufi yang ‘hilang’ atau ‘mabuk’ dalam aktivitas dzikirnya.

“Saya merasa tidak menjadi diri sendiri dan lebih menjadi saluran untuk beberapa informasi atau cerita yang tidak dapat diakses oleh diri saya sendiri. Semuanya telah masuk ke halaman diary”, ungkap Rosenfeld.

Tentu saja ini bukan semacam tarikan ‘gaib’ yang membawa penulis ke alam mistis. Saya sendiri sering merasakan hal serupa, bahwa dalam proses menulis saya menemukan berbagai kekuatan yang mendorong saya untuk menyampaikan pesan-pesan. “Menjadi saluran”, istilah Rosenfeld, untuk tersampaikannya pesan-pesan tertentu melalui tulisan yang sedang kita siapkan.

Berbagai peristiwa menyedihkan dan memalukan yang dialami Rosenfeld, memaksa dirinya untuk mampu bersikap tegar. “Semua itu menjadi bagian yang tak terhapuskan dalam hidup saya, sehingga saya tidak melewatkan satu hari pun tanpa menulis”, ujarnya. Menulis membuatnya mengalamipelepasan beban yang sangat melegakan. Ini adalah bentuk pengalaman spiritual dalam proses menulis.

“Buku diary mulai menumpuk”, ungkap Rosenfeld. “Saya memiliki lebih banyak buku diary daripada pakaian, ketika saya masuk perguruan tinggi”, lanjutnya. “Suami saya belajar untuk menerima bahwa ke mana pun saya pergi harus membawa serta buku diary (jurnal). Tidak peduli seberapa kecil ruang yang kami miliki di apartemen”, lanjutnya.

Menulis Adalah Pelatihan Spiritual

“While writing, I always felt connected to something more” –Jordan E. Rosenfeld.

Sudah banyak studi yang mengungkapkan dampak psikologis dan emosional dari menulis. Peneliti dari Harvard University telah menemukan manfaat menulis untuk membantu mahasiswa keluar dari pengalaman traumatis baik dengan mengekspresikan maupun menyembuhkan.

“Selama bertahun-tahun, sejumlah terapis yang telah belajar tentang pengalaman masa kecil saya yang keras dan traumatis, telah mengagumi bagaimana saya berhasil untuk melewatinya dengan baik. Saya percaya alasannya adalah karena saya menulis”, ungkap Rosenfeld.

Ia merasakan secara langsung manfaat menulis dalam meredakan ketegangan dan keluar dari kecemasan. “Saat menulis, saya selalu merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar”, ujarnya. Jika di masa kecil ia merasakan tekanan akibat kondisi orangtua, ternyata tidak memberikan luka yang membahayakan dirinya di masa dewasa. Karena sudah disalurkan melalui aktivitas menulis diary.

“Writing offered me self-reflection and catharsis. While writing, I always felt connected to something more” –Jordan E. Rosenfeld.

Rosenfeld menemukan bahwa menulis memberikan refleksi diri dan katarsis. “Saat menulis, saya selalu merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih”, ungkapnya. Ia tidak merasa sendirian, ia tidak merasa kesepian. Ia merasa kuat. Ia merasa aman, nyaman dan damai. Sebuah pengalaman spiritual yang didapatkan melalui proses panjang menulis lebih dari 35 tahun.

Tetap Menulis, untuk Merasakan Kebermaknaan

“It requires faith to show up every day to a blank page and believe you will make something meaningful there. And even if what you make is not a masterpiece, it takes love to see that there is still purpose in the act of writing, no matter the outcome”  –Jordan E. Rosenfeld.

Salah satu kekuatan yang diperlukan oleh penulis adalah keyakinan bahwa dirinya akan bisa melakukan sesuatu yang bermakna. “Dibutuhkan keyakinan untuk menulis setiap hari di halaman kosong, dan percaya bahwa Anda akan membuat sesuatu yang berarti di sana”, ujarnya.

Kita tidak harus selalu menulis sebuah mahakarya yang melegenda untuk mendapatkan pengalaman spiritual dari menulis. “Dan bahkan jika apa yang Anda buat bukanlah sebuah mahakarya, dibutuhkan cinta untuk melihat bahwa masih ada tujuan dalam tindakan menulis, tidak peduli seperti apapun hasilnya”, ungkap Rosenfeld.

Yang diperlukan adalah komitmen dan disiplin untuk tetap menulis. Rasakan setiap kata dan kalimat yang Anda hadirkan, bahwa sering kali Anda adalah ‘saluran’ dari kekuatan yang Mahabesar untuk menyampaikan pesan-pesan kepada banyak kalangan.

Bagaiman dengan Anda? Siap untuk menjadi saluran menyampaikan pesan kebaikan?

Bahan Bacaan

Jordan E. Rosenfeld, Writing as a Spiritual Practice, https://writenonfictionnow.com, 28 Agustus 2019

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.