Puasa Membersihkan Jiwa

Puasa Membersihkan Jiwa

🌻🌻🌻

Seri Hikmah Puasa

Puasa Membersihkan Jiwa

@ummurochimah

 

Islam tidak mensyariatkan sesuatu, melainkan pasti ada hikmah di dalamnya. Syariat yang bersifat perintah pastilah ada kebaikan yang hendak Allah berikan kepada hamba-Nya. Begitupun dengan syariat yang bersifat larangan, pastilah terkandung sesuatu yang buruk sehingga manusia diperintahkan untuk menjauhinya agar tetap berada dalam kebaikan. Jadi, setiap syariat Allah, baik perintah atau pun larangan tujuan utamanya adalah kebaikan bagi manusia.

Kebaikan syariat Allah dapat diketahui oleh orang-orang yang tahu dan paham, dan tidak akan diketahui oleh orang-orang yang bodoh dan enggan untuk mencari tahu.

Setiap hukum Allah tidak akan bisa lepas dari hikmah-hikmah yang terkandung dalam syariat-Nya. Allah Maha Bijaksana dalam perintah-Nya dan sama sekali tidak pernah mensyariatkan suatu hukum dengan sia-sia.

Allah tidak pernah memiliki sedikitpun kepentingan dalam suatu apa pun, justru manusia sebagai hamba-Nya yang amat sangat membutuhkan-Nya. Ketaatan seorang hamba kepada Allah tidak akan menambah Kebesaran dan Keagungan-Nya. Begitupun sebaliknya, kemaksiatan dan kedurhakaan hamba tidak akan menghinakan dan membahayakan kedudukan-Nya. Setiap ketaatan maupun kemaksiatan yang dilakukan seorang manusia akan kembali kepada diri sendiri.

Begitulah hakikat ibadah kepada Allah, salah satu ibadah yang Allah syariatkan pada bulan Ramadhan yaitu ibadah puasa.

Makna puasa secara bahasa artinya menahan. Makna secara syar’i adalah menahan dan mencegah diri dari hal-hal yang mubah, yaitu makan, minum, berhubungan suami istri dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam ibadah puasa terdapat sejumlah hikmah dan kebaikan bagi manusia, di antaranya ialah :

Tazkiyatun Nafs (Membersihkan Jiwa)

Menurut Said Hawwa, tazkiyatun nafs pada hakikatnya menjauhkan diri dari kemusyrikan, mengakui keesaan Allah, serta meneladani akhlak Rasulullah tercinta.

Ada tiga fase yang mesti dilalui dalam pembersihan jiwa, yaitu tathahhur, tahaqquq, dan takhalluq.

Tahap pertama berarti memfokuskan hati dan pikiran hanya kepada Allah. Kuncinya adalah dzikir, baik secara lisan, batin, maupun perbuatan.
Kepaduan dzikir ini digambarkan dalam surat Ali Imran ayat 191.

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Di dalamnya, Allah menyinggung orang-orang yang mengingat-Nya baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring. Mereka itu menyadari tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan bumi dalam setiap posisi dan kondisi.

Tahap kedua dapat diartikan sebagai perwujudan sifat-sifat Allah yang mulia dalam aktivitas seorang Muslim. Semboyannya adalah berakhlak sebagaimana sifat Allah. Misalnya, salah satu sifat Allah adalah ar-Rahmaan dan ar-Rahiim. Maka dari itu, seseorang hendaknya cenderung bersifat pengasih dan penyayang terhadap sesama.

Tahap ketiga adalah membiasakan akhlak-akhlak baik ke dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah puncak perwujudan disiplin diri untuk tercapainya kondisi jiwa yang benar-benar bersih.

Wallahu’alam

1 Ramadhan 1442H

#ramadhanmenulis
#menuliskebaikan
#30daywriting

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan