@ummurochimah

Momen ramadan menjadi kesempatan emas untuk membangun ketahanan dan pendidikan bagi keluarga.
Bulan ramadan yang hadir setiap tahun akan selalu membawa nuansa gembira dan suka cita di hati kaum muslimin. Dan memang seperti itulah tuntunan Rasulullah kepada umatnya, bergembira ketika ramadan tiba.
“Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad)
Ibnu Rajab al Hambali menjelaskan tentang hadits ini, “Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadan).
Banyak kegembiraan yang bisa dirasakan ketika akan memasuki bulan ramadan. Ada yang gembira karena mendapat kesempatan untuk memperbaiki ibadahnya, ada yang gembira karena mendapat peluang kebaikan berupa penambahan penghasilan bagi keluarga, ada yang gembira karena mengharap perjumpaan, bersilaturahim dengan keluarga di penghujung ramadan berupa aktivitas mudik, dan lain sebagainya.
Ramadan akan membawa kegembiraan dan kebaikan bagi setiap muslim dan keluarganya, karena akan ada aktivitas sahur bersama keluarga yang sulit dijumpai di bulan-bulan lain. Ada momen berbuka puasa bersama keluarga, salat tarawih berjamaah bersama keluarga, yang semuanya itu akan memberikan perasaan gembira dan kebahagiaan dalam keluarga.
Momen ramadan menjadi kesempatan emas untuk membangun ketahanan dan pendidikan bagi keluarga. Sebagaimana salah satu nama bulan ramadan, yaitu syahrul tarbiyah -bulan pendidikan-. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa mendidik diri sendiri dan juga keluarga. Al Quran banyak menyebutkan ayat-ayat perintah dan hukum yang kemudian akan beriringan dengan perihal pendidikan keluarga.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat, dan miniatur sebuah peradaban. Ada kepala keluarga yang memimpin orang-orang yang berkumpul dan tinggal dalam satu atap dengan keadaan saling bergantung satu sama lainnya. Setiap individu dalam keluarga memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing yang harus saling mendukung untuk kebaikan bersama.
Seorang Ayah harus menjadi pemimpin dalam keluarga. Ia menjadi penentu arah kebijakan keluarga. Mau menjadi seperti apa atau bagaimana keluarga itu, dimulai dari bagaimana seorang ayah memimpin. Motivasi terbesar yang Allah berikan bagi kepala keluarga ada dalam Al Quran surat At Tahrim, ayat 6;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka … “
Sosok Ayah harus menjadi pendidik bagi istri dan anak-anaknya. Walaupun dikatakan ‘Ibu adalah guru pertama bagi anak’ , tapi ayahlah kepala sekolahnya.
Memanfaatkan ramadan dengan segala keberkahan yang ada didalamnya menjadi waktu yang paling tepat untuk membangun kekuatan dan ketahanan keluarga.
Kebersamaan dengan keluarga akan sangat mudah diwujudkan di dalam bulan ramadan. Salah satu makna keluarga adalah kebersamaan, bukan sekedar tinggal bersama dalam satu rumah, tapi bersama-sama tinggal untuk saling mencintai, menyayangi, mendukung, menghormati, menghargai dan mengingatkan satu sama lain dalam satu atap.
Sekecil apapun momen kebersamaan dengan keluarga, seperti bersama-sama menyiapkan buka puasa, atau menyiapkan makan sahur akan memberi dampak penguatan bagi individu yang tinggal di dalamnya, sehingga akan terbangun ketahanan keluarga di dalamnya.
Wallahu’alam
Jakarta, 5 Ramadan 1445 H