.
Oleh: Cahyadi Takariawan
Saya sering menyebut dua istilah dalam membedakan Karya Tulis. Pertama adalah Karya Tulis Ilmiah Murni, kedua adalah Karya Tulis Ilmiah Populer.
Yang disebut dengan Karya Tulis Ilmiah Murni adalah karya tulis yang dibuat untuk kepentingan akademik atau kepentingan kedinasan. Biar mudah, saya singkat : KTI.
Contoh KTI adalah skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, penelitian tindakan kelas (PTK), penelitian tindakan sekolah (PTS), naskah untuk jurnal akademik, naskah untuk syarat kenaikan pangkat / jabatan, dan lain sebagainya. Anda bisa membaca contohnya di bagian catatan kaki pertama [i].
Sedangkan Karya Tulis Ilmiah Populer adalah karya tulis yang dibuat untuk kepentingan publik atau masyarakat luas. Biar mudah, saya singkat : KTP.
Contoh KTP adalah artikel untuk koran, majalah, web, blog, atau tulisan untuk buku-buku populer. Anda bisa membaca contohnya di bagian catatan kaki kedua [ii].
Dari KTI Menjadi KTP
Terkadang, hasil penelitian yang memakan waktu lama dengan biaya dan tenaga tak sedikit, kurang bisa diakses masyarakat luas. Salah satu sebabnya adalah, laporan hasil penelitian bercorak KTI, sehingga sulit dibaca masyarakat luas.
Untuk itulah, KTI perlu dibahasakan secara populer dan dipublikasikan luas untuk memberikan informasi dan edukasi kepada semakin banyak kalangan. Menurut Bambang Trim (2015), kata kunci mengapa diperlukannya konversi KTI menjadi KTP adalah “diseminasi”.
Diseminasi didefinisikan di dalam KBBI sebagai penyebarluasan ide atau gagasan. Dalam Lampiran Peraturan Kepala LIPI Nomor 2 Tahun 2014, diseminasi didefinisikan sebagai “penyampaian hasil litbang dan/atau pemikiran di bidang iptek kepada masyarakat dan/atau pemangku kepentingan untuk dimanfaatkan atau dikembangkan lebih lanjut”.
Karena itu, KTI yang didiseminasikan harus mampu berkomunikasi dengan audiensinya yaitu masyarakat dan pemangku kepentingan pada bidang yang menjadi bahasan. Contohnya, hasil penelitian di bidang peternakan tentang penggemukan sapi perlu dibuat diseminasi agar para peternak sapi yang umumnya bertingkat pendidikan rendah dapat mengetahuinya (Bambang Trim, 2015).
Perbedaan KTI dan KTP
Sekarang, mari saya ajak Anda melihat perbedaan dari keduanya.
- Cara Pembuatan Judul
Cara membuat judul untuk KTI tidak boleh sembarangan. Ada ketentuan atau pedoman untuk membuatnya. Cenderung formal, dan harus menggunakan kalimat baku sesuai EYD dan KBBI. Contoh judul KTI : Dampak Moneter Kebijakan Defisit Anggaran Pemerintah : Peranan Ala Nalar dalam Simulasi Model Makro Ekonomi Indonesia (R. Maryatmo, 2005).
Sedangkan untuk membuat judul KTP, boleh menggunakan kalimat populer. Tidak ada ketentuan atau standar tertentu. Judul harus dibuat menarik agar membuat penasaran pembaca. Boleh menggunakan kalimat tidak baku. Contoh judul KTP : The Power of Kepepet (Jaya Setiabudi, 2008).
- Sistematika Penulisan
Secara sistematika, penulisan KTI memiliki aturan atau standar baku dan harus sesuai dengan kaidah kebahasaan EYD. Tidak boleh menggunakan sistematika yang berbeda dengan ketentuan baku. Jumlah bab, urutan penulisan, metode pembahasan, semua ada ketentuan yang harus dipenuhi.
Pada KTP, sistematika penulisan tidak ada ketentuan baku. Yang penting logis, sistematis dan mudah dipahami. KTP tidak harus mengacu pada suatu teknik penulisan tertentu, penulis bebas berekspresi dengan sistematika yang disukainya.
- Bahasa Penulisan
KTI harus menggunakan bahasa baku yang sesuai dengan kaidah EYD dan KBBI. Pemilihan kata, pembentukan kalimat, penyusunan paragraf, semua harus sesuai kaidah kebahasaan baku. Tidak boleh menggunakan bahasa tidak baku.
Pada KTP, boleh menggunakan bahasa populer yang umum ada di tengah masyarakat sesuai segmen pembaca. Penulis bebas menggunakan bahasa sesuai keinginannya, dan tidak terikat dengan kaidah penulisan baku. Ini memudahkan penulis mengekspresikan ide dan pemikirannya.
- Pemilihan Istilah
Penulisan KTI banyak menggunakan istilah teknis dalam bidang keilmuan masing-masing. Istilah-istilah teknis seperti ini cenderung tidak dimengerti oleh masyarakat umum. Hanya dimengerti oleh mereka yang berada dalam disiplin ilmu yang sama.
Penulisan KTP, menggunakan istilah populer yang sudah umum dan dipahami masyarakat luas. Jangan menggunakan istilah akademik yang tidak dimengerti khalayak, karena tujuan KTP adalah untuk kepentingan khalayak luas.
- Tujuan Penulisan
KTI ditulis untuk memenuhi tugas akhir kuliah di universitas, membuat laporan praktikum / penelitian, memenuhi persyaratan kenaikan pangkat / jabatan pada Aparat Sipil Negara (ASN), menulis untuk jurnal akademik, dan lain sebagainya.
KTP ditulis untuk memberikan informasi, motivasi, inspirasi, edukasi, atau hiburan kepada masyarakat luas. Penulis sudah menetapkan segmen pembaca yang akan dituju, dan perubahan yang diharapkan terjadi pada pembaca melalui tulisannya.
- Pembahasan dan Analisis
KTI dibahas dan dianalisa dengan metodologi ilmiah tertentu yang baku. Cara pembahasan, cara menganalisa, cara mengambil kesimpulan, hingga cara penyajian dalam tulisan, semua ada aturan baku yang harus diikuti.
Sedangkan pada KTP, pembahasan dan analisis dilakukan secara populer. Bisa merujuk kepada kepustakaan dan cara analisa tertentu, namun disampaikan dengan gaya populer yang mudah dipahami masyarakat luas.
- Isi Tulisan
KTI berisi hasil penelitian yang dibahas, dianalisa dengan metodologi yang jelas, dan disimpulkan. Dengan demikian KTI berisi informasi ilmiah yang akurat.
Sedangkan pada KTP, isi tulisan bisa berupa apa saja. Bisa pemikiran atau pendapat pribadi, analisa pribadi, pengalaman, refleksi, atau berbagai hal yang diangkat dari kehidupan sehari-hari. Tidak harus berbasis penelitian.
Demikianlan beberapa titik perbedaan antara Karya Tulis ilmiah dan Karya Tulis populer. Tulisan saya ini termasuk Karya Tulis populer.
Bahan Bacaan
Bambang Trim, Makalah Konversi KTI Nonbuku Menjadi Buku, 2015
Imron Rosidi, Ayo Senang Menulis Karya Tulis Ilmiah, 2005
Lintang Suharto Rivai, Rambu-rambu Karya Tulis Ilmiah Widyaiswara, 2009
.
Catatan Kaki
[i] Contoh Karya Tulis Ilmiah Murni
Rehabilitasi Medik Pada Skoliosis
Skoliosis adalah deformitas tulang belakang yang ditandai oleh lengkungan ke lateral dengan atau tanpa rotasi tulang belakang. Skoliosis dapat berupa skoliosis fungsional yang dapat diperbaiki sedangkan skoliosis struktural yang cenderung menetap.
Sekitar 15-20 % dari kasus skoliosis penyebab awalnya tidak diketahui, serta 80% kasus skoliosis struktural mempunyai etiologi idiopatik dan biasanya ditemukan pada anak-anak atau remaja.
