Merasa Sepenuhnya, Sebuah Anugerah Terindah untuk Ananda

Merasa Sepenuhnya, Sebuah Anugerah Terindah untuk Ananda

Oleh: Ummu Rochimah

 

Mengetahui dan mengalami emosi adalah anugerah yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anaknya.

 

Perasaan itu ibarat sungai. Jika ada seseorang membuang sampah ke sungai bisa mengakibatkan aliran sungai menjadi terhambat, mampet, kotor, dan menimbulkan penyakit. Rasanya seperti membangun bendungan melawan arus sungai Ciliwung yang deras. Akhirnya, air mengumpul dan menjebol bendungan secara menyedihkan dan merusak. Bisa dibayangkan jika bendungan itu adalah jiwa manusia dan kemudian jebol, maka pasti akan terjadi kekacauan, kerusakan, kesakitan, dan kesedihan yang luar biasa.

 

Merasa sepenuhnya bagi anak itu penting untuk tumbuh dan belajar. Bila hal ini tidak diberikan kepada anak-anak, maka kita sebagai orabg tua akan menjadi pilot otomatis, yang mendidik dan mengasuh anak dengan pola dan sistem keyakinan kuno, “dulu mama seperti itu, jadi kamu nurut aja apa kata mama” atau “Papa diajarkan kakek seperti itu, jadi sekarang papa ajarkan kamu juga seperti itu supaya kamu berhasil.”

 

Merasa sepenuhnya berarti tidak takut terhadap perasaan sendiri. Perasaan itu bermunculan sepanjang hari, setiap hari, dan sepanjang waktu. Jika kita ibaratkan hidup kita sebagai langit, maka perasaan itu ibarat awan yang bergerak di langit. Suatu ketika ia bisa memenuhi langit dalam waktu yang lama. Tetapi, awan itu pasti akan berlalu karena ada hembusan angin yang membuatnya bergerak. Biarkan awan itu terus bergerak hingga cerahnya langit akan segera nampak.

 

Jangan mengabaikan atau menghalangi awan itu untuk terus bergerak, menahan atau mengabaikan gerak awan akan menimbulkan energi negatif yang kemudian akan terkumpul dan bisa menghasilkan petir atau kilat, dan menurunkan hujan.

 

Saat anak menangis karena terjatuh, baik dalam arti jatuh sesungguhnya maupun ‘jatuh’ dalam arti kiasan, orang tua jangan terburu-buru menghalangi perasaan sedih atau sakit akibat terjatuh itu, ucapan “anak laki-laki harus kuat, jatuh begitu aja ngga boleh nangis!” atau ucapan, “masak gitu aja nangis, cengeng banget!” Ucapan-ucapan ini bisa membuat anak tidak merasa sepenuhnya, ia akan merasa takut untuk memiliki perasaan atau emosi yang tidak dikehendaki oleh orang tua nya. Bila hal ini terus menerus terjadi, hingga di kemudian hari akan mengakibatkan penolakan-penolakan saat rasa atau emosi itu kembali hadir dalam hidupnya. Penolakan yang terus menerus dari dalam dirinya terhadap perasaan-perasaan itu akan melahirkan sikap-sikap ekstrem, ia bisa larut dalam pusaran perasaan itu atau justru ia akan menjadi terpental karena perasaan itu.

 

Membiarkan anak memahami dan mengetahui emosi atau perasaannya sendiri membuat mereka memahami arti rasa senang, gembira, sedih, takut atau marah sekalipun.

Merasa sepenuhnya, inilah salah satu anugerah yang dapat orang tua berikan kepada anak-anaknya.

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan