Kembali
Positive Writing

Menulis Sebagai Pengalaman Spiritual – 8  

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Everybody wants to feel good and happy. A more interesting question, a question that perhaps you’ve never considered before, is what pain do you want in your life?” –Mark Manson.

.

Semua penulis pemula merasa bahwa dirinya bukan ahli. Bukan pakar. Merasa bahwa dalam dirinya masih sangat banyak kekurangan, bahkan sering tidak percaya diri untuk memublikasikan tulisan. Ini wajar dan sangat manusiawi. Dirasakan oleh sebagian besar penulis pemula.

Bukan hanya di kalangan penulis pemula. Bahkan mereka yang sudah produktif menulis setiap hari sekalipun, akan merasa tidak bernilai apa-apa saat dirinya dibandingkan dengan para penulis hebat kelas dunia. Semua dari kita langsung merasa ciut nyali menulisnya, saat harus dibandingkan dengan Stephen King, Ernest Hemingway atau Leo Tolstoy.

Anda tidak akan sampai pada pengalaman spiritual menulis, jika masih terus menerus merasa tidak berharga karena membandingkan diri dengan yang tak sebanding. Setiap penulis adalah unik. Anda tidak akan bisa meniru gaya Leo Tolstoy sebagaimana Leo Tolstoy tidak bisa meniru gaya menulis Anda.

Agar mampu merasakan pengalaman spiritual dari menulis, Anda harus terus menerus mengasah kesungguhan. Sebesar apa usaha akan Anda curahkan untuk menulis?

Langkah Tujuh : Mengasah Kesungguhan Menulis

“I am by no means an expert, but I am willing to struggle for it. I am willing to struggle each and every day to make my writing better. I am willing to do the work and put in the effort. And that’s where my passion comes from” –Nirmit Shah, 2019.

Nirmit Shah, penulis produktif di blog Medium, menceritakan kesungguhannya dalam menulis. “Saya sama sekali bukan ahli, tetapi saya bersedia berjuang untuk menjadi ahli”, ujarnya. “Saya bersedia berjuang setiap hari untuk membuat tulisan saya lebih baik. Saya bersedia menulis dan berusaha untuk terus menulis. Dan dari situlah passion saya bertumbuh”.

Ia menyadari ‘kesalahannya’ selama ini. Dalam menulis, ia terlalu berpikir tentang hasil akhir. Ia berharap hasil akhir yang memukau. Sebuah tulisan yang menghasilkan banyak likers, comments serta shares. Berharap mampu menghasilkan karya tulis yang hebat. Dampaknya, ia kurang menikmati proses menulis.

Padahal proses menulis harus bisa dinikmati. Tidak mungkin kita mendapatkan hasil akhir yang berkualitas, jika tidak berorientasi pada bagusnya proses. Sayangnya, kita cenderung mengabaikan proses, dan hanya peduli pada hasil akhir.

“I had not thought about the process, the daily habit of sitting down and getting words on paper. The despair of facing a blank cursor on the screen and not being able to write even a single word. The struggle for connecting with people and getting them to read what we wrote. That crushing feeling when we have put our heart and soul into a piece and it receives less than 10 views” –Nirmit Shah, 2019.

Nirmit Shah menyatakan, bahwa selama ini ia cenderung tidak memikirkan prosesnya. Kebiasaan sehari-hari untuk duduk dan menulis kata-kata di atas kertas, cenderung menjadi rutinitas yang kurang  dinikmati. Maka terasa demikian menderita saat proses menulis menemui kendala.

“Keputusasaan menghadapi kursor kosong di layar dan tidak bisa menulis satu kata pun. Perjuangan untuk terhubung dengan audiens dan membuat mereka membaca apa yang kita tulis. Perasaan yang menghancurkan ketika kita telah menulis dengan hati dan jiwa, ternyata hanya mendapatkan kurang dari 10 viewers”, ungkap Nirmit Shah.

“My advice to anyone who wants to be a writer is, hold on to that feeling. Make it your motivation. Make it a source of fuel that drives you forward and makes you want to write another post, another article, another story every day” –Nirmit Shah, 2019.

Perasaan seperti itu adalah hal wajar saja pada setiap penulis. “Saran saya untuk siapa saja yang ingin menjadi penulis adalah, tahan perasaan seperti itu. Jadikan perasaan itu sebagai motivasi Anda. Jadikan sebagai sumber bahan bakar yang mendorong Anda maju dan terus menerus menulis posting setiap hari”, ujar Nirmit Shah.

Yang harus Anda lakukan adalah terus menerus mengasah kesungguhan. Bahwa jika Anda bersungguh-sungguh dalam proses menulis, pada suatu hari nanti Andaakan mendapatkan hasilnya. Anda akan merasakan pengalaman spiritual dalam menulis, sekaligus mendapatkan kualitas karya tulis Anda yang terus meningkat seiring waktu.

“Everybody wants to feel good and happy. A more interesting question, a question that perhaps you’ve never considered before, is what pain do you want in your life? What are you willing to struggle for? Because that seems to be a greater determinant of how our lives turn out” –Mark Manson.

Mark Manson, penulis buku ‘Love is Not Enough’ menyatakan, “Semua orang ingin bahagia. Pertanyaan yang lebih menarik, pertanyaan yang mungkin belum pernah Anda pikirkan sebelumnya adalah, rasa sakit seperti apa yang Anda inginkan dalam hidup? Apa yang Anda rela perjuangkan? Karena itu tampaknya menjadi penentu yang lebih besar tentang bagaimana kehidupan kita berubah”.

Pertanyaan-pertanyaan penting yang diungkapkan Mark Manson tersebut perlu Anda jawab dengan seksama. “What pain do you want in your life?” Rasa sakit seperti apa yang Anda siap mengalaminya dalam belajar menulis? Apakah Anda tahan dengan lelahnya pembelajaran?

Am I willing to struggle for writing? Apakah Anda benar-benar bersedia berjuang untuk mahir menulis? Sebesar apa kesediaan Anda dalam belajar menulis? Sekuat apa kesungguhan Anda dalam menulis?

What am I doing right now in terms of process that will make me competent in writing? Apa yang Anda lakukan untuk membuat Anda semakin kompeten dalam menulis? Apa saja langkah yang sudah Anda tempuh untuk meningkatkan kemampuan menulis?

Am I taking time out everyday to make my writing better? Apakah Anda telah meluangkan waktu setiap hari untuk membuat kualitas tulisan Anda semakin baik? Apakah Anda mengalokasikan cukup waktu dan perhatian untuk terus berlatih dan berlatih?

Anda akan mampu menikmati proses menulis sebagai pengalaman spiritual jika Anda terus mengasah kesungguhan dalam prosesnya. Selamat menulis. Selamat  merasakan pengalaman spiritual yang mengesankan dari menulis.

Bahan Bacaan

Nirmit Shah, If You Want to Be a Writer, Stop Saying It’s Your Passion! https://writingcooperative.com, 24 Maret 2019

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.