Ngobrol Santai Hati Bertaut

Ngobrol Santai Hati Bertaut

Ngobrol Santai, Hati Bertaut

 

Oleh Ummu Rochimah

“Mama bicara apa sih dari tadi, papa ngga ngerti deh apa yang mama bicarakan.”

Duh, bagaimana ya rasanya bila suami berbicara seperti itu kepada kita sebagai istrinya? Pasti.. sakitnya tuh di sini!!, sudah bicara panjang lebar, ehh  ternyata lawan bicara tidak mengerti apa yang
dibicarakan.

Tapi ini sesuatu yang mungkin saja terjadi dalam hubungan antar suami dan istri. Karena perbedaan sifat dan karakter di antara keduanya dan masing-masing belum memahami karakter dan sifat pasangan, menjadikan hal ini sangat mungkin terjadi.

Seorang wanita dengan emosi dan perasaan yang lebih dominan akan lebih banyak mengeluarkan kata-kata yang berasal dari hatinya sehingga terkesan bertele-tele. Sedangkan seorang
laki-laki yang dominan akal dan logikanya akan lebih sering mengatakan sesuatu secara to the point, tanpa basa basi.

Bila keduanya tidak saling memahami perbedaan ini maka dapat timbul kesalahpahaman di antara suami istri. Karena itu keduanya harus mempelajari cara berkomunikasi yang efektif bagi mereka sehingga komunikasi menjadi nyaman bagi keduanya.

Tidak ada aturan baku dalam komunikasi di antara suami istri, karena masing-masing pasangan memiliki cara tersendiri yang cocok bagi pola komunikasi di antara mereka.

Namun, secara
umum ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam komunikasi, khususnya bagi suami istri, antara lain :

*Berbicara Perlahan dan Jelas*

Dalam suatu riwayat hadits oleh Aisyah, r. a. disebutkan, ”Rasulullah tidaklah berbicara seperti yang biasa kamu lakukan (yaitu berbicara dengan nada cepat). Namun beliau berbicara dengan nada
perlahan dan dengan perkataan yang jelas dan terang lagi mudah dihafal oleh orang yang mendengarnya.”(HR. Abu Daud)

Bahkan, jika ada suatu pembicaraan yang bersifat sangat penting, Rasulullah s.a.w mengulangnya sampai
tiga kali dengan maksud agar apa yang dibicarakan benar-benar dimengerti, seperti yang dikatakan oleh Anas bin Malik r.a,”Rasulullah sering mengulangi perkataannya hingga tiga kali agar dapat dipahami.’(HR. Bukhari)

Pasangan suami istri harus dapat menerapkan ini dalam kehidupan rumah tangganya. Mereka sebagaidua orang yang akan menghabiskan sebagian besar hidupnya secara bersama, harus mampu membuat
pola komunikasi yang membuat masing-masing pasangan merasa nyaman ketika berbicara satu samalain. Pembicaraan atau perkataan yang terburu-buru dan tidak jelas dapat mengakibatkan
kesalahpahaman yang melahirkan suatu pertengkaran. Kedua belah pihak harus saling mengingatkanpasangan agar berbicara dengan perlahan dan jelas agar maksud dan tujuan pembicaraan dapat tercapai.

*Berbicara yang Baik*

Terkadang, saat lelah sepulang kerja, seorang suami atau juga seorang istri tidak mampu mengendalikandiri, sehingga sering keluar kata-kata yang tidak nyaman didengar oleh pasangannya. Hal ini tentu sangat tidak
baik dan dapat menimbulkan pertengakaran di antara keduanya. Terlebih bila salah satu dari mereka
seorang yang sangat sensitif perasaannya. Sehingga ucapan yang terdengar sedikit kasar akan dapatmelukai hatinya.

Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk hanya berbicara sesuatu yang baik, seperti dalam hadits,“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari-Muslim)

Walaupun hadits ini bersifat umum, tapi akan sangat indah manakala hadits ini juga diterapkan kepadapasangan hidup, karena sejatinya pasangan hidup adalah seorang yang paling berhak menerima setiap
ucapan baik yang keluar dari mulut seorang suami atau istrinya, dan sedapat mungkin ia tidak mendengarperkataan buruk yang keluar dari mulut seorang suami atau istri. Maka pengendalian diri dariberkata-kata tidak baik harus selalu diupayakan oleh pasangan suami istri, agar tidak melukai hati pasangan. Jangan sampai terjadi, seseorang dapat berbicara baik-baik kepada orang lain, misalnya kepada teman ataurekan kerjanya, tapi terhadap pasangan hidupnya justtru berbicara yang tidak baik bahkan cenderung menyakitkan.

*Tidak Menggunakan Bahasa Negatif*

Pasangan suami istri adalah dua orang yang sedang bersama-sama membangun kebaikan dalamkehidupannya. Terlebih lagi bagi seorang muslim, pernikahan adalah suatu bentuk ibadah dalamkerangka ketaaatan kepada Allah s.w.t, maka sepanjang perjalanan pernikahan haruslah senantiasa
mengupayakan segala bentuk kebaikan baik untuk dirinya maupun keluarga yang sedang dibangun.

Bahasa emosional seperti, _“Kamu tidak pernah mendengarkan apa yang saya katakan!”_ atau _“Kamu selalu
mengatakan itu!”_ dengan nada tinggi dan emosional, semua ini merupakan contoh bahasa yang negatif.

Bahasa seperti ini sangat
tidak baik untuk didengar oleh pasangan hidup. Selain menunjukkan sikap tidak menghargai pasanganjuga merupakan bahasa yang dapat melukai perasaan.

Bahasa negatif akan mmelahirkan balasan sikapnegatif pula, maka pasangan suami istri harus mampu mengendalikan lisannya dari perkataan-perkataannegatif, agar rumah tangganya diliputi oleh kebaikan.

Ditengah kesibukan suami istri dalam mencari nafkah dan mengelola kehidupan rumah tangganya,
keduanya harus memiliki waktu untuk mengobrol, berbincang-bincang hal-hal yang ringan, agar
perjalanan kehiddupan rumah tangganya tidak melulu hanya berisi pencapaian-pencapaian target material, kapan punya rumah, punya mobil, punya pulau, ehh.. yang pastinya akan melelahkan fisik dan jiwa.

Mengobrol dan berbincang ringan sambil ditemani segelas teh hangat dan sepiring pisang goreng di bawah sinar rembulan, maka dua hati akan senantiasa bertaut dan kasih sayang akan terus tumbuh dan berkembangdalam hati keduanya.

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik diantara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

🏡🏡🏡

# *Ketahanan Keluarga*
# *Pernak-pernik Keluarga*

 

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan