PINTU KEBAIKAN SANGAT LUAS, LAKUKAN SESUAI KEMAMPUAN

PINTU KEBAIKAN SANGAT LUAS, LAKUKAN SESUAI KEMAMPUAN

 

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Kebaikan memiliki sangat banyak bentuk, dan sangat banyak pintu. Maka menjadi lebih mudah bagi kita untuk beramal kebaikan, sesuai dengan kondisi, situasi, kemampuan dan kesanggupan masing-masing. Memang sangat berat menjadi manusia sempurna —karena kesempurnaan hanya milik Allah, dimana seorang manusia memiliki kelebihan dalam semua sisi kebaikan.

Maka wajar jika ada manusia yang sangat istimewa pada suatu amal, namun lemah pada amal yang lain. Atau sangat istimewa pada suatu sisi kebaikan, namun biasa saja pada sisi kebaikan yang lainnya. Sangat berat untuk menjadi istimewa dalam semua sisi kebaikan. Hanya Nabi Saw yang dikenal memiliki keistimewaan dalam semua sisi kehidupan, karena beliau Saw disiapkan sebagai uswatun hasanah bagi semua umat manusia hingga akhir zaman.

Pada zaman Nabi Saw, kita juga mengenal sahabat yang dinisbatkan dengan keutamaan sifat tertentu, seperti Abubakar Ash Shidiq —yang menunjukkan sisi keistimewaan Abubakar dalam hal sifat shidiq; Umar Al Faruq —yang menunjukkan keistimewaan Umar dalam sifat keberanian; sebagaimana Khalid bin Walid disebut sebagai pedangnya Allah lantaran kehebatan di medan perang. Tentu para sahabat juga hebat dalam berbagai sisi lainnya, namun memiliki sisi yang lebih menonjol dalam sisi dan sifat tertentu.

Keistimewaan pada suatu amal tertentu, bisa jadi terkait pula dengan momentum atau waktu tertentu. Pada masa peperangan, ada amal tertentu yang istimewa; sebagaimana pada masa damai, ada amal tertentu yang lebih istimewa. Pada bulan Ramadhan, ada amal tertentu yang lebih istimewa, dibanding pada bulan yang lainnya. Pada masa menjelang Pemilu dan Pilpres, ada amal tertentu yang lebih istimewa, dibanding pada waktu-waktu yang lainnya; dan begitu seterusnya. Ini adalah sisi keutamaan suatu amal yang terkait dengan momentum.

Jika dikaitkan dengan kondisi setiap orang, kita juga menemukan kondisi yang berbeda-beda, maka ada amal yang istimewa pada setiap kondisi tersebut. Misalnya, berbeda kondisi antara orang kaya dengan orang miskin, antara orang sehat dengan orang sakit, antara pejabat dengan rakyat, antara ahli ilmu dengan orang awam, antara anak muda yang masih kuat badannya dengan orangtua yang sudah lemah tubuhnya, dan lain sebagainya. Ini adalah sisi keutamaan suatu amal yang terkait dengan kondisi dan situasi masing-masing orang.

Oleh karena itu, hendaknya kita semua berusaha untuk melakukan amal terbaik, amal istimewa, sesuai kondisi, situasi, kemampuan dan kesanggupan masing-masing. Kewajiban manusia adalah melakukan hal terbaik, sebagai bentuk pengabdian dan ketaatan kepada Allah. Namun karena kondisi dan kemampuan setiap orang berbeda, kondisi setiap zaman berbeda, maka bisa jadi kita akan lebih fokus pada suatu amal kebaikan tertentu tanpa meninggalkan sisi amal yang lain.

Di masa terdahulu, kita juga menemukan tokoh tertentu yang dikenal memiliki keistimewaan amal tertentu. Imam Adz Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam An Nubala’ (8/115) menukil sebuah kisah dari Imam Malik bin Anas, sebagai berikut. Seorang ahli ibadah tinggal di kota Madinah, bernama ‘Abdullah bin ‘Umar bin Hafsh Al ‘Umari. Ahli ibadah ini menulis surat berisi nasihat kepada Imam Malik, agar lebih banyak menyendiri dan mengerjakan ibadah.

Imam Malik pun menulis surat balasan kepada ‘Abdullah bin ‘Umar bin Hafsh Al ‘Umari. Berikut isi surat balasan beliau:

“Sesungguhnya Allah telah membagikan amal-amal salih sebagaimana Dia membagikan rejekiNya untuk manusia. Boleh jadi seseorang dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam shalat —dengan rajin mengamalkan shalat-shalat sunnah, tapi tidak dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam ibadah puasa”.

“Sementara orang lain ada yang dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam bersedekah —dengan banyak berinfak, tapi tidak dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam ibadah puasa. Ada juga orang yang dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam berjihad di jalan Allah, tapi tidak dibukakan pintu kebaikan baginya dalam ibadah lainnya”.

“Menyebarkan ilmu termasuk amal kebaikan yang paling utama. Dan sungguh aku telah ridha dengan (pintu kebaikan) yang telah dibukakan Allah untukku dalam menyebarkan ilmu ini. Aku tidak merasa amal yang aku lakukan ini di bawah amal yang anda lakukan. Dan aku berharap kita berdua (selalu) di atas kebaikan dan ketaatan (kepada-Nya)”.

Demikian jawaban Imam Malik.

Jawaban beliau ini memberikan sangat banyak pelajaran kepada kita semua. Pertama, bahwa masing-masing amal memiliki sisi keutamaan dan keistimewaan di hadapan Allah. Kedua, bahwa masing-masing manusia memiliki kondisi, situasi, kemampuan dan kesanggupan yang tidak sama. Ketiga, tidak saling mencela, meskipun kadar amal setiap orang berbeda-beda. Keempat, saling berlomba melakukan amal terbaik sesuai kondisi, situasi, kemampuan dan kesanggupan masing-masing.

Selamat berlomba-lomba melakukan amal kebaikan. Bagi anda yang dikaruniai rejeki, istimewakan amal anda dengan zakat, infak dan sodakoh. Salurkan melalui LAZISQU untuk berbagai aktivitas kebaikan yang sangat luas. Kirim donasi anda melalui Bank Syariah Mandiri 7224-7334-74 a.n. YAYASAN LAZISQU. Informasi LazisQu : 0878 3955 9003. Web : www.lazisqu.or.id. Instagram @lazisqu.

 

 

 

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan