Kembali
Motivasi Menulis

Perlukah Outline untuk Menulis?

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Outlines do a lot wrong for us. Its like giving ourselves a handicap” –Jessica Cote, 2017.

.

Kemahiran menulis, baik fiksi maupun nonfiksi, tidak hanya terkait dengan penguasaan aspek teori kepenulisan. Ada faktor kebiasaan individu, yang bercorak sangat personal. Berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.

Salah satu hal yang bercorak personal dalam menulis, terkait dengan penggunaan outline atau kerangka tulisan. Dalam kelas menulis, setiap kali menemukan pertanyaan dari peserta terkait kesulitan mengembangkan ide, jawaban standar para mentor adalah penggunaan outline.

Namun, outline tidak selalu bisa memberi solusi. Karena ada kebiasaan individu yang tidak sama antara satu orang dengan orang lainnya. Sebagian penulis, merasa nyaman dan enjoy dengan menggunakan outline saat menulis. Sebagian yang lain, merasa tersiksa dengan adanya batasan outline.

“They lay out a plan, plot, and a route that the story can take but it doesn’t predict any of the character’s movement or action during your writing” –Jessica Cote, 2017.

Penggunaan outline, sering saya kaitkan dengan jenis tulisan yang hendak kita buat. Jika hendak membuat tulisan pendek, tidak perlu membuat outline. Jika hendak membuat tulisan panjang, sangat perlu outline.

Tulisan Pendek

Ada sangat banya jenis tulisan di muka bumi ini. Saya hanya menyebut dua jenis secara sederhana, dari segi ukuran panjang atau pendeknya. Pertama, tulisan pendek. Kedua, tulisan panjang.

Tulisan pendek adalah karya tulis yang bisa kita selesaikan dalam sekali duduk. Misalnya, menulis untuk postingan di blog atau web. Saya biasa menulis untuk blog ruangkeluarga.id atau ruangkeluarga.id, dalam sekali duduk. Termasuk tulisan pendek, saya batasi pada kisaran 500 kata.

Karena hanya menulis 500 kata, maka dengan mudah kita menyelesaikannya dalam sekali duduk. Tidak perlu sesi berikutnya untuk menyelesaikan tulisan. Misalnya saya mulai menulis pukul 05.00 pagi selama satu jam, langsung selesai saat itu juga. Ini yang saya sebut sebagai selesai dalam sekali duduk.

Demikian juga menulis untuk koran dan majalah, yang kisarannya 1.000 kata. Ini masih bisa selesai dalam sekali duduk, meski duduknya agak lama. Namun masih bisa terjangkau dalam satu sesi menulis.

Untuk jenis tulisan pendek seperti ini, pada dasarnya tidak memerlukan outline. Karena kita masih akan bisa mengkonsolidasikan alur tulisan secara sistematis, disebabkan pendeknya tulisan dan pendeknya waktu membuat tulisan. Duduk satu jam menulis satu cerita atau satu artikel, masih akan mampu mengonstruksi kerunutan jalan cerita.

Tulisan Panjang

Jenis kedua adalah tulisan panjang, yaitu karya tulis yang tidak bisa kita selesaikan dalam satu kali duduk. Contohnya membuat cerpen atau artikel dengan ukuran 5.000 kata. Hanya para legenda yang mampu menyelesaikan menulis 5.000 kata dalam sekali duduk. Para penulis pada umumnya, memerlukan beberapa sesi untuk menyelesaikannya.

Apalagi untuk menulis novel, yang memerlukan 50.000 kata atau bahkan 100.000 kata. Tentu ini memerlukan waktu berhari-hari, berpekan-pekan, atau bahkan berbulan-bulan. Sangat banyak sesi ‘duduk’ untuk menyelesaikan sebuah novel. Haruki Murakami biasa menulis novel hingga enam bulan atau lebih.

Untuk jenis tulisan panjang seperti ini, saya selalu menyarankan untuk menggunakan outline dalam menulis. Kegunaan outline adalah untuk memandu proses menulis, agar tetap on the track. Tidak melebar, tidak kehilangan arah, juga tidak kebingungan untuk meneruskan sesi menulis.

Setiap kali saya membuat buku, selalu memulai dengan menyusun outline. Saya memeriksa berulang kali outline tersebut, hingga saya merasa yakin untuk menuliskan isinya. Ada buku yang saya tulis dalam waktu satu bulan, ada pula yang selesai dalam tiga bulan. Saya tidak kesulitan untuk menyambung dari satu sesi ke sesi berikutnya, karena dipandu oleh outline.

Kembali Kepada Kebiasaan

Meski demikian, semua tetap berpulang kepada kebiasaan masing-masing penulis. Saya tahu ada penulis yang lebih nyaman bekerja tanpa outline, meskipun untuk serial yang sangat panjang. SH. Mintardja, penulis legendaris dari Yogyakarta, menulis buku-buku serial fiksi sejarah, tanpa outline.

“What most writers get wrong is the need to draw an outline. I’ve been against outlines since grade three. Really I have” –Jessica Cote, 2017.

Demikian pula dengan Jessica Cote (2017), seorang penulis fiksi. Ia menyatakan, hal paling sulit dalam menulis adalah memberikan kesempatan kepada ide untuk berkembang. Hal ini sudah saya ulas dalam postingan sebelumnya. Silakan disimak kembali di sini.

Yang dimaksud Cote dengan ‘memberi kesempatan’ –adalah tidak membatasi. Baginya, outline adalah batasan yang sangat kaku. Bahkan dianggap membunuh kreativitas. Maka ia selalu bekerja tanpa outline.

“Outlines do a lot wrong for us. Its like giving ourselves a handicap” –Jessica Cote, 2017.

“Saya telah menolak membuat outline sejak kelas tiga”, ujar Cote. “Saya lewati proses membuat outline dan langsung menulis esai. Guru akan membaca karya saya, dan saya bisa mulai proses mengedit di saat semua siswa masih menulis”, ujarnya.

Kebiasaan menulis Cote bercorak bebas merdeka. Ia tidak menyukai batasan-batasan sebagaimana ditentukan dalam outline. Ternyata, ia menemukan dirinya lebih optimal dalam corak seperti itu. Ia lebih cepat menulis dibandingkan teman-teman lainnya yang menulis menggunakan kerangka atau outline.

 “I’m the kind that likes surprises from my characters. By following an outline it takes away from the surprises and events” –Jessica Cote, 2017.

Menurut Cote, outline membuat kita melakukan banyak kesalahan. Ia menganggap outline adalah hambatan atau cacat. Para penulis menyusun rencana, plot, dan alur cerita, namun tidak memprediksi hal-hal yang bersifat kejutan. Semuanya normatif, berjalan sesuai kerangka yang kaku.

“Saya adalah tipe orang yang menyukai kejutan dari karakter yang saya tulis”, ujar Cote. Baginya, dengan mengikuti outline, justru menghilangkan unsur kejutan dan peristiwa menarik.

“Some people like order with their work. I am not one of them” –Jessica Cote, 2017.

“Beberapa orang suka ketertiban dalam menulis. Saya bukan salah satu dari mereka”, ujar Cote. Jadi, semua kembali kepada masing-masing kita. Tipe seperti apakah kita?

Selamat menulis, selamat berkarya, selamat menginspirasi dunia.

Bahan Bacaan

Jessica Cote, The Hardest Part of Writing a Book is Giving it a Chance, 26 September 2017, https://writingcooperative.com

.

Ilustrasi : https://visme.co/blog/how-to-write-a-report/

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.