MERAIH KEBAHAGIAAN DI SEPANJANG KEHIDUPAN

MERAIH KEBAHAGIAAN DI SEPANJANG KEHIDUPAN

 

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Sisyphus adalah raja para dewa dari mitologi Yunani. Ia dipuja dan dielu-elukan manusia di zamannya. Hingga pada suatu masa, ia berusaha untuk memusnahkan Dewa Maut bersama dewa lainnya. Namun upaya ini gagal. Akhirnya Sisyphus dihukum, harus hidup di bawah tanah. Tak hanya itu. Ia pun harus mendorong sebuah bongkahan batu raksasa menuju ke atas bukit, dan setelah sampai di atas batu ini digulingkan lagi ke bawah. Setelah sampai di bawah, ia harus mendorong lagi batu tersebut ke atas. Begitu terus menerus.

Mungkin seperti itu gambaran kehidupan manusia dalam mencari kebahagiaan. Seperti perilaku Sisyphus yang digambarkan oleh Albert Camus sebagai “absurd”. Banyak manusia ingin bahagia, namun dengan melakukan tindakan yang absurd. Mendorong batuan besar ke atas bukit, kemudian menggelindingkan kembali batu itu ke bawah. Membayangkan di atas bukit adalah keindahan dan kebahagiaan, namun setelah sampai di atas, mereka melihat bagian bawah lebih indah dan lebih bahagia. Hingga akhirnya waktu mereka habis, dan mereka tidak pernah bahagia.

Mencari Kebahagiaan

Beberapa waktu lalu dilakukan jajak pendapat oleh lembaga internasional mengenai persepsi kebahagiaan dari rakyat suatu negara. Hasilnya, negara-negara yang selama ini dianggap sebagai negara maju dan makmur ternyata tidak berbanding lurus dengan tingkat kebahagiaan rakyatnya. Malah negara-negara yang berada di Amerika Latin dan Karibia, seperti Panama, Paraguay, El Salvador, Venezuela, berada di peringkat atas sebagai negara yang rakyatnya bahagia.

Indonesia berada di peringkat ke-19 dari 148 negara yang disurvei. Thailand dan Filipina, berada di peringkat ke-6 dan ke-9. Sementara negara-negara maju, seperti Jerman dan Perancis, berada di peringkat ke-47. Singapura, berada di peringkat ke-148, sejajar dengan negara-negara seperti Irak, Serbia, dan Armenia. Apa makna hasil survei persepsi tentang kebahagiaan itu? Negara kaya belum tentu menciptakan rasa bahagia bagi rakyatnya.

Itu dari perspektif negara. Dalam perspektif personal, kekayaan juga tidak selalu berkorelasi positif dengan tingkat kebahagiaan. Betapa banyak orang kaya dan bergelimang harta, namun hidup mereka selalu menderita. Mereka hidup dengan berkeluh kesah dan merasa bersusah payah, padahal di mata orang lain, mereka hidup dengan sepenuh kejayaan harta. Banyak orang yang iri dengan kondisi hidup mereka yang mewah dan glamour, namun sesungguhnya mereka sendiri berada dalam kondisi yang tidak bahagia.

Sebenarnya faktor apakah yang bisa memberikan kebahagiaan dalam kehidupan manusia? Ada sangat banyak kunci kebahagiaan dalam kehidupan manusia. Namun saya hanya akan membahas tiga kunci yang harus dimiliki oleh setiap manusia, agar selalu mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan.

Pertama, Kunci Spiritual

Kunci pertama dan paling utama untuk mendapatkan kebahagiaan adalah kunci spiritual, yaitu keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, ketaatan kepada Allah, ketundukan kepada Allah, serta kedekatan kepada Allah. Manusia yang paling bahagia adalah mereka yang paling bertaqwa kepada Allah, yang paling dekat kepada Allah, yang paling taat kepada Allah. Kepada mereka ini Allah mengaruniakan ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, yang tidak dirasakan oleh mereka yang tidak bertaqwa.

Kebahagiaan itu letaknya dalam ketaatan kepada Allah. Tidak ada kebahagiaan dalam kemaksiatan dan pembangkangan terhadap Allah. Bisa jadi ada manusia merasa bahagia dengan kecurangan dan kejahatan yang dilakukan, namun itu pasti bercorak sementara. Bisa jadi ada orang yang merasa bahagia dengan tindakan kemaksiatan serta penyelewengan yang dilakukan, namun itu kebahagiaan semu. Bahagia yang mereka dapatkan hanyalah sebentar, sedangkan penyesalan mereka akan sangat panjang, dunia maupun akhirat.

Orang-orang yang beriman, kehidupan mereka selalu berada dalam kebaikan, oleh karena itu mereka selalu bahagia. Apabila mendapatkan nikmat, mereka bersyukur. Apabila mendapatkan ujian, mereka bersabar. Nabi Saw telah bersabda:

وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَقْضِي اللَّهُ لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدِ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, Allah tidaklah menetapkan bagi seorang mukmin suatu ketentuan melainkan itu baik baginya. Hal ini tidaklah mungkin kita jumpai kecuali pada seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kelapangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa suatu kesempitan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” Hadits Riwayat Muslim no. 2999.

Orang-orang yang beriman dan bertaqwa, akan mendapatkan berkah “dari langit dan bumi”, artinya langit dan bumi tidak akan memberikan kemudharatan kepada mereka. Oleh karena itu mereka akan selalu bahagia. Allah Ta’ala telah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf: 96).

Orang-orang yang bertaqwa, mendapatkan kemudahan dan jalan keluar dari setiap permasalahan, bahkan mendapatkan rejeki dari arah yang tiada diduga. Oleh karena itu mereka akan selalu bahagia. Allah Ta’ala telah berfirman:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Thalaq: 2 – 3).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah akan menghilangkan bahaya dan memberikan jalan keluar bagi orang yang benar-benar bertakwa pada-Nya. Allah akan mendatangkan padanya berbagai manfaat berupa dimudahkannya rejeki. Rejeki adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati oleh manusia, baik rejeki dunia dan rejeki akhirat”.

Lihatlah, betapa bahagia kehidupan manusia yang beriman, bertaqwa dan mentaati Allah Ta’ala. Mereka mendapatkan jaminan kebaikan dan kebahagiaan hidup dunia maupun akhirat.

Kedua, Kunci Sosial

Kunci kedua untuk mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan adalah kunci sosial. Manusia adalah makhluk sosial, mereka tidak akan pernah bisa hidup sendiri. Manusia selalu memerlukan orang lain dalam kehidupannya. Maka kesepian dan merasa teralienasi dari lingkungan adalah bencana yang sangat besar bagi manusia. Hal yang membuat manusia bahagia adalah aktivitas sosial, dengan saling berbagi, saling peduli, saling memberi, saling membantu, saling meringankan beban.

Kegiatan sosial menjadi hal yang membahagiakan manusia. Ada sangat banyak kebahagiaan yang bisa kita dapatkan dari berbagi. Dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat betapa bahagia orang-orang yang mendapatkan bantuan atau hadiah. Namun sesungguhnya, yang lebih berbahagia adalah mereka yang memberi, bukan yang menerima. Sebahagia apapun orang yang menerima bantuan dan hadiah, masih bahagia orang yang memberi.

Biasanya, sesuatu yang kita bagi kepada orang lain akan habis. Makanan yang kita bagi, akan habis, barang yang kita bagi, akan habis. Namun kebahagiaan tidak akan habis dengan dibagikan, justru semakin bertambah. Sebuah tim sosiolog melakukan observasi terhadap 2000 warga Amerika Serikat selama lima tahun berturut-turut dan menemukan fakta bahwa mereka yang merasa ‘sangat bahagia’ rutin melakukan kegiatan sosial. Tingkat kebahagiaan ini disebabkan karena aktivitas fisik yang menyenangkan. Para peneliti juga beranggapan kalau melakukan kegiatan sosial bisa membangkitkan sensasi neurokimia dalam bentuk rasa puas.

Secara medis ditemukan, ketika menolong orang lain, otak manusia akan memproduksi hormon dopamin —sebuah hormon yang menghasilkan perasaan bahagia. Selain dopamin, menolong sesama juga menghasilkan hormon oxytocin yang dapat mengurangi stres, mengingkatkan daya tahan tubuh, serta mengembangkan rasa percaya diri dalam berinteraksi dengan orang lain.

Menurut penelitian Harvard Study of Adult Development yang dilakukan selama 75 tahun, faktor terpenting dalam membentuk kebahagiaan adalah kualitas hubungan dengan orang-orang di sekitar kita, seperti pasangan, keluarga dan teman. “Pesan penting yang kami dapat dari penelitian selama 75 tahun ini sangat jelas, hubungan yang baik membuat kita sehat dan bahagia,” kata direktur penelitian Dr. Robert Waldinger, profesor psikiatri di Universitas Harvard.

Dalam TED Talk tahun 2016, Waldinger menekankan bahwa menjaga ikatan yang kuat dengan orang lain akan melindungi kita dari penyakit mental, penyakit kronik, dan juga penurunan memori otak. “Stres kronik karena kesepian, tidak bahagia, akan dirasakan tubuh dan berakumulasi,” ujarnya. Memberikan perhatian kepada orang lain adalah hal istimewa yang bisa kita lakukan. Ketika sedang bersama orang-orang tercinta, jangan biarkan perhatian terpecah oleh gadget. Hadirlah secara utuh dan berinteraksi langsung. Ini akan sangat membahagiakan.

Ternyata kebahagiaan adalah ketika selalu berbagi kepada sesama, dan aktif menolong orang lain. Sebuah survei yang dilakukan Wholistic Wealth Wisdom kepada orang-orang mapan di empat kota besar di Indonesia memberikan hasil, sebanyak 49% responden mengaku, kemampuan berbagi pada sesama adalah faktor penting yang memengaruhi kebahagiaan. Sedangkan, 74% responden menyatakan, kekayaan tidak bisa menjamin kebahagiaan.

Memberikan bantuan kepada orang lain, saling menolong, dan meringankan kesulitan orang lain akan memberikan kebahagiaan yang hakiki. Tindakan sosial seperti ini merupakan arahan dari Nabi Saw, dengan imbalan yang luar biasa besarnya. Nabi Saw telah bersabda:

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan orang yang kesulitan karena hutang, maka Allah Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya”. Hadits Riwayat Imam Muslim no. 2699.

Ada pula amal sosial yang pahala kebaikannya terus menerus mengalir kepada para pelakunya, yaitu mengajak orang lain kepada kebaikan. Dalam interaksi sosial dengan sesama manusia, kita berusaha mengajak orang lain melakukan kebaikan. Ajakan ini bisa dilakukan secara langsung, maupun melalui sarana dan perantara, seperti buku, ensiklopedi dan sarana lainnya. Ketika melalui

Nabi Saw telah bersabda:

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya”. Hadits Riwayat Imam Muslim no. 1893.

Nabi Saw uga bersabda:

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang – orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala merek sedikit pun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka atasnya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” Hadits Riwayat Imam Muslim no. 2674.

Bahkan di antara amal sosial yang kita lakukan, bisa memiliki nilai pahala tanpa terputus, sampai kita meninggal dunia kelak, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak salih. Sebagaimana sabda Nabi Saw:

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang salih”. Hadits Riwayat Imam Muslim no. 1631.

Ketika kita banyak memberi sedekah jariyah, maka kebahagiaan bukan hanya kita rasakan di dunia, namun juga sampai di akhirat kelak. Ilmu yang kita bagi, akan memberikan kebahagiaan sampai di akhirat, tanpa terputus pahalanya. Demikian pula doa anak salih. Ukur kemanusiaan kita yang terbatas, bisa diperpanjang nilai kemanfaatannya oleh amal sosial yang memberikan nilai tanpa batas.

Ketiga, Kunci Mental

Kunci ketiga untuk meraih kebahagiaan dalam kehidupan adalah sikap mental yang positif. Dalam kehidupan keseharian, manusia tidak pernah luput dari ujian. Bentuk dari ujian kehidupan, bisa berupa hal-hal yang menyenangkan manusia, namun banyak pula berwujud hal-hal yang tidak menyenangkan. Manusia akan selalu bahagia, apabila memiliki sikap mental yang positif dalam menghadapi setiap ujian. Kita tidak akan berlebihan dalam kesenangan saat mendapatkan kenikmatan, namun juga tidak akan berlebihan dalam kesedihan saat mendapatkan kedukaan.

Salah satu peristiwa yang sangat mungkin terjadi dalam kehidupan adalah kedukaan, atau hal-hal yang tidak sesuai harapan. Misalnya diputus hubungan oleh kekasih hati yang sangat dicintai, peristiwa perceraian, ditinggal mati orang-orang tercinta, kehilangan harta benda yang sangat berharga, terkena PHK, dipecat dengan tidak hormat dari jabatan yang sangat diinginkan, terkena penyakit yang sangat membahayakan, dilanda bencana alam, dan lain sebagainya.

Dalam melalui kedukaan atau hal yang tak sesuai harapan, manusia berbeda-beda dalam bersikap, sehingga membedakan pula dalam hitungan lamanya waktu yang diperlukan. Secara umum, Dr. Elisabeth Kubler-Ross (1969) menjelaskan lima tahap kedukaan yang biasanya dilalui oleh manusia, yaitu denial, anger, bargaining, depression dan acceptance.

Tahap denial (penyangkalan) terjadi sebagai respon pertama atas kedukaan yang menimpa diri manusia. Bentuk penyangkalan ini bisa dalam ungkapan “aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja”, padahal dirinya jelas tengah berduka. Setelah menyangkal, manusia cenderung merasakan kemarahan (anger) atas kedukaan yang menimpa dirinya. Seseorang bisa menyalahkan diri sendiri, orang lain atau bahkan menyalahkan Tuhan, atas peristiwa buruk yang menimpa dirinya.

Pada tahap bargaining, manusia akan melakukan negosiasi atas kedukaan yang dialaminya. Misalnya dengan berandai-andai kemungkinan yang seharusnya dilakukan sebelum hal buruk itu terjadi atau hal yang akan ia lakukan apabila hal buruk berhenti terjadi. Atau dengan mengandaikan bahwa kedukaan itu tidak pernah terjadi. Namun ketika bargaining tidak membuahkan hasil perbaikan, manusia akan memasuki tahap depression atau depresi.

Dalam tahap depresi ini manusia merasakan kesedihan yang mendalam atas kedukaan yang terjadi pada dirinya, sampai merasa tidak lagi memiliki makna hidup. Seseorang bisa mengalami suasana depresi dalam waktu yang lama, apabila tidak mampu bersikap positif saat menghadapi kedukaan. Namun apabila tekanan kesedihan yang berlarut-larut membuatnya bisa tersadar bahwa tak ada guna mengkesali sesuatu yang telah terjadi, di titik itu ia akan sampai tahap acceptance atau penerimaan.

Setelah sampai tahap penerimaan, seseorang telah menyadari bahwa yang hilang tidak dapat kembali lagi, yang telah terjadi tak bisa dihapus lagi. Manusia sadar bahwa ia harus melalui kedukaan itu sebagai bagian dari sejarah hidupnya, yang bisa memberikan nilai kebaikan bagi dirinya. Maka ia harus menerima keadaan itu dan berusaha melanjutkan hidup dengan lebih baik.

Apabila manusia memiliki sikap mental yang positif, maka mereka akan cepat melewati tahap kedukaan ini. Mereka tidak mau berlama-lema berada dalam suasana kedukaan, yang membuat hidup tidak produktif dan kehilangan makna. Seseorang bisa memilih untuk tidak melewati empat tahap yang pertama, namun langsung menerima (acceptance) atas kedukaan yang menimpa dirinya. Tidak perlu melewati tahap denial, anger, bargaining dan depression. Dalam bahasa agama, kita menyebut ini sebagai ridha, atau rela, atas ketetatapan Allah yang telah berlaku atas diri manusia.

Apabila sikap mental tidak positif, manusia akan berlama-lama dalam melewati satu kedukaan. Padahal di sepanjang rentang kehidupan, manusia bisa mengalami kedukaan bertubi-tubi. Apabila dilalui dengan sikap mental yang tidak positif, akan membuat kehidupan yang kehilangan kebahagiaan. Maka dengan mudah kita melihat orang yang wajahnya selalu murung, orang yang selalu diliputi mendung, karena membiarkan diri berlama-lama berada dalam kedukaan, tanpa mampu melewatinya.

Selama apa manusia berada dalam tahap kedukaan, selama itu pula mereka kehilangan kebahagiaan. Namun jika mampu bersikap dengan kesiapan mental, maka seluruh kedukaan akan dilalui dengan cepat, bahkan langsung bisa membangun harapan (hope) untuk kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang.

Penutup

Demikianlah tiga kunci untuk mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan. Hendaknya kita mampu melandasi diri dengan kondisi spiritual yang kokoh, sebagai pondasi untuk bersemayamnya kebahagiaan yang hakiki dalam jiwa. Selanjutnya, hendaknya kita selalu berbagi dan berkontribusi dalam kebaikan sosial, sehingga membuat kebahagiaan kita semakin bertambah. Karena kebahagiaan tidak akan habis dengan dibagi, justru menjadi semakin bertambah.

Berikutnya, hendaknya kita memiliki sikap mental yang positif dalam menghadapi semua kejadian dan peristiwa dalam kehidupan. Cepatlah bersikap ridha atas kedukaan yang bisa saja menimpa di sepanjang kehidupan, dan segera membangun harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Dengan cara ini, insyaallah kita akan selalu mendapatkan kebahagiaan di sepanjang kehidupan.

Jangan seperti Sisyphus yang bolak-balik mendorong batu besar ke atas bukit, untuk kemudian menggelindingkan kembali ke bawah. Aktivitas yang oleh Albert Camus dalam buku Le Mythe de Sisyphe (1947) disebut sebagai “usaha yang sia-sia dan tanpa harapan” (le travail inutile et sans espoir). Namun, menurutnya, “perjuangan  menuju ke puncak itu sendiri sudah cukup mengisi hati manusia; orang harus membayangkan Sisyphus bahagia” (La lutte elle-même vers les sommets suffit à remplir un cœur d’homme; il faut imaginer Sisyphe heureux).

Kebahagiaan yang absurd, itu adalah hasil yang didapatkan oleh mereka yang mencari kebahagiaan tanpa ketaatan kepada Allah. Mereka benar-benar tidak akan pernah bisa mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya, kecuali hanya kebahagiaan semu dan absurd, dengan cara membayangkan bahwa Sisyphus bahagia.

 

 

Kaliurang, 26 April 2019

Tulisan ini disampaikan sebagai Pengantar pada acara “Workshop Team Building”, yang dilaksanakan oleh Wonderful Team, pada 25 April 2019 di Kaliurang, Yogyakarta.

Terimakasih atas kebersamaan yang luar biasa dalam Wonderful Team : Ocha, Riri, Ayuk, Winda, Tri, Fitri, Mufid, Laela, Laili, Luthfi, Desi, Desti, Erma, Azka dan Dija.

Terimakasih atas sharing ilmunya, gurunda Pihasniwati dan mbak Sinta dari Metamorfosa Yogyakarta.

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan