Rahasia Agar Suami Istri Menjadi Mitra dalam Rumah Tangga

Rahasia Agar Suami Istri Menjadi Mitra dalam Rumah Tangga

RAHASIA AGAR SUAMI ISTRI MENJADI MITRA DALAM RUMAH TANGGA

 

Oleh Ummu Rochimah

Di pagi hari yang cerah, matahari memancarkan sinar tanpa malu-malu, nampak dari sebuah rumah pemandangan seorang ayah sedang duduk di teras belakang sambil membaca berita dari layar ponselnya, di sampingnya terlihat seorang anak kecil berusia sekira 2 tahun yang sedang bermain mobil-mobilan. Tiba-tiba dari dalam dapur rumahnya terdengar sebuah suara:

“Ayah, bisa ngga ngeluarin kasur yang semalam kena ompol, kelihatannya matahari terik hari ini.”

Sambil tetap menatap layar ponselnya sang ayah menjawab:

“Iyaa….”.

Tetapi ternyata ia tidak segera mengerjakan apa yang di minta oleh isterinya. Ia tetap berada di teras dan meneruskan membaca berita-berita di layar ponsel. Sang istri pun tetap meneruskan pekerjaannya di dapur sambil menunggu janji suaminya dipenuhi dan melakukan apa yang ia minta. Namun ternyata harapan hanya tinggal harapan tidak bisa segera terwujud, hingga hampir setengah jam berlalu sejak ia meminta suaminya mengeluarkan kasur.

Lalu dengan nada sedikit resah, ia datangi suaminya dan berseru:

“Ayah, bukannya tadi ibu minta supaya ayah mengeluarkan kasur untuk dijemur?!”

Suami menjawab dengan suara agak jengkel dan marah:

“Kan tadi udah bilang, iyaa..nanti!.”

Sang istri pun terdiam, dan kembali ke dapur dengan sikap tidak senang dengan jawaban suaminya.

Apa yang terjadi dengan suami? Apakah ia kemudian akan segera melakukan permintaan isterinya? Ternyata ia tidak melakukannya, ia tetap terpaku pada layar ponselnya.

Selang beberapa lama, istri pun kembali dalam keadaan marah dan berkata:

“Bagaimana sih Ayah ini?! Ibu kan sudah minta untuk mengeluarkan kasur, mumpung matahari lagi terik! Nanti kalau keburu mendung bagaimana? Ayah niat ngga sih nolong Ibu!!”

Sang suami pun langsung menghempaskan ponselnya dan berdiri dari tempat duduknya. Tapi terlihat raut mukanya tidak senang dengan perkataan isterinya dan membalas dengan suara tinggi:

“Sudah dibilang, nanti dikerjakan. Kenapa cerewet amat sih. Memang harus buru-buru? Dunia belum mau kiamat kali!”

Akhirnya keadaan hati keduanya menjadi memanas. Hari pun tidak lagi terlihat cerah di mata suami istri tersebut.

Meminta bantuan menjadi suatu hal penting dalam hubungan interaksi antara suami dan isteri. Pasangan suami istri sejatinya adalah orang yang selalu saling tolong menolong saling membantu. Sebagaimana firman Allah dalam surat  Al Maidah ayat 2 : “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” Dalam ayat ini menggunakan kata tolong menolong dikaitkan dengan kata al-birru yang secara sederhana bermakna kebaikan, yaitu kebaikan yang menyeluruh, mencakup segala macam dan ragamnya. Imam Ibnul Qoyim al Jauziyah mendefinisikan bahwa al-birru adalah satu kata bagi seluruh jenis kebaikan dan kesempurnaan yang dituntut dari seorang hamba. Dalam hal tolong menolong pun harus dilakukan dengan penuh kebaikan, yang meminta tolong dan yang dimintai tolong harus melakukannya dengan niat kebaikan, sehingga tidak ada pihak yang merasa teraniaya atau tersakiti, baik oleh perkataan mau pun perbuatan.

Suami adalah orang yang paling berhak menerima pertolongan dari istri, dan suami adalah orang pertama yang wajib memberikan pertolongan kepada istri bila ia membutuhkan. Begitupun sebaliknya, seorang istri ia orang yang paling berhak menerima pertolongan dari suami dan orang pertama yang wajib menolong suami bila ia membutuhkan pertolongan.

Bila salah satu pihak merasa tidak berhasil mendapatkan bantuan yang diharapkan dari pasangannya, bisa jadi penyebabnya karena tidak adanya keterusterangan atau keterbukaan dalam meminta, atau menggunakan cara yang salah, atau adanya ketidakjelasan dalam meminta pertolongan.

 

Sebab Isteri Tidak Mau Meminta Bantuan

Karena adanya perbedaan sifat dan karakter antara suami dan isteri, maka sering terjadi kesalahan dari kedua belah pihak dalam mengekspresikan bentuk pertolongan kepada pasangannya. Kesalahan yang banyak terjadi biasanya dari sisi isteri yang terkadang memiliki keyakinan bahwa ia tidak perlu mengatakan bahwa ia butuh pertolongan suaminya. Ia berharap bahwa suaminya akan memberikan pertolongan saat ia membutuhkan tanpa perlu diminta.

Hal ini disebabkan karena tabiat perempuan yang siap melakukan dan memberikan pertolongan kepada orang lain sebelum diminta. Memberikan bantuan menjadi suatu kebutuhan bagi seorang perempuan. Inilah bentuk dari perwujudan sifat alamiah seorang perempuan yang lebih menonjol sisi merawat.  Inilah mengapa terkadang isteri sering merasa dan berharap orang lain memiliki hal yang sama dengan dirinya untuk memberikan pertolongan karena sebab sebagai sebuah kebutuhan.