Etiologi, onset, prognosis, dan terapi skoliosis dapat bervariasi, namun akibat skoliosis berat yang tidak diterapi akan sama, yaitu nyeri disertai berbagai gangguan dalam keseimbangan, fungsi kardipulmonal, emosional, perilaku, dan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Tujuan terapi skoliosis ialah untuk menjaga agar kurvatura yang terjadi tetap terkontrol selama pertumbuhan. Terapi skoliosis dapat berupa observasi; terapi rehabilitasi, yaitu: pemberian modalitas, ortosis/brace, dan latihan; atau terapi invasif seperti operasi.
Peralatan eksternal yang dapat digunakan untuk terapi skoliosis, antara lain gips plaster, brace, atau kombinasi. Tujuan penggunaan alat-alat ini ialah untuk mengoreksi kurvatura skoliosis yang ada atau mempertahankan koreksi yang telah dilakukan oleh terapi operasi.
Penggunaan brace direkomendasikan pada skoliosis dengan kurvatura > 20° pada pasien yang masih dalam masa pertumbuhan dan dengan progresifitas sebesar 5 – 10° dalam periode 6 bulan.
Milwaukee brace atau Cervico Torakal Lumbo Sacral Orthosis (CTLSO) merupakan brace yang memberikan sanggahan pada pelvis dan koreksi dengan deformitas rotatorik secara statik. Indikasi penggunaan Milwaukee Brace meliputi skoliosis tahap awal yang sedang berkembang dan mendekati sudut kurvatura 20°.
Kurvatura yang melebihi 50° bukan merupakan kandidat yang tepat untuk penggunaan Milwaukee Brace. Pemakaian Boston brace paling efektif pada skoliosis dengan puncak kurva di T6 sampai L3.
SpineCor merupakan bentuk ortosis yang fleksibel, dengan tujuan untuk mengurangi hambatan fisik dan meningkatkan tingkat kepatuhan pasien menggunakan ortosis tersebut.
Catatan :
Karya Tulis di atas cuplikan adalah tulisan ilmiah karya Jane Pelealu dkk dari Bagian Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado, dengan judul Rehabilitasi Medik Pada Skoliosis, dipublikasikan pada tahun 2014 dalam ejournal.unsrat.ac.id
Diambil sebagian kecil, hanya sekedar untuk contoh pembelajaran.
[ii] Contoh Karya Tulis Populer
Bagaimana Cara Mencegah Skoliosis?
Skoliosis adalah kelainan pada tulang belakang yang bisa mengubah postur tubuh penderitanya. Gejala skoliosis yang paling kentara adalah tulang belakang melengkung sampai membentuk huruf “S” atau “C”.
Skoliosis umumnya mulai terlihat di masa kanak-kanak. Tapi, tak jarang gangguan tulang belakang ini baru muncul saat seseorang sudah dewasa. Penyebab skoliosis bisa karena faktor keturunan, posisi panggul tidak merata, operasi tulang belakang atau sendi, distorsi lutut atau kaki, sampai cedera kepala.
Mengingat penyakit skoliosis bisa menimbulkan rasa tak nyaman, nyeri, sampai masalah pernapasan, pastikan Anda konsultasi ke dokter jika merasa tulang belakang tak normal.
Melansir Medlife, terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari skoliosis, salah satunya deteksi dini. Skrining rutin khusus untuk skoliosis atau masalah kelainan tulang belakang lain bisa dilakukan dengan pemeriksaan tulang perlu sejak bayi lahir sampai anak berusia 15 tahun.
Dengan mengetahui kondisi skoliosis sejak dini, komplikasi kelainan tulang belakang yang bisa merusak jantung sampai paru-paru ini dapat dicegah. Selain itu, pastikan untuk memberikan perawatan komprehensif jika ada penyakit yang menyerang tulang belakang. Infeksi tulang belakang bisa jadi biang skoliosis.
Hal yang tak kalah penting lainnya, hindari kebiasaan mengangkat beban berat dengan satu tangan. Penyakit skoliosis pada anak-anak umumnya bisa dicegah dan risiko komplikasi bisa diminimalkan lewat deteksi dini.
Catatan
Karya Tulis ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Bagaimana Cara Mencegah Skoliosis?” pada 17 Agustus 2020. Penulis : Mahardini Nur Afifah. Editor : Mahardini Nur Afifah.
Diambil sebagian, hanya untuk kepentingan pembelajaran