Merawat Amal Kebaikan

Merawat Amal Kebaikan

Oleh : Ida Kusdiati[i]

 

Subuh ini cuaca sedikit tak bersahabat. Tak memungkinkan untuk aktivitas olahraga outdoor. Mulailah mencari alternatif lain agar tubuh tetap bisa berkeringat.

Tetiba dapat kiriman video senam di rumah aja untuk pencegahan pikun, lumayan ada pergerakan pada otot meski sesaat. Kesempatan kedua karena cuaca mendung adalah bisa membuka-buka kembali buku bacaan lama yang sudah berjejer manis di lemari untuk sekian waktu.

Entah mengapa tergerak untuk membaca beberapa buku yang mengingatkan diri pentingnya melakukan instropeksi terus menerus atas kiprah diri di manapun berada.

Landasan iman akan mempengaruhi amal. Keyakinan selalu berada dalam pengawasan Allah memunculkan kehati-hatian dalam tindakan dan pengambilan keputusan. Jadikan bekerja dan beramal karena niat ibadah mencari keridhoanNya bukan yang lainnya.

Niat yang kuat dengan motivasi mencari ridho Allah akan memunculkan etos kerja yang luar biasa, saat diri merasa down maka kembali mengecash diri dengan asupan kalam ilahi. Mengingatkan diri bahwa segala tindak laku ini akan dilihat sang pemilik raga, Rasul dan orang-orang mukmin.

Sebagaimana Firman Allah SWT : “Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan jepada (Allah) yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” ( QS.At-Taubah: 105)

Maka berusaha menjaga “suhu” keimanan untuk terus berkorelasi positif yang melahirkan buah amal soleh. Beberapa poin yang menjadi catatan bagi diriku sendiri agar senantiasa dapat menjaga suhu itu stabil, adalah dengan :

  1. Menjalankan fungsi Khalifah

Hendaknya kita meyakini bahwa seluruh amanah yang dititipkan adalah bagian dari menjalankan fungsi sebagai khalifah-Nya untuk beribadah dan taat kepada sang penitip amanah bukan untuk maksud dan kepentingan pribadi di baliknya.

Sebagaimana Firman Allah SWT : “…Dan Dia menjadikan kamu khalifah di bumi (Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.” (QS.Al-a’raf : 129).

Karenanya bisa jadi pengorbanan dibutuhkan baik waktu dan harta benda dengan tak mengharapkan balasan. Sebagaimana Firman Allah SWT : “Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS Al- Muddatsir : 6)

  1. Menjaga Niat

Niat adalah penentu perbuatan. Amal menjadi bernilai karena ada niat.  Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya semua amal (ditentukan) dengan niat. Dan setiap orang mendapatkan (dari amal perbuatannya) apa yang diniatkan. Barang siapa berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barang siapa yang berhijrah untuk dunia yang akan didapat atau perempuan yang akan dinikahi, maka hijrahnya kepada apa yang dihijrai.” (HR.Bukhari)

Bagiku menjaga senantiasa hati dengan meluruskan niat adalah penting. Tak henti Istigfar manakala goda syaitan ingin membelokan niat atau tawaran syaitan atas puja dan puji yang melunturkan keikhlasan hati.

Sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abbas dari Rasulullah SAW., sesungguhnya beliau bersabda, “Barang siapa senantiasa beristigfar, maka Allah akan menjadikan baginya kelapangan dalam setiap kesusahan, jalan kelyar setiap kesempitan dan rezekinya (datang) dari tempat yang tidak diperkirakan.” (HR Ibn Majjah)

Tak henti bersandar kepada Allah Sang pemilik hati agar tetap dalam ketaatan dan keimanan hanya kepadaNya. Dengan do’a : “Yâ muqallibal qulûb tsabbit qalbî ‘alâ dînika.” Yang artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu” (HR al-Nasai’).

  1. Berserah diri

Setelah Niat dan amal dijaga senantiasa dalam koridor pengabdian pada Allah SWT selanjutnya aku akan memasrahkan diri atas hasil. Karena tugas manusia berikhtiar adapun keputusan akhir adalah hak prerogatif-Nya.

Semua yang datang dari Allah SWT baik itu kebaikan, keberkahan, kelapangan rezeki, rasa aman dan tenteram adalah buah kesungguhan dari ikhtiar dan pertolongan-Nya yang wajib aku syukuri.

Adapun kegagalan, kekurangan dan rasa sempit itu karena aku yang belum sempurna beramal dan bagian dari ujian sabar dari-Nya. Prasangka baik pada Allah dikedepankan karena selalu ada hikmah atas semua peristiwa manakala bersandar hanya pada-Nya.

Wallahu a’lam.

 

 

[i] Penulis adalah Ketua PW Salimah Kalimantan Barat dan penulis buku Khatulistiwa Cinta

 

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan