Puasa Melatih Kesabaran

Puasa Melatih Kesabaran

🌻🌻🌻

Seri Hikmah Puasa

Puasa Melatih Kesabaran

@ummurochimah

“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan baginya, dan yang demikian itu tidak dimiliki kecuali orang mukmin saja. Jika ia mendapatkan kebahagiaan dia akan bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Jika ditimpa kesulitan atau musibah, dia bersabar, maka itu kebaikan baginya.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ibnu Hibban)

Menurut Imam Ahmad, kata sabar disebutkan dalam Al Quran di tujuh puluh tempat. Sabar merupakan separuh dari iman.

Sabar menurut pengertian bahasa artinya menahan atau bertahan. Secara syar’i sabar bermakna menahan diri dari rasa gelisah, cemas dan amarah, menahan lidah dari berkeluh kesah dan menahan anggota tubuh dari tindakan-tindakan tercela.

Ada tiga macam kesabaran, yaitu; sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi segala kemaksiatan yang dapat menjauhkan seseorang dari Allah dan sabar dalam ujian Allah.

Ibadah puasa setidaknya mengandung kedua macam kesabaran, yaitu sabar dalam taat dan menjauhi maksiat. Sehingga tidak berlebihan jika Rasulullah menamakan bulan Ramadhan sebagai bulan sabar (syahrush shabr), sebagaimana sabda Beliau : “Puasa (Ramadhan) adalah bulan sabar, dan tiga hari dalam tiap-tiap bulan dapat menghilangkan rasa dengki dalam dada.” (HR. Bazzar dan Ibnu Abbas)

Ibadah puasa akan mendorong kita untuk memiliki sifat sabar. Bersabar menanti waktu berbuka. Bersabar untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang unfaedah. Bersabar untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat menghilangkan nilai puasa.

Kesabaran dalam ketaatan dan menjauhi maksiat merupakan kesabaran yang berkaitan dengan tindakan yang dikehendaki.

Sebagai ilustrasi yang sangat mengena tentang kesabaran ini ada pada kisah nabi Yusuf. Kesabaran nabi Yusuf ketika menghadapi rayuan istri majikannya jauh lebih baik bila dibandingkan kesabarannya saat ia dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, atau saat dijual dan terpisah dari ayahnya.

Ketika nabi Yusuf dibuang, dijual dan terpisah dari ayahnya, hal ini merupakan sesuatu diluar kehendaknya, sehingga tidak ada pilihan baginya selain dengan bersabar. Ini masuk dalam kategori sabar dalam ujian Allah.

Tapi kesabaran yang beliau tampakkan saat menghadapi rayuan istri majikannya, merupakan kesabaran yang berkaitan dengan tindakan yang dikehendaki. Kesabaran memerangi hawa nafsu. Dengan berbagai faktor penyerta bahwa nabi Yusuf adalah seorang bujangan yang kelewat tampan, pastinya memiliki keinginan dan masih mudah tergoda oleh rayuan. Beliau adalah orang terasing, jauh dari kampung halaman, secara perilaku keumuman orang yang jauh dari kampung halaman seringkali kurang bisa jaim alias jaga image, hanya punya sedikit rasa malu. Dengan kondisinya saat itu sebagai budak, yang umumnya tidak terlalu peduli dengan pandangan orang lain. Belum lagi bahwa rayuan itu dilakukan oleh seorang perempuan yang cantik, terpandang dan terhormat, tidak ada seorangpun yang akan melihat perbuatannya. Apalagi dengan embel-embel ancaman, jika tidak menuruti kemauan majikannya akan dijebloskan ke penjara dan dihinakan. Lengkap sudah faktor yang bisa meruntuhkan iman dan kesabaran seorang pemuda Yusuf. Jika ia berkehendak menuruti semua rayuan majikan dan memenangkan hawa nafsunya, maka jatuhlah ia dalam lembah kehinaan yang tak berujung.

Namun, yang terjadi bahwa pemuda Yusuf memilih untuk bersabar dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan karena lebih memilih apa yang ada di sisi Allah.

Begitu pun dengan ibadah puasa bagi seorang mukmin. Bersabar dalam puasa merupakan bentuk kesabaran yang terkait tindakan yang dikehendaki. Akan sangat banyak faktor yang bisa mendorong seseorang untuk memilih tidak melaksanakan puasa, baik faktor dari dalam diri berupa minimnya iradah maupun faktor lingkungan luar. Namun, seseorang yang memilih apa yang ada di sisi Allah, sesuatu yang jauh lebih besar balasannya akan mampu melaksanakan puasa dengan ikhlas dan sabar.

“Dia meninggalkan makanannya karena (mematuhi perintah)-Ku, meninggalkan minumannya karena (mematuhi perintah)-Ku, mengekang syahwatnya karena (mematuhi perintah)-Ku, dan meninggalkan istrinya juga karena (mematuhi perintah)-Ku.” (HR. Ibmu Khuzaimah)

Wallahu’alam

6 Ramadhan 1442H

#ramadhanmenulis
#menuliskebaikan
#30daywriting

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan