.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Saya rasa, saya pikir, saya harap” – Oktina Burlianti (2019)
.
Sebagaimana diketahui, menulis bisa menjadi sarana katarsis. Menulis bisa menjadi proses self-healing. Anda bisa menyembuhkan luka-luka jiwa, bisa menghilangkan kenangan buruk, sekaligus bisa menghadirkan kenyamanan dan kedamaian, lewat tulisan.
Seperti yang dinyatakan oleh Ratu Pandan Wangi (2020), “Proses menulis bisa menjadi self healing atau penyembuhan yang baik. Dengan mengolah pikiran abstrak menjadi tulisan yang nyata, pelan-pelan kita bisa mengurai rasa sakit hati”.
Menulis untuk proses penyembuhan, mungkin akan terasa canggung pada awalnya. Anda memerlukan sejumlah waktu untuk menyesuaikan diri sampai mendapatkan suasana kenyamanan dalam menulis. Pertama kali melakukannya, pilihan kata-kata yang Anda tuliskan akan tampak kaku dan seperti dipaksakan. Saat membaca kembali, Anda berpikir, “Sepertinya ini tidak bukan saya.”
Meski demikian, teruslah menulis. Savannah Schaffer (2019) menuturkan pengalaman pribadinya, “Butuh beberapa minggu bagi saya untuk menulis diary sebelum mulai lancar mengalir”. Yang membuat tidak lancar itu adalah, Anda menulis seakan-akan sedang mengerjakan skripsi atau tesis, sehingga sangat memeriksa kebenaran tulisan Anda dari segi sistematika dan tata bahasa.
“It doesn’t matter if you spelled a word wrong — that’s not the point. Just focus on the meaning of the words and what you are trying to express”, ujar Schaffer. Tidak masalah jika Anda salah menuliskan kata atau kalimat, karena bukan itu intinya.Lebih baik Anda fokus pada emosi yang ingin Anda tumpahkan.
Tiga Aspek Healing
Psikolog Oktina Burlianti (2019) menyatakan, agar tulisan menjadi proses penyembuhan, paling tidak ada tiga aspek yang bisa Anda eksplorasi. Pertama adalah aspek perasaan yang ingin Anda lepaskan. Kedua, aspek pikiran yang kerap mengganggu hidup Anda. Ketiga, aspek harapan yang Anda inginkan di masa sekarang dan akan datang.
Agar lebih nyata, ketiga hal ini sering disebut dengan “saya pikir”, “saya rasa” dan “saya harap”.
“Saya Pikir”
Bukan hanya perasaan, ada pikiran-pikiran berkelebat dalam diri Anda yang mengganggu kehidupan Anda. Dengan menuliskan pikiran-pikiran itu, Anda tengah mengelola dan mengendalikannya. Anda bisa melepaskan beban pikiran dengan menuliskannya.
Anda bisa memulai menulis dengan ‘saya pikir’, dalam bentuk menumpahkan hal-hal negatif. Misalnya, “Saya pikir, mati lebih baik daripada hidup terhina. Setiap menjelang tidur, saya berpikir bahwa ini adalah malam terakhir bagi saya. Demikian pula setiap bangun pagi, saya berpikir bahwa ini adalah pagi terakhir bagi saya. Hari-hari saya kacau. Pikiran saya selalu menyambung dengan perselingkuhan suami. Ingatan akan kejadian itu benar-benar mematikan semangat hidup saya. Saya pikir, lebih baik saya segera mati”.
Ini bagian dari proses ‘pelepasan’ beban pikiran. Tuliskan semua hal yang melintas di pikiran Anda. Tuliskan semua yang mengganggu pikiran Anda. Sampai semua berhasil Anda tuangkan menjadi tulisan. Beban pikiran itu telah Anda letakkan.
Selanjutnya, Anda juga bisa menuliskan ‘saya pikir’ dalam bentuk yang positif. Inilah bagian dari proses healing yang diharapkan dari menulis.
Misalnya, “Saya pikir, semua manusia dewasa bisa membedakan perbuatan baik dan buruk. Sebagai suami dan kepala keluarga harusnya suami saya bisa menjaga diri. Saya pikir dia harus menjadi contoh teladan dalam kebaikan. Bukan menghinakan diri dengan melakukan perbuatan tercela. Namun saya pikir kesempatan bertaubat selalu terbuka. Ia bisa bisa memperbaiki diri untuk menjadi suami yang lebih baik lagi”.
“Saya Rasa”
Menulis sebagai penyembuhan, tidak bermaksud mengorek kembali luka-luka lama. Namun dengan menuliskannya, Anda menjadi melihat secara lebih nyata, bahwa luka-luka itu memang ada. Bukan semata-mata khayalan atau imajinasi saja.
Anda bisa memulai menulis dengan ‘saya rasa’, dengan menumpahkan berbagai perasaan yang tidak nyaman. Misalnya, “Saya rasa, hidup saya sudah hancur sejak menyaksikan perselingkuhan yang dilakukan suami. Saya tidak bisa menggambarkan kesedihan, kekecewaan dan kemarahan atas peristiwa itu. Hancur sehancur-hancurnya. Marah semarah-marahnya. Remuk seremuk-remuknya. Saya tak tahu lagi akan berbuat apa. Dunia sudah gelap bagi saya. Hidup sudah berakhir. Tak ada lagi yang tersisa.”
Lakukan itu rutin, sampai semua rasa yang ingin Anda tumpahkan, telah habis semuanya. Saat itu Anda akan merasa semakin nyaman. Inilah proses pelepasan bebean perasaan.
Selanjutnya, Anda bisa menulis ‘saya rasa’ dalam bentuk yang positif. Ini bagian penyembuhan luka diri, dengan membangun perasaan positif.
Misalnya, “Saya rasa, saya harus tetap hidup untuk anak-anak. Sejahat apapun suami saya, namun saya memiliki anak-anak yang harus saya dampingi. Jika saya mati, maka anak-anak saya akan diasuh oleh suami yang akhlaknya rusak. Saya tidak mau anak-anak saya mencontoh kelakuan suami. Saya rasa, saya akan bisa kuat menjalani hidup, untuk anak-anak”.
“Saya Harap”
Karena tujuannya adalah katarsis dan healing, maka Anda juga harus membangun harapan. Tidak hanya mengorek beban perasaan dan beban pikiran, namun Anda juga harus menuliskan harapan-harapan akan kebaikan di masa yang akan datang.
Pada awalnya, Anda bisa menulis ‘saya harap’ dalam bentuk yang negatif. Ini untuk melepas semua beban yang menghimpit kehidupan. Misalnya, “Saya harap suami saya segera mati saja. Saya harap ia dipermalukan dan dihinakan karena perbuatannya yang sangat jahat. Saya harap ia akan diazab di neraka. Saya harap ia akan dihancurkan”.
Ini adalah sesi pelepasan beban. Selanjutnya, Anda harus membangun harapan kebaikan bagi diri dan orang lain. Misalnya, “Saya harap, suami saya benar-benar bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha. Saya harap, suami saya diampuni semua dosa-dosanya. Saya harap ia menjadi suami dan ayah yang salih. Saya harap kami sekeluarga bisa masuk surga bersama-sama”.
Nah ini menjadi penyempurna self-healing. Jika Anda ingin menyembuhkan diri dari suatu luka hati, Anda bisa melakukan self-healing dengan menulis saya rasa, saya pikir dan saya harap secara berulang-ulang. Sampai Anda merasa lebih tenang dan nyaman.
Tidak untuk Dipublikasikan
Sebagaimana teah saya sampaikan dalam postingan menulis untuk katarsis, maka menulis untuk self-healing tidak untuk dipublikasikan. Tidak untuk menjadi postingan di medsos. Tidak untuk menjadi postingan di blog atau web. Tidak untuk menjadi postingan di koran dan majalah. Tidak juga untuk menjadi buku.
Self-healing adalah bab penyembuhan diri sendiri dari suatu luka. Maka ini tidak untuk kepentingan publikasi. Isinya tidak standar publik, sangat pribadi. Membuka aib, menumpahkan marah dan emosi, dengan bahasa dan kalimat yang mungkin saja kasar, dan bengis.
Jangan menulis di smartphone. Tulis di laptop atau komputer –yang lebih aman. Jangan lupa, kunci dengan password. Suatu saat nanti Anda sudah merasa nyaman dengan luka yang telah tersembuhkan, Anda boleh membuka kembali tulisan itu untuk dilakukan editing. Tulisan bisa Anda kemas ulang menjadi narasi yang memotivasi untuk bangkit dari keterpurukan.
Namun jika Anda tidak nyaman, tulisan bisa Anda musnahkan. Tugasnya telah selesai. Luka Anda telah tersembuhkan dengan menuliskan.
Bahan Bacaan
Dear Netizen : Writing is Healing, https://www.vidio.com/watch/1822779-dear-netizen-writing-is-healing, 8 November 2019
Ratu Pandan Wangi, Mengubah Patah Hati Jadi Karya yang Bermakna, Ternyata Bisa Jadi Buku yang Diterbitkan, www.hipwee.com, 8 Juli 2020
Savannah Schaffer, Healing Through Writing, www.medium.com, 9 Juli 2019
Ilustrasi : https://starlight427.wordpress.com/