.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Dalam belajar menulis, ada beberapa konteks yang perlu diperhatikan. Pertama, membangun habit atau kebiasaan menulis. Hal ini memerlukan latihan dan pembiasaan rutin setiap hari, sampai bisa menikmati proses menulis. Sasarannya adalah agar bisa menulis dengan lancar dan terbangun habit menulis.
Kedua, membangun kualitas penulisan. Setelah lancar menulis dan memiliki habit menulis, konteks berikutnya adalah belajar mengenai tata bahasa, pembentukan kalimat, pembentukan paragraf, dan berbagai aturan kepenulisan. Sasarannya adalah agar bisa menghasilkan tulisan berkualitas.
Di antara rujukan penting untuk konteks ini adalah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI), Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dan Tesaurus. Kita bisa belajar secara bertahap, atau sesuai dengan kebutuhan.
Ketiga, menyunting atau mengedit tulisan. Setelah mengerti berbagai aturan kebahasaan dan bisa mengaplikasikannya, konteks berikutnya adalah belajar melakukan penyuntingan atau editing. Ini yang disebut swasunting atau self editing. Sasarannya agar bisa menghadirkan tulisan yang baik dan benar, sebelum dipublikasikan.
Belajar Menggunakan PUEBI dalam Tulisan
Kesempatan kali ini, saya mengajak belajar menggunakan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), agar bisa menulis dengan lebih baik dan benar. PUEBI dimaksudkan memberikan pedoman dalam penggunaan bahasa Indonesia, terutama dalam tataran tulis menulis.
Sebagaimana diketahui, pada 30 November 2015, Permendiknas 46/2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Sebagai gantinya, diterbitkanlah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) melalui Permendikbud 50/2015.
Selain tercetak dalam bentuk buku, terdapat juga bentuk PUEBI Daring, yaitu versi web ramah gawai dari PUEBI. Isi PUEBI Daring diperkaya dengan beberapa catatan tambahan yang belum dinyatakan atau dinyatakan secara implisit pada dokumen asli Permendikbud 50/2015.
Jika kita sedang menulis naskah, kemudian menemukan kesulitan atau keraguan terkait ejaan, maka bisa segera membuka PUEBI Daring. Dengan cara seperti ini, kita belajar secara bertahap sesuai kebutuhan.
Penggunaan Huruf Kapital Menurut PUEBI
Tentu saja saya tidak bermaksud menyalin semua isi PUEBI dalam tulisan ini. Saya hanya sekedar menunjukkan contoh penggunaannya, sebagai cara untuk belajar secara bertahap.
Dari berbagai hal yang diatur dalam PUEBI, saya ajak Anda semua menengok tentang penggunaan huruf kapital. Masih banyak kesalahan dalam penggunaan huruf kapital saat kita membuat tulisan. Kita perlu belajar bagian demi bagian, agar semakin banyak pedoman bisa kita terapkan.
Saya termasuk yang masih sering salah, namun saya beruntung karena semua buku saya selalui melalui proses editing oleh editor profesional. Dengan demikian, kekurangan atau kesalahan ejaan dan tata bahasa dari tulisan saya, bisa terkoreksi.
Pada tulisan kali ini, saya tidak mencantumkan semua aturan penggunaan huruf kapital dalam PUEBI. Saya hanya menyampaikan tiga contoh saja, sebagai berikut.
Pertama, huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi
Yang dimaksud nama geografi adalah nama negara, nama kawasan, nama kota, nama provinsi, nama jalan, nama daerah, ditulis dengan huruf pertama kapital.
Misalnya:
Jakarta
Asia Tenggara
Pulau Miangas
Amerika Serikat
Bukit Barisan
Jawa Barat
Dataran Tinggi Dieng
Danau Toba
Jalan Sulawesi
Gunung Semeru
Ngarai Sianok
Jazirah Arab
Selat Lombok
Lembah Baliem
Bali
Bogor
Belanda
Cina
Akan tetapi, huruf pertama nama diri geografi yang dipakai sebagai nama jenis tidak ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
jeruk bali (Citrus maxima)
kacang bogor (Voandzeia subterranea)
nangka belanda (Anona muricata)
petai cina (Leucaena glauca)
Kedua, huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, kakak, adik, dan paman, serta kata atau ungkapan lain yang dipakai dalam penyapaan atau pengacuan.
Misalnya:
“Kapan Bapak berangkat?” tanya Hasan.
Dendi bertanya, “Itu apa, Bu?”
“Silakan duduk, Dik!” kata orang itu.
Surat Saudara telah kami terima dengan baik.
“Hai, Kutu Buku, sedang membaca apa?”
“Bu, saya sudah melaporkan hal ini kepada Bapak.”
Namun tidak setiap istilah kekerabatan ditulis dengan awal huruf kapital. Ada penggunaan istilah kekerabatan yang bukan merupakan penyapaan atau pengacuan.
Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
Pada dua contoh di atas, kata bapak, ibu, kakak dan adik tidak diawali dengan huruf kapital, karena bukan merupakan penyapaan atau pengacuan.
Ketiga, kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal kapital
Ini adalah pedoman yang ditetapkan oleh PUEBI, bahwa kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Siapa nama Anda?
Saya sangat senang bertemu dengan Anda.
Tulisan ini saya persembahkan untuk Anda semua.
Demikianlah beberapa contoh penggunaan huruf kapital menurut PUEBI. Masih sangat banyak pedoman penggunaan huruf kapital, yang dicantumkan dalam PUEBI. Para pembaca dipersilakan bisa menyimak langsung PUEBI, agar bisa mengetahui keseluruhan pedoman ejaan berbahasa.
Mari terus belajar.
Bahan Bacaan
Tim Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta, 2016
PUEBI Daring, https://puebi.readthedocs.io/en/latest/