Orang Tua sebagai Sahabat Anak

Orang Tua sebagai Sahabat Anak

Orang Tua sebagai Sahabat Anak

@ Ummu Rochimah

Bentuk interaksi orang tua dengan anak sangat menentukan sejauh mana efektifitas penanaman nilai-nilai dan pendidikan anak yang diterapkan dalam keluarga. Tidak sedikit orang tua yang memposisikan dirinya “hanya” sebatas menjadi orang tua, memberi perintah, melarang, menyuruh dan menjadi mesin atm bagi anaknya dalam membiayai kehidupan anak. Interaksi yang terjadi dalam pola hubungan seperti ini hanya berlaku hak dan kewajiban. Orang tua hanya menjalankan kewajibannya untuk memenuhi hak anak, demikian pula anak anak hanya menjalankan kewajibannya sebagai anak untuk menjadi anak yang menurut pada orang tua.

Tidak sedikit orang tua yang sibuk bekerja di luar rumah dalam mencari penghasilan yang layak demi anak-anak, bekerja selama 12 jam dalam sehari, 7 hari dalam sepekan bahkan bisa jadi 30 hari dalam sebulan. Ketika ditanya, untuk apa bekerja selama itu? Jawabannya adalah demi anak dan istri. Benarkah demikian?

Dalam kenyataannya, bahwa anak-anak bukan hanya butuh penghasilan orang tua untuk menjalani kehidupannya, sekolah formal yang berbiaya mahal sebagai salah satu alasan orang tua mencari nafkah, atau biaya sandang, pangan dan papan yang layak bagi anak-anak.

Tidak ada yang salah ketika orang tua berjuang untuk memenuhi kebutuhan bagi anak-anaknya. Namun, terkadang orang tua lupa bahwa anak-anak adalah manusia juga yang memiliki perasaan yang membutuhkan perhatian, cinta dan kasih sayang. Di mana hal ini, tidak dapat dipenuhi dengan materi semata, tapi sentuhan dan kedekatan hati orang tua sangat dibutuhkan.

Anak-anak butuh tempat mereka bisa mencurahkan perasaan dengan nyaman yang mau mendengarkan keluh kesahnya, yang betah mendengarkan keinginannya yang sering di luar prediksi orang tua, bahkan mau mendengarkan ungkapan kebahagiaanya yang terkadang terdengar lebay di telinga orang tua. Sesuatu yang murah dan zero cost sebenarnya, namun justru ini hal yang paling sulit dilakukan oleh sebagian besar orang tua.

Seorang psikolog dan psikoanalis Inggris, John Bowlby dalam bukunya A Review of General Psychology yang terbit tahun 2002 menggagas teori _Attachment Theory_ atau teori kelekatan, beliau menyebutkan bahwa tiga tahun pertama kehidupan seorang anak adalah waktu yang paling baik untuk mengembangkan kelekatan antara orang tua dan anak. Kelekatan ini adalah suatu hubungan emosional atau hubungan yang bersifat afektif antar orang tua dengananak. Hubungan yang dibina bersifat timbal balik dan ini akan bertahan untuk waktu yang cukup lama dalaam rentang kehidupan manusia, mampu memberikan rasa aman walaupun figur yang lekat tidak nampak dalam pandangan.

Dalam studi lanjutan mengenai teori kelekatan Bowlby, menunjukkan bahwa sebagian besar anak sebenarnya mengalami perasaan aman terhadap orang tuanya, disebut juga kelekatan yang aman, dan hanya sebagian kecil yang mengembangkan perasaan tidak aman. Studi ini membuktikan bahwa anak yang merasa aman cenderung berkembang lebih sehat mental dibanding anak yang tidak aman.

Anak yang merasa aman terbukti mampu memecahkan masalah dengan baik, lebih kreatif, menunjukkan lebih banyak emosi positif, lebih bisa bergaul, lebih banyak inisiatif, lebih semangat belajar, dan banyak lagi kelebihan positif lainnya.

Sementara, anak yang merasa tidak aman cenderung lebih banyak menunjukkan sisi negatif, mudah marah, agresif, sulit diatur, suka membantah, merajuk, mengucapkan kata-kata yang tidak baik, dan perilaku buruk lainnya.

Dari sini kita bisa mendapat gambaran, bahwa pola kelekatan yang aman menjadi sangat penting untuk mengembangkan potensi kebaikan anak. Maka orang tua harus selalu mengupayakan terbentuknya pola ini. Salah satu upaya yang bisa dilakukan orang tua untuk membentuk kelekatan yang aman bagi anak-anak yaitu dengan cara menjadi pendengar yang baik sehingga anak merasa aman dan nyaman untuk melakukan aktifitas positif mereka. Dalam bentuk seperti ini lah orang tua dapat disebut sebagai sahabat anak.

Sebuah kisah seorang perempuan bernama Deanna yang ditulis oleh Steven W. Vannoy dalam bukunya 10 Anugerah Terindah untuk Ananda semoga dapat menjadi pelajaran bagi orang tua.

Sewaktu remaja, Deanna tidak mendapat perhatian sama sekali dari ibunya yang sudah ditinggal wafat ayahnya. Sang ibu seolah tenggelam dalam kesedihan yang mendalam dan merasa hidupnya telah berakhir sepeninggal ayahnya, sehingga ia lupa bahwa masih ada seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dan perhatiannya.

Mulanya sang Deanna merasa hidup tak berarti, ibunya sebagai orang terdekatnya tidak menganggap diriny ada. Hingga suatu saat, Deanna memutuskan untuk berusaha keluar dari situasi tersebut. Ia ingin membuktikan kepada ibunya bahwa ia ada, dan dapat membuat bangga ibunya dengan cara ia harus berhasil dalam ujian sekolahnya.

Saat menjelang ujian sekolah, ia benar-benar sibuk belajar untuk menghadapi ujian. Malam hari sebelum ujian, ia meminta Ibunya untuk tanya jawab, karena ia merasa semakin banyak pertanyaan yang bisa ia jawab, semakin besar keyakinannya untuk menghadapi ujian. Mulailah ia bercerita dengan penuh semangat tentang semua yang telah ia pelajari, ibunya terlihat duduk di hadapannya. Tiba-tiba, saat ia mendongak, ia berharap mendapat pemandangan seorang ibu yang sedang tekun mendengarkan dengan wajah penuh perhatian.

Namun, apa yang tampak dihadapannya?
Sang ibu terlihat tertidur!

Keesokan harinya, jangankan lukus ujian Deanna pun tidak mengikuti ujian, hingga akibatnya ia dikeluarkan dari sekolah.

Hanya sebuah peristiwa kecil, tapi bisa menentukan jalan kehidupan seorang anak. Yang dibutuhkan anak saat itu hanyalah orang tua yang mau mendengarkan.

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan