OBROLAN REMAHAN

Oleh : Ummu Rochimah

Lusi dan Teddy sepasang suami istri yang keduanya bekerja di luar rumah. Suatu malam keduanya terlibat obrolan santai dan ringan dalam suasana yang tenang dan rileks sambil menikmati malam di teras atas rumah mereka.
“Hari ini aku kacau banget!!,” Lusi memulai ceritanya. “Kamu pasti heran. Benar-benar tidak disangka, di luar perkiraan.” sambung Lusi
“Bagaimana ceritanya?” Teddy menunjukkan responnya
“Saat berangkat ke kantor tadi pagi, aku mampir sebentar di minimarket karena ada sesuatu yang harus aku beli…”
“Teruss…”
“Baru saja mau parkir, tiba-tiba ada seorang ibu dengan mobil sedan, terlihat ia sambil menelpon datang dari arah berlawanan dan menyerobot tempat parkir.”
“Masa?”
“Ya, seakan dunia miliknya. Aku buka kaca jendela dan bicara padanya saat ia keluar mobil, ‘Hei, aku tadi akan parkir di sini.’”
“Terus dia bilang apa?”
“Beuhh boro-boro menjawab, dia pergi begitu saja. Kok ada ya orang seperti itu?”
“Terus, apa yang terjadi?”
“Karena merasa kesal, aku memutuskan untuk menenangkan diri sejenak dengan minum kopi sebelum masuk kantor, aku beli secangkir kopi di kantin gedung kantor. Saat masuk lift menuju ruangan, ngga sengaja aku menumpahkan kopi ke bajuku. Hadeuuhh…kacau banget deh jadinya”
“Ya ampun!”
“Aku berusaha menghilangkan nodanya di toilet kantor, tapi masih tercium bau dan nodanya tidak hilang semua.”
“Pasti jadi tidak nyaman seharian ya?.”
“Mmmm… Sudahlah, masih panjang lagi ceritanya, tapi sekarang aku sudah ploongg bisa cerita sama kamu. Kadang kalau hari diawali dengan hal buruk, akan terus memburuk dan aku sulit untuk keluar dari situasi itu.”
“Aku tahu bagaimana rasanya.”
“Ya sudahlah, lupakan saja peristiwa itu.”
Dan keduanya pun saling merapatkan genggaman tangannya.

Obrolan ini menjadi suatu episode di mana kadang kala seorang istri atau perempuan itu seringkali tidak benar-benar sedang berniat mencari solusi. Ia hanya butuh menyalurkan kebutuhan dasar untuk menjalin ikatan batin. Dengan cara itu seorang istri bisa berbagi segala hal hingga detil semua yang dialaminya seharian tanpa mengharapkan suatu hasil apa-apa. Ia hanya butuh untuk didengarkan ceritanya, bukan diberi solusi atas permasalahan. Hanya dengan berbagi melalui cerita tentang apa yang dialaminya sepanjang hari, tingkat oksitosin atau hormone bahagia seorang istri akan meningkat.

Jadwalkan Obrolan Remahan Itu!

Perjalanan kehidupan rumah tangga tak ada yang selamanya berjalan mulus dan lurus seperti jalan tol. Terkadang ditemui jalan berbatu atau jalan tanah tak beraspal. Ada tikungan dan persimpangan yang harus dilalui bersama. Suami istri harus saling menghargai dan mengenali sifat dan karakter pasangannya.
Suami akan merasa lebih berharga di hadapan istri manakala ia mampu menunjukkan keberadaan dirinya sebagai sosok yang mampu bersikap seperti layaknya seorang pahlawan. Ia mampu memberikan pertolongan manakala istrinya membutuhkan pertolongan. Ia mampu menenangkan istrinya ketika sang istri dilanda emosi jiwa karena ulah anak-anak atau karena pekerjaan rumah yang tak pernah habis, atau karena permasalahan di kantornya. Atau sekedar mendengarkan cuitan panjang istri yang ingin berbagi kisah hariannya.

Pasangan suami istri seharusnya mengagendakan obrolan seperti ini, obrolan ringan atau obrolan remahan sebagai media untuk menjalin ikatan batin bagi keduanya. Dengan obrolan ini, seorang suami akan belajar untuk menjadi pendengar yang baik dan tidak merasa terbebani dengan perasaan sebagai ‘problem solver’. Dan istri juga akan belajar untuk berbagi kepada suami pada waktu dan suasana yang tepat. Sehingga keduanya akan memiliki perasaan yang saling mengikat dan menguatkan.

Obrolan yang kelihatan sepele, hanya tentang peristiwa harian yang dialami oleh istri. Namun obrolan ini akan memberikan manfaat besar bagi seorang istri. Ketika suami menerima semua perasaan istrinya dengan tulus tanpa penyangkalan, istri akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Ia akan melihat suaminya sebagai sosok yang luar biasa baiknya. Maka hanya akan ada sosok suami dalam hatinya.
Dari obrolan seperti, kita dapat melihat ternyata tanpa perlu mengeluarkan banyak kata-kata berupa petuah atau nasihat, suami dapat membantu istri untuk menemukan sendiri jalan keluar dari permasalahan dirinya.

Jad,i inti dari obrolan remahan ini adalah membangun ikatan batin antara suami dengan istri. Ikatan yang sangat dibutuhkan oleh pasangan suami istri. Ikatan yang akan membuat suami istri menyatu tanpa ada sekat di antara keduanya. Semakin sering obrolan dilakukan antara suami dengan istri, akan semakin kuatlah ikatan yang terbangun di antara mereka. Keduanya akan semakin saling memahami bahkan dapat saling mengetahui isi hati dan pikiran pasangannya. Sehingga konflik antara keduanya menjadi semakin kecil bentuknya.

Tujuan obrolan ringan seperti ini adalah istri sekedar berbagi dan suami mendengarkan, tanpa ada embel-embel pemecahanan masalah. Ketika suatu saat seorang istri mengatakan banyak hal yang harus ia kerjakan dan ia tidak tahu harus memulainya dari mana, atau ia mengatakan bahwa pekerjaan rumah tidak ada habis-habisnya. Hal ini harus dipahami suami bukan sebagai suatu permintaan bantuan atas problem-problem yang dihadapi istrinya, karena bantuan yang dibutuhkan istri saat itu adalah suami yang mau mendengarkan semua cuitannya.

Manfaat Obrolan Remahan

Obrolan ringan seperti ini dapat dilakukan kapan saja, tidak usah menunggu saat merasa perlu untuk berbicara dan memulainya dengan kalimat, “Papah, mama mau bicara dengerin ya..?!” atau kalimat-kalimat lain yang sejenis.
Secara naluriah istri butuh tempat untuk menyalurkan keinginan berbicaranya sebagai peningkat hormon bahagianya. Dan obrolan ringan ini jauh lebih efektif dibandingkan pembicaraan yang formal. Tidak harus memakan waktu yang lama, obrolan ini cukup berlangsung selama 10 menit saja dan dilakukan paling sedikit tiga kali dalam seminggu. Biarkan istri berbicara mengeluarkan apa saja yang dirasakannya pada hari itu selama obrolan berlangsung, suami tidak perlu memberikan komentar apapun terhadap cerita istri. Bantuan yang diharapkan istri dari suami saat itu hanyalah suami mau mendengarkan semua ungkapan perasaannya saat itu. Dan ketika waktu sepuluh menit habis, istri saat itu akan merasa sangat lega dan lepas serta bahagia hatinya. Ia akan sangat berterima kasih kepada suami karena telah bersedia menjadi pendengar setianya.

Obrolan ringan ini akan menjadi lebih bermakna ketika diakhiri dengan saling berpelukan, bergenggaman tangan, atau bentuk sentuhan fisik lainnya sebagai bentuk penguatan dari suami kepada istri dan penghargaan dari istri kepada suami. Waktu sepuluh menit yang dapat menentukan kebahagiaan pasangan suami istri sepanjang kehidupan rumah tangganya. Pasangan suami istri yang menjadwalkan obrolan ringan secara rutin akan mampu menjadikan obrolan lain yang tingkatnya lebih tinggi terbebas dari stres. Ketika suami istri suatu saat dihadapkan dengan suatu masalah dalam rumah tangganya, misalnnya mengenai permasalahan ekonomi keluarga, ketika keduanya sudah terbiasa mengobrol secara ringan, maka pembicaraan dalam rangka mencari penyelesaian suatu masalah menjadi lebih mudah dilakukan oleh keduanya, karena masing-masing sudah mengenal gaya bahasa dan tutur kata bicara pasangan. Sehingga permasalahan yang timbul dalam rumah tangga saat itu tidak menjadi sumber konflik bagi keduanya.

Begitupun sebaliknya, pasangan yang tidak pernah atau jarang melakukan obrolan remahan ini, akan mengalami kesulitan manakala dihadapkan pada suatu permasalahan rumah tangga yang mengharuskan keduanya untuk berbicara dalam memutuskan perkara tersebut. Karena masing-masing belum atau tidak mengenali gaya bahasa dan tutur kata bicara pasangan, maka mudah sekali keduanya dilanda kesalah pahaman terhadap pasangan.

Maka, jangan abaikan obrolah remahan ini dan menganggap sesuatu yang tidak penting dalam kehidupan rumah tangga, justru obrolan remahan inilah yang dapat menyelamatkan biduk rumah tangga.

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan