Pernikahan (Catatan kecil akhir kelas SERASI)

Pernikahan (Catatan kecil akhir kelas SERASI)

Oleh: Ida Kusdiati

Ahad pagi menutup kelas SERASI (Sekolah Pranikah Salimah Indonesia) di PD Kota Pontianak. Kelas yang dilaksanakan melalui pertemuan rutin setiap bulannya dengan berbagai materi tentang pernikahan mulai dari tinjauan Fiqih, kesehatan reproduksi sampai pada pengelolaan manajemen ekonomi keluarga.

Kurikulum yang dimodifikasi sedemikian rupa dengan harapan memberikan bekal ilmu yang cukup bagi yang akan menikah dengan menghadirkan narasumber yang berkompeten di bidangnya masing-masing.

Di akhir kelas selaku Ketua PW Salimah Kalbar diminta memberikan taujih bagi peserta. Tak ingin membahas lagi segala teori yang ada, aku lebih memilih bicara realita keadaan saat ini atas fenomena berkeluarga di banyak pasangan.

Menghadirkan bayangan bagi peserta bahwa pernikahan bukan hanya keindahan yang ada di dalamnya dan sebanyak apapun ilmu yang telah diserap sebagai bekal awal perjalanan pernikahan, maka pernikahan sesungguhnya yang akan dijalani adalah sebuah perjalanan panjang dari dua pasangan yang dituntut terus menimba ilmu.

Perjalanan panjang pernikahan adalah sebuah keluarga sekolah yang tak henti belajar. Bagaimana kita dua orang dengan latar belakang berbeda baik adat, budaya, strata sosial bahkan dari pola pengasuhan orag tua yang berbeda hidup bersama dalam jangka panjang sungguh bukan hal yang mudah menjalaninya.

Kembali pada niat awal dan pertama bahwa menikah itu adalah Ibadah, maka perjalanan panjang itu akan terasa nyaman manakala bisa menerima baik kekurangan dan kelebihan pasangan sebagai kombinasi dari sabar dan syukur yang selalu dikedepankan.

Dari Abu Yahya Suhaib bin Sinan Radhiyallahu anhu ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya. (HR. Muslim no. 2999).

Karena pernikahan itulah yang akan melengkapkan segala ketidaksempurnaan dan kekurangan dari masing-masing pasangan melalui sekolah jangka panjang yang namanya “keluarga”.

Bisa jadi jodoh yang didatangkan tak seideal dalam bayangan dan harapan namun Allah dekatkan dan jadikan sebagai ladang amal ibadah menjadikan sang pasangan sesuai harapan dengan kesabaran dalam perjalanannya.

Berprasangka baik pada Allah mulai dari menerima pilihannya dengan ikhlas, berikhtiar bersama menghadirkan Sakinah Mawaddah Warahmah dan jika dalam perjalanannya ada duri, onak dan luka maka memaafkan adalah lebih mulia dengan harapan menggapai RidhoNya.

Pernikahan adalah ikhtiar bersama kedua pasangan untuk menumbuhkan cinta terus menerus dan jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama yakni suami atau istrinya karena senantiasa menghadirkan Allah SWT dalam perjalanannya.

Firman Allah SWT dalam Surah Ar-Rum ayat 21 :“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dia telah menjadikan dari dirimu sendiri pasangan kamu, agar kamu hidup tenang bersamanya dan Dia jadikan rasa kasih sayang sesama kamu. sesungguhya dalam hal itu menjadi pelajaran bagi kamu yang berpikir”.

Wallahu’alam

ruangkeluarga

Tinggalkan Balasan