Sedangkan tabiat laki-laki berbeda dengan tabiat perempuan, laki-laki tidak mengharapkan pertolongan dari orang lain kecuali bila ia memintanya. Hal ini yang terkadang tidak dipahami oleh perempuan. Seorang isteri berharap suaminya mau menolongnya tanpa ia minta. Sementara suami, sebagaimana sifat laki-laki pada umumnya, tidak akan mudah bagi ia untuk memberi pertolongan tanpa diminta. Karena seperti itulah sifat laki-laki, tidak mengharapkan bantuan orang lain kecuali ia meminta bantuan.

Karena perbedaan persepsi inilah yang karena tidak dipahami oleh suami maupun isteri, akhirnya dapat menimbulkan kekecewaan di dalam hati isteri yang mengharapkan bantuan dari suami. Sementara suami merasa tidak ada yang salah dengan dirinya, karena memang isteri tidak meminta bantuan darinya.

Bagi seorang isteri, ketika ia sudah mencintai suaminya salah satu wujud cintanya adalah memberikan pertolongan tanpa diminta. Lalu ia berpikir bahwa suaminya juga akan berpikir demikian. Sedangkan bagi seorang suami atau laki-laki pada umumnya akan merasa menjadi penting bila ia dimintai pertolongan secara eksplisit, secara terang-terangan. Ketika pasangannya tidak secara terbuka meminta tolong maka ia akan merasa bahwa pasangannya tidak membutuhkan pertolongan. Sehingga dari perbedaan cara pandang ini kemudian memunculkan permasalahan di antara keduanya karena ketidak pahaman masing-masing dalam meminta bantuan.

 

Berikan Sebuah Proyek untuk Suami

Tabiat laki-laki adalah: “Apabila ada orang yang membutuhkan bantuan, maka ia harus memintanya, dan jangan berharap seseorang akan memberikan bantuan tanpa ada permintaan.”

Pada dasarnya kebanyakan suami akan dengan mudah dan sukarela membantu isterinya dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Hanya saja, isteri harus meminta bantuan secara spesifik, bukan dengan mengkritik, memusuhi atau menyindirnya. Namun, yang sering terjadi, isteri merasa enggan untuk meminta bantuan kepada suami, karena merasa tidak enak bila harus meminta bantuan secara terus menerus. Dan sangat berharap bahwa suaminya dapat mengerti kemauannya dan bersedia memberi bantuan tanpa perlu diminta.

Mengapa harus meminta bantuan kepada suami secara spesifik? Laki—laki itu menyenangi pekerjaaan yang bersifat proyek. Karena proyek itu bersifat spesifik. Ada awal dan akhirnya. Jelas tergambar dalam bayangannya jenis dan waktu pekerjaannya. Sehingga ia bisa menentukan apa yang akan dilakukan, bagaimana ia melakukannya dan yang terpenting, kapan akan dilakukan. Ia akan memilih untuk mengerjakan apa yang dianggapnya penting. Dengan memberikan sebuah proyek untuk dikerjakan oleh suami, ia akan merasa usahanya tidak akan disepelekan. Semua hal ini dapat memberinya semangat dan motivasi untuk membantu isterinya. Misalnya dalam kasus seperti di atas, menjemur kasur. Ungkapkan saja keinginan untuk menjemur kasur dengan batasan waktu, sebelum tengah hari misalnya. Dan setelah itu lepaskan dan biarkan suami mengerjakannya. Istri harus berlapang hati untuk tidak mendesak suami agar mengerjakannya saat itu juga.

Laki-laki sangat tidak senang bila ia didesak dan dituntut untuk segera melakukan sesuatu. Terlebih lagi bila disertai perasaan marah dan jengkel. Walaupun sebenarnya suami sangat siap untuk memberikan bantuan, namun ia akan menolak untuk memberi pertolongan bila isteri menuntut banyak permintaan atau meminta dengan nada dan mimik yang tidak menyenangkan.

Bila seorang isteri sedang merasa capek, sementara tidak ada makanan untuk mereka makan di malam hari, sebaiknya berterus terang saja dan katakana,”Saya capek betul ya malam ini, tolong belikan makanan untuk makan malam ini?” Ucapan seperti ini akan lebih nyaman didengar oleh suami ketimbang istri ngrundel, ngomong ngga jelas, atau menggunakan bahasa-bahasa isyarat atau sindiran.

Atau bila perlu bantuan untuk mencuci piring, daripada mengharapkan suami membantu secara sukarela, isteri dapat mengatakan, “Tolong bantu cucikan piring ya?”

Contoh-contoh ucapan isteri di atas, menunjukkan sebuah proyek untuk dikerjakan oleh suami. Tampak jelas ada awal dan akhirnya. Seorang laki-laki cenderung tidak suka mengerjakan sesuatu yang bersifat rutinitas, seperti halnya pekerjaan rumah tangga. Namun bukan berarti mereka enggan melakukannya, hanya perlu lebih detail mengenai pekerjaan apa yang bisa mereka lakukan.

Saat suami memberikan bantuan kepada isteri, jangan berpikir dan menganggap bahwa hal itu memang sudah seharusnya dilakukan oleh suami. Kemauan memenuhi permintaan-permintaan atau proyek-proyek kecil dari isteri sebenarnya memberikan lebih banyak semangat bagi suami di dalam rumahnya. Kemudian akan membuatnya lebih banyak memberikan bantuan dan pertolongan. Akhirnya, dia akan terbiasa membantu lagi dan lagi.

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan