MERAIH KEBERKAHAN HARTA

MERAIH KEBERKAHAN HARTA

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Harta yang dimiliki manusia, pada dasarnya adalah pemberian dan milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah memberikan harta kepada manusia sebagai salah satu bagian dari ujian dalam kehidupan, apakah mereka mentaati Allah atau justru memaksiati Allah dengan harta tersebut. Bagi orang beriman, mereka akan sangat berhati-hati dalam urusan harta, dan berusaha agar harta yang mereka miliki mendatangkan keberkahan dalam kehidupan.

Di antara cara meraih keberkahan harta adalah dengan jalan bersedekah, baik yang wajib maupun yang sunnah. Sedekah wajib disebut sebagai zakat, sedangkan sedekah yang sunnah disebut sebagai infak atau sedekah (sodakoh) itu sendiri. Sedekah adalah pintu untuk mendatangkan keberkahan dalam harta kita. Jika harta yang kita miliki berkah, maka akan mendatangkan keberkahan pula dalam kehidupan kita dan keluarga kita. Keluarga akan menjadi sakinah mawadah warahmah apabila harta yang mereka miliki penuh keberkahan dari Allah.

Nabi Saw bersabda, “Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barakah rejeki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” Hadits Riwayat Bukhari no. 1433 dan Muslim no. 1029

Dr. Musthafa Sa’id Al Khin dalam kitab Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Shalihin, menjelaskan, hadits ini memberikan motivasi kepada manusia untuk berinfaq. Imam Bukhari membawakan hadits ini dalam Bab “Motivasi untuk bersedekah (mengeluarkan zakat) dan memberi syafa’at dalam hal itu”. Imam An Nawawi membuat bab untuk hadits ini “Motivasi untuk berinfaq (mengeluarkan zakat) dan larangan untuk menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan).”

Dalam hadits tersebut, Nabi Saw menyatakan keberkahan harta didapatkan karena sedekah. Sebaliknya, keengganan bersedekah menyebabkan terhalanginya keberkahan pada harta tersebut. Ibnu Baththal mengatakan, “Hadits ini menunjukkan sedekah (zakat) itu dapat mengembangkan harta. Maksudnya adalah sedekah merupakan sebab semakin berkah dan bertambahnya harta. Barangsiapa yang memiliki keluasan harta, namun enggan untuk bersedekah (mengeluarkan zakat), maka Allah akan menahan rizki untuknya. Allah akan menghalangi keberkahan hartanya. Allah pun akan menahan perkembangan hartanya.”

Sedemikian penting dan sedemikian besar kemanfaatan dari sedekah, terlihat dari banyaknya arahan Nabi Saw kepada para sahabat agar memperbanyak sedekah. Nabi Saw menyampaikan, keengganan manusia untuk bersedkah membuat Allah menahan rejeki untuk mereka. Asma’ binti Abi Bakar menceritakan, bahwa Rasulullah Saw bersabda kepadanya, “Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa mensedekahkannya). Jika tidak, maka Allah akan menahan rejeki untukmu.”

Ibnu Baththal dalam Syarh Shahih Al Bukhari menjelaskan makna hadits ini, “Janganlah engkau menyimpan-nyimpan harta tanpa mensedekahkannya (menzakatkannya). Janganlah engkau enggan bersedekah (membayar zakat) karena takut hartamu berkurang. Jika seperti ini, Allah akan menahan rizki untukmu sebagaimana Allah menahan rizki untuk para peminta-minta.”

Sebagian orang beranggapan, mengeluarkan sedekan adalah perbuatan yang mengurangi harta mereka. Dengan pemahaman seperti ini, banyak manusia berjiwa pelit yang enggan mengeluarkan sedekah. Pemahaman seperti ini ditolak oleh Nabi Saw. Beliau menegaskan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta manusia. Nabi Saw bersabda, “Sedekah tidaklah mengurangi harta”. Hadits Riwayat Muslim no. 2558.

Bagaimana mungkin mengeluarkan sedekah tidak mengurangi harta? Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah dalam kitab Al Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna hadits tersebut, bahwa harta yang dikeluarkan sedekah, akan diberkahi dan akan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya. Kekurangan harta tersebut —secara nominal— akan ditutup dengan keberkahannya. Ini bisa dirasakan secara inderawi dan kebiasaan. Walaupun secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan tadi akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat banyak.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin dalam Syarh Riyadhis Shalihin menjelaskan hadits di atas, “Nabi Saw tidaklah mengucapkan sesuatu berdasarkan hawa nafsunya. Beliau bersabda, “Sedekah tidaklah mungkin mengurangi harta”. Kalau dilihat dari sisi jumlah, harta tersebut mungkin saja berkurang. Namun kalau kita lihat dari hakekat dan keberkahannya justru malah bertambah. Boleh jadi kita bersedekah dengan 10 riyal, lalu Allah beri ganti dengan 100 riyal.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39). Allah akan mengganti bagi kalian sedekah tersebut segera di dunia. Allah pun akan memberikan balasan dan ganjaran di akhirat. Allah Ta’ala berfirman, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)”.

Demikian penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.

Oleh karena itu, jangan pernah ragu untuk bersedekah. Jangan menganggap sedekah akan mengurangi atau bahkan menghabiskan harta. Justru sebaliknya, sedekah akan membuka keberkahan dari harta yang kita miliki. Sedekan akan menyebabkan harta kita menjadi bertambah kebaikannya, bertambah pahalanya, bertambah kemanfaatannya, bertambah kenikmatannya, bertambah pengaruh positifnya dalam kehidupan. Bahkan dengan sedekah Allah akan mengganti dengan berlipat, sebagaimana telah dijelaskan Syaikh Utsaimin di atas.

Mari berlomba meraih keberkahan harta. Salurkan sedekah anda melalui LAZISQU untuk berbagai aktivitas kebaikan yang sangat luas. Kirim donasi anda melalui Bank Syariah Mandiri 7224-7334-74 a.n. YAYASAN LAZISQU. Informasi LazisQu : 0878 3955 9003. Web : www.lazisqu.or.id. Instagram : @lazisqu.

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan