Kembali
Uncategorized

Motivasi Kebaikan

@ummu-rochimah

Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, dari Nabi saw dari Rabbnya tabaraka wa ta’ala, Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan pencatatan kebaikan dan keburukan kemudian menjelaskan hal tersebut.

Barangsiapa berkeinginan melakukan satu kebaikan lalu ia tidak melakukannya maka Allah (memerintahkan) agar kebaikan itu dicatat sebagai satu kebaikan yang sempurna. Sedangkan jika ia memiliki keinginan berbuat satu kebaikan lalu ia melakukannya maka Allah (memerintahkan) agar mencatat kebaikan itu sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat bahkan hingga berkali-kali lipat.

(HR. Muslim dan Bukhari) 

Betapa besar pengajaran Allah kepada hamba-hambanya untuk memiliki keinginan (motivasi) kebaikan, baru memiliki keinginan berbuat baik saja sudah Allah (perintahkan) dicatat sebagai satu kebaikan. 

Motivasi yang dimaksudkan di sini adalah suatu keinginan yang sudah kuat untuk melakukannya, bukan sekedar lintasan dalam hati yang kadang muncul kadang hilang, seperti sebuah angan-angan.

Motivasi untuk berbuat baik menjadi sebab yang mengantarkan seseorang untuk melakukan kebaikan tersebut dan sebab yang mengantarkan kepada kebaikan adalah kebaikan itu sendiri.

Motivasi berbuat baik yang direalisasikan dalam bentuk amal akan membuahkan pahala berlipat-lipat. Dalam bentuk keinginan saja sudah  dicatat baginya satu kebaikan, lalu Allah lipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan. Kelipatan sepuluh adalah suatu keniscayaan untuk setiap kebaikan yang dikerjakan, sebagaimana Allah katakan dalam Al Quran, “Barangsiapa berbuat kebaikan, maka ia akan mendapat pahala kebaikan sepuluh kali lipat.” (QS. Al An’am [6] ] 160)

Kemudian kebaikan itu dilipat gandakan lagi hingga 700 kali lipat bagi siapa saja yang Allah kehendaki, bahkan hingga tak terbatas.

Pelipat gandaan kebaikan tentu akan mengikuti syarat dan ketentuan sudah Allah tetapkan. Disesuaikan dengan tingkatan kesempurnaan dalam keikhlasan, keutamaan suatu amal, bahkan bisa jadi terkait tempat dan waktu pelaksanaan amal tersebut hingga ke tingkat kepayahan dalam mengerjakannya.

Wallahu a’lam

Setiabudi, 15 Ramadan 1444 H

Ditulis oleh Ummu Rochimah

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.