Puasa Mendidik Iradah(Kemauan)

Puasa Mendidik Iradah(Kemauan)

🌻🌻🌻

Seri Hikmah Puasa

Puasa Mendidik Iradah (Kemauan)

@ummurochimah

Allah menciptakan manusia agar mengenal dan beribadah kepada-Nya. Karena itu Islam menjadikan peribadatan hanya kepada Allah semata.

Ibadah dalam Islam terbagi menjadi beberapa bagian :

Ibadah yang dikerjakan dengan memerlukam kekuatan badan, seperti shalat dan puasa. Ibadah ini disebut sebagai ibadah jasadiyah.

Ibadah yang dilaksanakan dengan mengeluarkan sebagian harta, seperti zakat dan sedekah. Ibadah ini disebut ibadah maliyah.

Ibadah yang memerlukan kekuatan fisik dan harta, seperti haji dan umrah.

Ibadah yang tampak bentuk pelaksanaannya, seperti shalat, zakat dan haji.

Ibadah yang memerlukan pengendalian hawa nafsu, seperti puasa.

Pengendalian hawa nafsu akan sangat berkaitan erat dengan iradah (kemauan) dan sifat sabar. Tidaklah suatu kebaikan kecuali iradah. Tidaklah agama Islam kecuali sabar atas ketaatan dan sabar dalam menjauhi maksiat.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah mengatakan bahwa mereka yang memiliki iradah yang benar, maka Allah akan memasukkan barakah kebenaran ke dalam hatinya dan hubungan yang baik dengan Allah. Manusia yang iradahnya benar  maka hatinya akan dibukakan oleh Allah, diberi cahaya dan ilmu.

Firman Allah dalam surat Al Isra : 84 : “Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing’. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.”

Setiap orang berbuat menurut keadaan yang membentuknya dan yang sesuai dengan dirinya. Orang jahat akan berbuat sesuai dengan keadaan dirinya. Orang yang mencintai Allah dengan benar dan ikhlas akan berbuat sesuai dengan dirinya, bertindak menurut pembentukan kehendaknya.

Ibnu Qoyim membagi iradah menjadi tiga derajat, yaitu ;

Pertama, Meninggalkan kebiasaan berdasarkan ilmu. Derajat iradah yang paling rendah, yaitu kemauan untuk meninggalkan nafsu dan syahwat yang  sebelumnya biasa dikerjakan. Hal ini hanya bisa dilakukan ketika seseorang memiliki ilmu. Ilmu adalah cahaya yang menerangi agar seseorang lebih mengutamakan tujuan.

Siapa yang tidak menyertai ilmu dalam iradahnya, maka iradahnya menjadi tidak benar.

Kedua, Mendorong jiwa untuk keluar dari kemalasan. Hati yang tidak memiliki iradah akan diliputi dengan kemalasan. Melakukan amalan dengan asal-asalan, sekedar menggugurkan kewajiban. Melaksanakan sholat sebatas gerakan tubuh, berpuasa sekedar menahan diri tidak makan dan minum, berzakat dan haji sekedar agar dapat tampil sebagai orang terpandang. Tidak ada keinginan untuk lebih merasakan kedekatan kepada Allah, amalannya hanyalah amalan rupa.

Iradah yang benar akan membawa seseorang mengubah amalan rupa menjadi amalan hakiki, naik dari Islam ke iman, lalu dari iman ke ihsan.

Ihsan adalah ketika seseorang beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat Allah, walaupun sejatinya ia tidak akan dapat melihat Allah, tapi yakinlah bahwa Allah dapat melihatnya.

Ketiga, Fokus yang disertai istiqomah. Iradah akan membawa seseorang untuk senantiasa fokus memperhatikan tujuan, tidak mudah menoleh pada hal-hal lain yang ditemui dalam perjalanan mencapai tujuan.

Fokus akan menjadi berdaya guna ketika disertai dengan istiqomah. Istiqomah kata yang mudah diucapkan namun sulit dalam menjalankannya. Kita seringkali sulit untuk mencapai tujuan karena ketidakmampuan kita untuk bisa tetap istiqomah.

Ibadah puasa akan mendidik kita untuk senantiasa memiliki iradah yang benar. Melatih bangun di waktu dini hari untuk makan sahur, sesuatu yang mungkin dalam keseharian tidak kita lakukan, tapi selama Ramadhan hal ini menjadi mudah dilakukan, karena puasa memberikan kita kekuatan untuk itu.

Puasa juga menjadi tameng yang bisa menangkis dosa, sebagaimana sabda Rasulullah dalam haditsnya, _” Puasa adalah perisai dari api neraka seperti perisainya seorang di antara kamu dalam perang.”_ (HR. Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah)

Wallahu’alam

5 Ramadhan 1442H

 

#ramadhanmenulis

#menuliskebaikan

#30daywriting

🌻🌻🌻

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan